
Ratih hanya bisa menatap handphonenya, saat vino menutup perbincangannya Secara sepihak, dia mendesah perlahan lalu kembali mencoba melakukan panggilan kembali, tak ada sambungan membuatnya resah.
Bara yang tidur di sebelahnya merasa terganggu, karena dari tadi sang istri mengeluarkan suara decakan lalu melakukan panggilan berulang kali.
"Ada apa, Bun, ini masih dini hari loh?" tanya Bara pada sang suami.
"Iya, di sini masih dini hari tapi di sana sudah sore hari hari aku sedang menasehati anak itu agar mengurungkan niatnya untuk menjadi polisi kriminal, hanya dia seorang saudaraku, Yah," jawabnya pada suaminya
__ADS_1
"Bun Vino sudah dewasa dia sudah bisa memutuskan apa yang perlu di putuskan, kita tidak bisa menghalangi keinginannya Bun," kata Bara pada istrinya.
"Setidaknya dia dengarkan dulu nasehatku bukan main tutup telpon begitu saja," jawab Ratih dengan tatapan sedih.
Bara terkekeh. Dia memeluk sang istri. "Itu tandanya dia sedang tidak ingin menerima nasehat apa pun, lebih baik kamu doakan dia dalam ke adaan baik-baik saja, jika kau memaksa, dia akan semakin lari dari mu dan bahkan tidak mau menerima telepon mu, kenapa? Pasti dia sudah menebak bakal di kasih ceramah sama kakaknya," lanjut Bara.
"Ya sudah dari pada kesal terus sama adik kamu yang sekarang lagi gak mau di ganggu, kita sholat subuh yuk Bun, itu suara adzan sudah berkumandang," kata Bara sambil turun dari ranjang, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. setelah lima belas kemudian, Bara keluar dari kamar mandi dan berganti Ratih yang masuk kedalam kamar mandi, 30 menit kemudian dia pun keluar dengan balutan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya di atas dada dan sebatas pahanya. Dia berjalan di walk in kloset dan berganti pakaian lalu mengambil mukena dan menggelar sajadah di belakang Bara dan. tak lama kemudian, mereka pun sholat subuh berjamaah.
__ADS_1
Saat selesai salam terakhir terdengar tangisan Aska yang sudah hampir dua tahun usianya.
Ratih segera melepaskan mukenanya dan akan melipat dengan cepat, namun Bara melarangnya.
"Biarkan saja Bun, di situ! Biarkan Ayah yang lipat! Cepat lihat putra kita sedang apa?!" perintah Bara pada istrinya itu.
Ratih menurut segera meletakan mukenanya di atas sajadahnya lalu berjalan menuju arah kamar tidur sang putra dia pun melewati pintu sambung di kamar terlihat sang anak sudah berdiri di depan pagar pembatas ranjangnya sambil menangis. Ratih bergegas menghampiri sang putra dan mengecek popoknya ternyata sudah penuh dia pun mengganti dengan popok yang baru, lalu menggendongnya terdegar celotehan sang anak. "Bun-bun, Ayah mana?" tanya sang putra.
__ADS_1
"Ayah ada di kamar, yuk ke kamar," ajak Ratih sambil merentangkan tangannya pada sang deng kekehan lucu bocah kecil itu menyambut tangan sang bunda, dan ratih segera menggendongnya dan menurunkannya di lantai dengan sangat senang Aska berjalan menuju kamar sang ayah sambil tertawa, menunjukkan gigi yang masih tumbuh dua diatas, saat melihat sang ayah tidak ada di kamar, tawa bocah itu menghilang menoleh ke bundanya dan menatap dengan tatapan tanya terlihat bibirnya mencebik dan kemudian menangis, Ratih segera menggendongnya kembali, sambil berteriak," Ayah! Di cari Aska. sambil berjalan menuju dapur.