Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Bab 31


__ADS_3

Sesampainya Ratih di dapur melihat suaminya tengah membuat sarapan pagi, Aska yang melihat sang Ayah sangat senang, kakinya bergerak-gerak dan tangannya terentang sambil memanggil. "Ayah, ayah."


Bara langsung menoleh pada sang putra dan tersenyum. "Sudah bangun sayang?" tanyanya


"Cudah aku mau Ayah," jawab Aska dengan logat cadelnya.


"Ayah, tinggalkan saja, biar aku yang meneruskan, Aska dari tadi mencarimu," kata Ratih pada suaminya.


Melihat sang putra merentangkan tangannya sambil kedua kalinya menjejak-jejakkan ke bawah jadi merasa tidak tegah dia meninggalkan masakannya dan meraih sang putra dari gendongan ibunya.


Ratih pun mengambil alih pekerjaan Bara yang sedang membuat nasi goreng sebagai sarapan paginya.

__ADS_1


Bara mulai bercengkrama dengan putranya sambil melihat sang istri sedang memasak, tak lama kemudian, nasi goreng pun jadi, Ratih menyiapkannya ke dalam dua piring dan meletakkannya di atas meja lalu membuat kopi untuk sang suami setelah selesai semuanya dia pun menyusul suaminya yang sedang berada di ruang bermain sang putra.


"Ayah makan dulu saja biar Aska bersamaku," kata Ratih pada suami.


Bara pun meninggalkan sang putra bersama istri, dia keluar dari ruangan itu dan sarapan sendiri, apa boleh buat kali ini dia menikmati sarapan tanpa sang istri karena wanita itu tengah mendampingi sang putra bermain.


...----------------...


Di Indonesia di kediaman Haidar, Vino dengan mood yang masih jengkel pada Ayah dan sang kakak beranjak dari duduknya di atas bibir ranjang, berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Vino menghampiri lelaki paruh baya itu dan duduk di sebelahnya lalu mengambil rokok dan menyulutnya, asap mulai keluar dari mulut dan hidungnya. Haidar menghela nafas kemudian menoleh ke arah putranya.

__ADS_1


"Sejak kapan kau merokok?" tanya sang Ayah.


"Sejak kehilangan Gloria, tetapi Ayah tidak perlu kawatir aku hanya merokok saat pikiranku kacau," jawab Vino pada sang Ayah


"Kenapa, kamu berubah pikiran?" tanya sang Ayah.


"Tidak hanya saja sedih jika melihat Ayah seperti ini, saat aku akan pergi, Ayah tolong ijinkanlah! Ketika aku telah bisa mengatasi hatiku dan bosan dengan petualangan ku aku akan kembali dengan Vino yang berbeda dan akan siap menggantikan mu meneruskan perusahaan yang telah ayah rintis," kata Vino sambil menyesap rokoknya kembali, asap keluar dari mulut dan rongga hidungnya berterbangan di tiup angin.


"Benarkah? Kau tidak berbohong bukan?" tanya sang Ayah dengan tatapan mata yang berbinar.


"Ya, jadi tolong ijinkanlah dan doakan aku pulang dalam ke adaan baik-baik saja," kata Vino sambil menatap sang Ayah.

__ADS_1


"Baiklah, aku ijinkan dan jaga dirimu baik-baik, yaa," kata Haidar kembali.


Hari semakin sore, dua pria yang berbeda usia itu menikmati senja di sore hari dengan sepuntung rokok yang ada di tangannya, tak ada pembicaraan lagi, mereka memilih diam dengan segala pemikirannya sendiri-sendiri, sambil menatap sang surya yang perlahan tenggelam dan suara adzan mulai terdengar di rungu mereka.


__ADS_2