Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Panik


__ADS_3

Hari berjalan dengan cepat tak terasa Belvi sudah satu bulan melatih ketangkasannya. Sore itu dia kembali mengemudikan motor sportnya dengan kecepatan tinggi di area sirkuit.


Setelah melakukan 10 putaran dengan menguasai keseimbangan yang bagus dia pun berhenti di depan Natan dan Laura yang berselebrasi dengan ciuman, membuat Belvi jengah sementara Roan dan Jevelin asik dengan kegiatan mereka yang saling bermesraan.


Belvi tidak memandang hal itu aneh karena dia hidup di negaranya yang free, bahkan memakai pakaian minim di tempat umum sudah lah biasa tetapi setelah dia menjadi menjadi mualaf, pemandangan awalnya hal yang biasa menjadikan sesuatu yang tidak enak di pandang, seolah dia harus bertanggung jawab untuk memberikan nasehat buat mereka, nasehat yang sifatnya frontal akan membuat mereka semakin ilfil, itu sebabnya dia berfikir bagaimana memberi tahu dengan tidak menggurui mereka.


"kamu, gak punya perasaan, yaa, sama aku, masak kalian begitu pas melatih aku sih?" protes Belvi pada Natan dan Roan


"Emang kenapa, Vi, ini kan sudah jadi pemandangan mu sehari-hari dulu," jawab Natan.


"Dulu iya, tapi sekarang jadi beda saja rasanya gak yaman aja lihat kalian begitu," kata Belvi.


"Bagaimana lagi, Vi, aku gak bisa jauh-jauh dari laura, dua jam itu lama loh, Vi, cuma lihat kamu putar-putar melulu bosan lah Vi," kata Natan terkekeh.


"Setidaknya waktu kalian itu melakukan saat tidak ada aku disini, kalian suka dan cinta gak sih sama pasangan kalian?" tanya Belvi.


"Ya cinta lah, Vi, kalau gak cinta ngapain cium-cium segala," kata Natan dan Roan bersamaan.


"Cuma itu doang?" tanya Belvi.


"Ya Enggak lah, tuh kayak Roan biasanya cuma gak enak sama kamu saja lagian di sini sepi loh, Vi," kata Natan terkekeh.


"Ada rencana menikah gak sih, kalian? Wow!" teriak Belvi pada Roan yang lagi asik dengan Jevelin dan tak menghiraukan Belvi, sedangkan Natan, dan laura yang hanya tertawa saja melihat tangan Roan masuk merayap di dalam pakaian Jevelin sambil berciuman.


"Apaan sih Vi, berisik amat, sudah latihan?" tanya Roan tanpa menghentikan aksinya itu.


"Sudah, Aku tanya kalian punya rencana Nikah, tidak?" tanya Belvi pada Roan.


"Punya lah tapi sekarang kita kan masih sekolah, mana mungkin di ijinkan," kata Roan.


"Ya begitu kalian lulus, nikah deh, kalian. Gue ngeri lihat kalian pacaran seperti itu," sahut Belvi.


"Maunya gitu, si Vi, Elinnya gak mau katanya takut kalau sudah nikah gue bosan terus ninggalin dia, padahal enggak," kata Roan menatap lekat pada Javelin dan menghentikan kegiatannya yang menyenangkan itu karena tidak enak dengan tatapan tajam dari Belvi.

__ADS_1


"Tuh, Lin, dia sudah punya komitmen ke kamu, tunggu apa lagi dari pada kalian mencetak dosa setiap hari mending kalian nikah," kata Belvi.


"Lo, pantas jadi polwan," celetuk Jevelin tiba-tiba


Belvi tertawa. "kenapa tiba-tiba bilang begitu?" tanya Belvi


"Tatapan lo tajam, si Roan berhenti ngerjain gue karena itu, kaya si Vino dia kan mau jadi polisi kriminal," kata Jevelin sambil tertawa, membuat Belvi terkejut dan terperangah.


Di saat Belvi masih terpaku dan seolah tak percaya dengan pendengarannya tadi. Apa benar Vino ingin menyusul kakaknya dengan tugas-tugas yang di embannya itu, pikirnya.


Telpon Natan berbunyi, dan segera menerima panggilan itu yang ternyata adalah Vino.


"Apa, Vin?" tanya Natan di sambungan telepon sambil melihat ke arah Belvi.


"Kamu di sirkuit, aku kesana, yaa?" tanya Vino pada pada Natan.


"Kamu di mana?" tanya Natan.


"Kalau begitu jangan masuk dulu, sebelum aku suruh masuk," kata Natan.


"Kenapa?" tanya Vino.


"Itu, si Rion lagi begituan, gak enak aku sama kamu dan Rion, si itunya akan kelihatan sama kamu," kata Natan sambil melihat Rion yang menatap tajam padanya dan Natan pun berusaha untuk menahan ketawanya karena harus Rion lah yang menjadi alasan agar Vino tidak segera datang menghampiri mereka.


"Seperti Gak ada tempat saja," kata vino yang terdengar oleh Rion, Jevelin dan Belvi karena di load speaker oleh Natan.


"Aku tutup dulu yaa, Dia lagi benahi baju ceweknya kamu tahu sendiri kan gimana ganasnya dia, nanti ku hubungi lagi kalau dia sudah selesai," katanya lalu menutup telponnya dan tertawa terpingkal-pingkal.


"kamu ngapain cuma bengong disitu saja, Vi, Ayo sembunyi Vino ada di depan," kata Natan


"Ehh, iya, aku sembunyi di mana?" tanya Belvi bingung.


"Sembunyi di balik gedung itu, Vi," kata Natan menunjuk sebuah bangunan yang di gunakan untuk para pembalap beristirahat sehabis latihan.

__ADS_1


"Belvi, yang panik segera melangkah kaki ke bangunan itu dan Natan pun terbegong sesat, begitu sadar dia pun berteriak pada Belvi, "Aduh! Kapan sampainya kalau kau jalan, Vi? Bawa motor mu juga helm, tunjukkan kemampuanmu!" kata Natan yang sedikit kesal karena kelakuan Belvi yang akan menjadi tampak konyol ketika dia panik.


"Ehh, Iya, Kenapa aku lupa kalau aku bawa motor yaa," katanya terkekeh


Dia pun berlari menuju motornya lalu menaikinya dan memakai helmnya.


"Hati-hati Vi jangan panik kamu bisa jatuh malah gak jadi sembunyi," celetuk Roan sambil tertawa.


Belvi mengacungkan ibu jarinya lalu meluncur dengan cepatnya menuju bangunan yang agak jauh dari lintasan sirkuit.


"Lo kusut-kusutin baju Jevelin deh, An, biar keliatan sungguhan," kata Natan,


tanpa menunggu lama Roan pun beraksi membuat Jevelin terbengong melihat dua orang pada bertindak konyol dan seenaknya saja. Setelah dia sadar, Jevelin memukul dada Roan. "Kenapa harus kamu? Aku juga bisa kusutin pakaianku sendiri, Roan!" teriaknya dengan kesal.


"Jangan! kalau kau yang kusutin sendiri, jadi pengen itu sungguhan, apalagi kalau modenya slow motion, bisa gak kuat aku Lin," kata Roan terkekeh dan mendapat sambutan cubitan di perutnya oleh Jevelin.


Roan tertawa sambil memeluk gadis itu sementara itu Natan sedang mengirim pesan saat Belvi sudah tak terlihat lagi.


Tak lama kemudian terlihat motor Vino dari kejauhan meluncur dengan cepat menghampiri mereka.


Kalian ke sini cuma mau gituan?" tanya Vino sinis.


"Ingin sensasi yang lain Vin," kata Roan sambil tertawa.


"Loh, kalian gak berempat? tas siapa itu?" tanya Vino pada mereka.


"Punya gue," jawab Laura langsung mengambil tas Belvi yang tertinggal di bawah, tas cangklong yang unik jelas bukan buatan dari sini.


Natan menghembuskan nafasnya, ketika laura menyelamatkannya dari kecurigaan Vino.


"Tumben lo bawa tas, biasanya, 'kan cuma bawa dompet dan di taruh di saku doang, Ra," kata Vino


"lo jeli amat sih lihat kebiasaan, cewek gue jangan-jangan lo ...." Kata Natan.

__ADS_1


__ADS_2