
Vino menyuruhnya berbaring di atas lantai toilet dan mengeluarkan kotak pengobatan, dalam hal darurat mereka dilatih untuk mengeluarkan peluru dan menjahit luka sayatan atau tembakan.
Vino menyerahkan satu kemejanya untuk digigit saat dia harus menjahit luka Belvi.
"Ini gigit lah agar kamu tidak merasa sakit, maaf aku harus membukanya," kata Vino dan Belvi hanya mengangguk.
"Kenapa kau tidak memakai pakaian anti peluru dan senjata tajam kau sungguh ceroboh Vi," katanya sambil terus menjahit luka Belvi.
"Ini adalah terakhir dari tugas kita, setelah kasus ini selesai kita keluar dari kesatuan aku akan meneruskan usaha ayahku dan kau menjadi nyonya Vino Albinara, Kau tidak boleh menolaknya karena ku tahu kau telah menyukaiku lebih lama dari aku yang baru menemukan hatiku ternyata untuk mu," kata Vino pada Belvi.
"Apa kau tengah melamar ku, Vin? Benar-benar tidak romantis," kata Belvi sambil mencebikan bibirnya.
__ADS_1
"Vino, terkekeh. "Harus ku lakukan sekarang agar kau tak lagi lari dariku Vi, aku tak ingin kehilangan dirimu sungguh," katanya sambil menatap sendu Belvi.
Setelah selesai menjahit dan mengobati serta membalut dengan kain kasa luka sepanjang sepuluh senti itu Vino mencuci tangannya lalu menyuruh Belvi berganti pakaian, kemudian dia menaruh semua pakaian pada ranselnya.
sementara di luar terdengar gedoran pintu dan beberapa orang menyuruh untuk membuka pintu tersebut. Vino menyapu semua ruangan mencari celah untuk bisa lari dari ruangan itu terlihat jendela kaca yang berada di samping ruangan, ia mengambil beberapa barang untuk penahan pintu agar tidak terbuka sebelum waktunya Kemudian menyangkut tas ranselnya di pundaknya.
Vino memapa Belvi Vino hingga pecah berserakan lalu bersamaan mereka keluar dari ruangan itu berlari cepat menuju tempat tersembunyi di bangunan lama yang tidak terawat.
Orang -orang yang berada diluar ruangan tersebut berasil mendobrak pintu, dan terkejut di dalam sudah tidak ada orang hanya tas ransel yang sudah tidak ada isinya dan kemeja yang penuh dengan darah.
'Siapa sebenarnya wanita itu kenapa dia begitu ahli dalam bertarung, apa mereka polisi, ahh, sialan mengapa aku tidak menyadarinya sama sekali,' batin Beril sambil menatap lantai itu.
__ADS_1
"Cari mereka sampai dapat dan habisi saja jika bertemu dengan mereka, aku tidak ingin semua usahaku hancur berantakan karena gadis sialan itu," kata Beril.
"Baik tuan!" kata anak buahnya berjalan di serpihan jendela kaca.
"Tuan Beril mereka mempunya pistol, sepertinya kita berhadapan dengan seorang polisi jika memang itu kenyataannya kami mundur karena kami tidak ingin mati konyol yang hanya bersenjatakan senjata tajam.
"Apa kau tahu orang yang bisa aku mintai tolong untuk memburu dan membunuh ke dua orang itu?" tanya Beril pada anak buahnya.
"Ada tuan namanya tuan Rayan, tetapi bayarannya mahal selain uang dia minta ...." jawab anak buahnya.
"Apa?" tanya Beril menatap anak buahnya dengan tatapan serius lalu sang anak buah membisikan sesuatu pada Beril.
__ADS_1
Tak lama kemudian dia menelpon seseorang. "Kembali dan bawa wanita itu padaku jangan hubungi Harjo dulu," perintahnya dalam telpon
"Siapa yang mengetahui dimana rumah Tuan Rayan ikut aku lainnya susuri rumah itu dan temukan jejaknya," perintah Beril pada mereka sambil berjalan keluar bersama salah satu dari anak buahnya.