Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Jangan Lupa Janjimu, Nak


__ADS_3

Albert menatap putrinya, ia sudah mengira jika Belvi melakukan hal yang senekat itu karena gadis itu mulai mempunyai ketertarikan kepada pria itu.


waktu sudah menunjukkan jam tiga sore mereka memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu karena harus menjemput sang Bunda terlebih dahulu.


.


.


Keesokan harinya setelah sarapan Albert dan Naila mengantarkan Belvi ke tempat pendidikan yaitu Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri Markas Sepolwan berada di Jl. Ciputat Raya No.41, Lebak Bulus, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.


Setelah memasukan tas ransel milik Belvi, mereka masuk kedalam mobil dan dengan kecepatan sedang Albert mengemudikan kendaraannya itu.

__ADS_1


Sekitar 30 menit perjalanan, maksudnya mereka sampai di tempat pelatihan Belvi. Gadis itu pun mencium punggung tangan kedua orang tuanya, Albert mencium kening anak gadis satu-satu itu sambil berpesan,"Jaga diri baik-baik, sayang."


Belvi tersenyum dan keluar dari mobil lalu berjalan kearah belakang mobil dan membuka pintunya untuk mengambil tas ranselnya yang ada di bagasi mobil setelah itu, ia pun menutupnya kemudian dia berjalan kembali ke arah Jendela kaca yang terbuka dengan melambaikan tangannya, dan kendaraan itu pun pergi meninggalkan gadis itu yang masih berdiri di sana.


Belvi menatap mobil itu dengan perasaan yang tidak bisa di gambarkan, setelah kendaraan itu benar-benar jauh dan menghilang di pandangan matanya baru dia melangkah memasuki area pelatihan.


Begitu pula dengan Vino, setelah sholat subuh berjamaah di masjid Haidar bergegas pergi ke dapur untuk membuat masakan yang di sukai sang putra, yaitu nasi goreng cumi-cumi pedas, ini adalah spesial buat sang putra agar tidak lupa dengan apa yang telah dijanjikannya kemarin sore padanya karena dengan memakan hidangan yang dimasaknya sendiri berharap sang putra selalu ingat dirinya pula.


Setelah selesai, Haidar mengambil dua buah piring dan meletakkan nasi goreng diatasnya, lalu meletakan di meja kemudian dia menyeduh dua cangkir kopi di saat air yang direbusnya mulai mendidih dan kembali membawanya ke meja makan.


Mereka berdua makan dengan tenang, Haidar pun tak ingin membahasnya kembali, setelah selesai dengan sarapan paginya, dan menghabiskan kopi buatan sang Ayah Vino membawa tas ranselnya dan menaruhnya di dalam bagasi lalu dia menyusul masuk dan duduk di sebelah Haidar dan mobil itu berjalan dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Setelah 30 menitan mereka pun sampai di tempat pelatihan sang putra yaitu Sekolah Pendidikan Kepolisian Negara Polda Metro Jaya.


Mobil itu pun berhenti di sana, Haidar menoleh pada sang putra. "jangan lupa janjimu, Nak."


"Tentu Ayah aku tidak akan lupa, jangan khawatirkan aku, doakan saja yang terbaik," kata Vino sambil mencium punggung sang Ayah setelah melepaskan sabuk pengamannya.


Vino pun keluar dan berjalan ke arah belakang mobil lalu membuka pintu bagasi dan mengambil tas ranselnya kemudian menutupnya kembali.


Vino berjalan kembali ke depan mendekati jendela yang terbuka lalu mengucapkan salam pada sang Ayah serta menjauhkan jarak sambil melambaikan tangannya kearah sang ayah.


Haidar melambaikan tangannya dan menutup jendela kacanya lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan tempat itu dengan hati yang gamang.

__ADS_1


__ADS_2