Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Bab 84


__ADS_3

Pagi harinya Belvi sudah melakukan persiapan untuk berangkat, dia mencari pakaian anti pelurunya ternyata tertinggal di rumah milik yang punya masjid. Dia menghembuskan nafas risau. 'Semoga tidak terjadi apa-apa,' pikirnya.


pisau kecil sudah dia sembunyikan dibalik celana panjangnya begitu pun pistol kecil tersemat di sana.


Dia tak membawa banyak pakaian. Hanya tiga setel pakaian yang di masukan kedalam tas punggungnya. Setelah itu, dia keluar dari dalam kamar menemui Bundanya karena sang ayah sudah berangkat dari tadi.


"Bun, Belvi berangkat doakan Belvi bisa menyelesaikan tugas ini," ijin Belvi pada Naila.


Naila memeluk putri sambung itu. "Apa kau tidak bisa mundur dari tugasmu ini, Vi, entahlah hatiku rasanya tidak enak, berat untuk melepaskan mu."


"Doakan saja Bun, agar aku selamat menjalankan tugas ini lagi pula ada Vino Bun, dia sudah memesan tiket pesawat yang sama dia akan selalu mengawasi kami Bun, Lagi pula ada yang harus ku selamatkan Bun, rasanya gak tega jika dia harus ditipu mentah-mentah, dijadikan penjajah cinta di restoran itu karena merasa sudah kotor, padahal tuan Beril lah yang menjadikan mereka kotor dengan tipu muslihat," jawab Belvi.


"Baiklah Bunda akan mengijinkan mu, dan selalu berdoa untuk kebaikanmu, Bunda juga seorang wanita tidak akan rela melihat kejahatan di depan mata Bunda," kata Naila.


Di sela percakapan mereka terdengar bunyi klakson mobil.

__ADS_1


"Trimakasih, Bunda, Belvi berangkat, Vino sudah menjemput," pamit Belvi pada Bundanya. Setelah itu dia berjalan keluar rumah, terlihat mobil hitam siap menunggunya.


Dia pun berjalan menuju mobil dan membuka pintu serta duduk di sebelah Vino. Dia menoleh pada pria yang menyamar menjadi seorang pria paruh baya driver taksi online yang sering mengantar jemput dirinya.


"Apa kau akan menyamar seperti ini? Bukankah tuan Beril sudah mengenali wajah ini?" katanya pada Vino.


"Nanti setelah mengantarkan mu, ke Bandara maka akan ku rubah penampilanku, jika sekarang ku rubah dan bertemu tuan Beril dengan secara tiba-tiba jelas dia akan curiga padaku," kata Vino.


"Benar juga apa yang kau katakan, ya terserah kau sajalah," jawab Belvi sambil tersenyum.


Vino mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Bandara, tak ada percakapan antara mereka, keduanya sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Belvi dengan baju anti pelurunya yang tertinggal di rumah orang sedang Vino dengan keselamatan Belvi sendiri bahkan mereka tidak Medan seperti apakah yang harus dilalui.


Belvi berjalan menuju ruangan tunggu, terlihat, Vivi dan tuan Beril menunggu. "Nah itu dia yang telah kita tunggu," seru Beril.


"Kenapa lama sekali?" tanya tuan Beril.

__ADS_1


"Maaf, biasa, si mbok nangis dulu," kata Belvi pada mereka.


"Ya, sudah kalau begitu ayo kita ke pesawat lima belas menit lagi pesawat akan tinggal landas, bukan kah kita tak ingin terlambat," kata Beril kepada mereka.


"Baik, Pak,"jawab Belvi pada Beril.


Mereka pun berjalan keruangan pemeriksaan, setelah antrian yang sangat panjang akhirnya mereka melewati pemeriksaan lalu berjalan menuju pesawat. Begitu pula dengan Vino, habis mengganti samarannya segera dia menyusul Belvina.


Vino melewati ruang pemeriksaan lalu berjalan di pesawat yang sama dengan mereka, lalu masuk kedalam pesawat dan duduk di belakang Belvi dan temannya.


Sementara Beril duduk di kursi depan Ruri dan Vivi.


Tak lama kemudian pesawat tinggal landas, Vivi terlihat sangat ketakutan karena tidak pernah naik pesawat sama sekali.


Ruri menggenggam tangan gadis itu agar lebih terlihat relax dan tak lama kemudian terbang dengan tenang membuat Vivi tenang.

__ADS_1


"Oh begini ya, naik pesawat awal-awalnya sangat menakutkan, Mbak Ruri kok gak keliatan takut ya, sepertinya sudah sering naik pesawat," tanya Vivi.


"Enggak juga mbak, saya juga takut buktinya saya pegang tangan Mbak, biar hati saya terasa tenang," kata Ruri pada gadis itu


__ADS_2