Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Bab 21


__ADS_3

Sore harinya Belvi sudah bersiap untuk pergi diarea sirkuit, Dia memakai celana jins dan dan tunik sepanjang lutut dan jilbab senada, awal dia menjalankan motornya dengan kecepatan sedang lalu mulai menambah kecepatan sedikit demi sedikit hingga kecepatan maksimum, dia pun sampai di sirkuit teman lama yang dulu pernah satu sekolah dan sama-sama menekuni hobi sama yaitu balapan sedang menunggunya dia berhenti tepat di sebelah motor temannya itu, memarkirkannya lalu menaruh helmnya dan menoleh pada seseorang pria yang duduk di atas motornya.


"Nathan, 'kan?" tanya Belvi


"Iya, kamu siapa?" tanya pria itu.


"Kau tak mengenaliku?" tanya Belvi kembali


"Siapa?" tanya pria itu sambil mengerutkan keningnya.


"Aku, Belvi," jawab Belvi


"Kamu! Belvi ... benarkah?" tanyanya sambil tatapan matanya menyapu penampilan gadis itu dari atas sampai bawah.


"Kau mualaf? Sejak kapan dan bagaimana ceritanya? Ayo katakan padaku!" tuntut Natan pada Belvi.


"Lalu bagaimana aku latihan? Jika aku kau suruh mendongeng, aku sudah tidak mengemudikan motor sejak aku terjatuh tiga tahun yang lalu, loh," kata Belvi.


"Itu gampang, sebenarnya aku punya teman yang lebih handal dari penguasaan keseimbangannya sangat baik, namanya Vino, jika kau aku akan memperkenalkan kamu dengannya," kata Natan dengan sangat serius untuk membantu Belvi kembali menekuni hobinya itu.


"Jangan! Jangan dia dan jangan kau katakan padanya aku bisa mengendari motor sport!" pinta Belvi pada Natan.


"Kenapa memangnya?" tanya Natan.


"Dia itu teman sekelas ku, dia gak suka sama aku, hehehe. Tapi kalau aku bilang begini sama kamu, jangan bilang sama dia! jadi susah nanti," kata Belvi.


"Hahaha! Ya aku ngerti dia memang anti cewek sih tapi dulu gak gitu anaknya, dulu suka sekali latihan di sini, tapi setelah pulang dari Boston, dia berubah total," kata Natan pada Belvi.


"Ok! sekarang latihan 3 putaran dulu, habis itu kau harus cerita kenapa kamu bisa jadi mualaf? Sebab aku penasaran sekali, kau dulu hampir seperti Vino yang sekarang, gak takut apapun," kata Natan, Belvina hanya bisa tertawa saat Natan mengisahkan dirinya yang dulu.

__ADS_1


Belvi sudah menaiki motornya Natan pun mulai menyetel durasi waktunya, begitu Belvi melihat tanda dari Natan ia pun mulai melajukannya motornya.


Belvi melakukan tiga putaran, dan mampu melewati belokan tajam dengan baik namun dia merasa belum semaksimal dulu Rasa takut akan kejadian tiga tahun yang lalu masih mendominasi dirinya. Dia berhenti tepat di depan Natan.


"Masih jauh dari target Bel," kata Natan.


"Iya aku tahu, selama tiga tahun aku gak pegang motor, Tan. Namun, kalau mobil aku masih mampu untuk memenuhi target," jelas Belvi pada Natan.


"Ayo jelaskan padaku! kau punya hutang penjelasan denganku," tuntut Natan.


"Ok, kau sekarang makin cerewet saja, lama tidak bertemu dengan mu, aku jadi tidak mengenalimu, kau makin banyak bicara sekarang, dulu kalau aku tak mengajak mu bicara kau hanya diam saja," kata Belvi sambil terkekeh.


Aku mungkin tertular oleh teman-temanku di sini Vi," jawab Natan sambil tertawa lalu mulai menyimak apa yang di tuturkan oleh Belvi.


"Sebentar, aku sepertinya perna dengar nama itu, dimana yaa?" Kenapa aku lupa seperti familiar sekali ada yang menyebut nama itu, seperti Vino deh, Vi. Ya salam ... benar Vi, Vino aku ingat waktu dia cerita kalau dia ingin sekali pindah ke Boston meneruskan SMU-nya di sana karena pujaan hati ada di sana, dan menyebut nama itu,"


"Jadi dia sudah meninggal, di hari kalian bertemu? Aku turut Sedih, Vi. Apakah itu yang membuatnya berubah dratis semacam ini?" tanya Natan.


"Aku yakin ia tidak sepenuhnya membenci," kata Natan.


"Entahlah, Tan. Aku juga tidak tahu, tapi ku harap kau menyimpan ceritaku ini yaa, jangan kau sampaikan pada Vino, Apakah kalian dekat?" tanya Belvi pada Natan.


"Kami bersahabat, aku, Roan dan Vino," jawab Natan namun setelah kepulangannya dari Boston sekitar satu tahunan yang lalu dia berubah. Aku janji pada mu, Vi, lagipula dia tidak pernah bercerita tentang masalahnya ke kami ku kira hanya putus biasa, ternyata seperti itu adanya," jawab Natan.


"Ya, kalau begitu aku pulang, besok latihan lagi di sini jangan bosan kalau sering ketemu denganku," kata Belvi.


"Tentu, aku tak akan bosan tapi besok aku akan datang dengan Laura, Jevelin dan Roan tidak apa-apa, 'kan?" tanya Natan.


"Laura? Apa kau dan dia ...?" tanya Belvi

__ADS_1


"Hahaha, kau tahu saja," kata Natan


"Boleh, tapi jangan ciuman di sini yaa, bisa salah fokus kalau aku lihat kalian lagi begitu," kata Belvi


"Hahaha, aku gak bisa jamin, Vi, jika situasinya mendukung, anggap saja melalui rintangan pertama," kata Natan.


"Ahh, Asem kamu, Tan!" kata Belvi sambil menaiki motornya dan mengenakan helmnya, lalu meluncur meninggalkan Natan yang tertawa karena umpatan sahabatnya itu.


Belvi melajukan motornya dengan kecepatan sedang karena dia belum sembuh sepenuhnya dari traumanya namun demi untuk bisa mengikuti jejak Vino.


Setelah lima belas menit perjalanannya Belvi sampai rumah ia pun memasukan motornya ke garasi lalu berjalan masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian setelah itu bergegas ke dapur untuk memasak menu makan malam, terdengar suara Adzan magrib saat dia selesai memasak menu makanan sore ini dia kembali berjalan ke arah kamarnya untuk menunaikan ibadah sholat magrib.


Tak lama kemudian terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah, Belvi berjalan keluar menyambut sang ayah, ia segara mengambil dan mencium punggung tangan ayahnya.


Dia mengambil alih tas ayahnya untuk di bawa ke ruang kerja, setelah itu membuatkan secangkir kopi dan coklat hangat untuk ayah dan dirinya serta di letakan di meja makan.


"Dadd, aku melihat sesuatu yang lain dari Daddy," kata Belvi


"Lain bagaimana Daddy biasa saja kok," kata Albert pada Putrinya


"Lebih ada Aura kebahagiaan gitu," kata Belvi sambil meneliti wajah Ayah


Albert tertawa mendengar pujian sang anak, sambil meminum kopi panasnya yang sudah tak terlalu panas itu.


"Apa Daddy jatuh cinta?" tebak Belvi


Albert tertawa lagi. "kau bisa saja, Vi," jawab sambil menatap sang putri lekat.


"Ayo lah, Dad, cerita padaku siapa gerangan yang mengusik hati Daddyku tercinta itu,"

__ADS_1


"Nanti yaa, sekarang ambilkan dulu makanan buat Daddy, sudah tidak sabar mencicipi masakan putri Daddy ini," kata Albert sambil tersenyum.


__ADS_2