
Tidak jauh dari tempat kami duduk banyak rerumputan dan dedaunan liar dia mulai mengambil dan menjelaskan padaku tumbuhan apa itu dan di gunakan untuk apa, kami terus mencari hingga sinar matahari mulai meredup, kamipun membawa pulang beberapa jenis dedaunan dengan kantong plastik yang memang sudah di siapkan Ica dari tadi.
"Ternyata kau memang berniat mencari tumbuh-tumbuhan ini sejak tadi ya," kataku terkekeh saat dia mengeluarkan kantong plastik.
"Iya, jadi kalau kakak tadi tidak ikut aku juga akan tetap mencari dedaunan ini, sebelum kak Nita pulang kami sudah berfirasat akan terjadi sesuatu pada keluarga kami, itu sebabnya kami juga membuat ramuan obat dari dedaunan ini, dan membawanya dalam pelarian kami, semoga kak Cahaya baik-baik saja," gumamnya lirih kemudian.
Belvi mengelus punggung ica lembut sekedar menguatkan hatinya. Setelah dirasa cukup mereka pun pulang.
Mereka pun masuk kembali dengan merangkak melalui lobang kecil.
Setelah sampai mereka bergegas mandi di telaga di mana ada ceruk batu sebagai pemisah ruangan yang di gunakan untuk berkumpul. Kemudian mereka melanjutkan dengan sholat ashar lalu Ica mulai memisahkan di keempat bagian dan menumbuknya sampai halus.
__ADS_1
Dua ramuan telah jadi dan waktu magrib telah tiba, mereka berhenti sejenak mereka pun mulai menyalahkan tungku perapian di sudut ruangan tidak terlalu terang akan tetapi mampu memberikan sedikit penerangan yang remang-remang di dalam gua itu.
beberapa oncor yang terbuat dari bambu ada di sana akan di nyalakan jika membutuhkan penerangan. Namun itu tidak di lakukannya sebab akan menimbulkan kecurigaan, untuk mengatasi kegelapan mereka menggunakan kacamata khusus yang gunanya selain untuk berjalan di kegelapan juga digunakan untuk mendekati musuh, dan hewan buas.
Selasai sholat isya Vino menemui Belvi secara khusus.
"Yang akan kau lakukan itu sangat berbahaya, pertimbangkanlah, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, bagaimana nanti jika kakakmu bertanya padaku dan memarahiku karena tidak bisa menjagamu dengan sangat baik," kata Vino menatap Belvi.
Belvi menghelah napas dan memutar bola matanya ke atas.
Tak seberapa lama kemudian Ica memanggilku.
__ADS_1
"Kak kita di suruh berkumpul kembali ada yang harus di bahas lagi untuk mematangkan rencana kita," jelas Ica pada Belvi.
Belvi pun bangun dari rebahannya dan berdiri lalu berjalan mengikuti Ica yang berjalan di depannya menuju tempat dimana kami berkumpul untuk membahas rencana misi ataupun yang lainnya.
Semua sudah berkumpul dan duduk di atas terpal plastik. Dokter Ara dan Dokter Lia mulai membahas rencana mereka pada saat di sana.
"Apakah kau yakin dengan rencana itu, ini sangat berbahaya untukmu, kamu itu cantik Ra, pasti akan menjadi sasaran bagi mereka," kata Adam, saat Dokter Ara memutuskan untuk merias wajah untuk lebih cantik agar menjadi pancingan buat mereka.
"Ini harus kulakukan agar bisa menyusup lebih dalam lagi, ku dengar, pemilik rumah sakit itu mempunyai anak lelaki yang tampan, mungkin aku bisa menggaetnya dan bisa menjadikanku sebagai kekasihnya," kata Dokter Ara membuat bripka Adam menghembuskan nafas kasar.
Rasa cemasnya, tidak bisa di sembunyikan pada wanita yang di sukai, dia akui memang jika Ara harus melakukan trik ini. Akan tetapi membuat wanita yang di cintainya berada pada situasi yang sangat berbahaya, membuat jantungnya seakan mau berhenti tetapi ini tugas harus di laksanakan dengan baik.
__ADS_1
"Baiklah, jaga dirimu dengan yang sebaik-baiknya," kata Bripka Adam tulus.
"Jangan kawatir aku akan menjaga diriku sendiri dengan yang sebaik-baiknya," kata Dokter ara sambil tersenyum manis.