
Di saat makan siang itulah kami semua mulai membahas, Bripka Adam yang punya nama samaran Yudha itu mulai berbicara di selah makan siangnya.
"Kita akan mulai beraksi besok lusa, bagaimana denganmu Ica, kamu akan pulang dulu atau bagaimana?" tanyanya pada Ica.
"Jika aku pulang dulu aku mungkin tidak dapat ikut dengan kalian untuk mencari kakakku, dan mereka akan banyak bertanya. Kak Nina tadi bilang kalau dinas kebersihan bisa leluasa untuk ke area manapun bagaimana jika aku dan kak Nina di bagian itu kami akan saling bantu jika sesuatu terjadi pada kami," jawab Ica menawarkan diri sambil menunduk.
"Sebenarnya itu sangat berbahaya untuk kalian, tetapi jika kita ingin tahu tentang ke mana beberapa gadis yang hilang itu? Apa yang terjadi pada mereka sehingga pada waktu di temukan mereka dalam keadaan gila," kata Bripka Adam pada Belvi dan Ica sambil menatap mereka bergantian, lalu melanjutkan kembali apa yang di katanya.
"ku pikir perlu mengirim kalian ke dinas kebersihan di rumah sakit, dan nanti tiga orang pria saya tugaskan di sana juga untuk melindungi kalian berdua, ku, ku harap kalian harus menyamarkan penampilan agar tidak membahayakan kalian sendiri, terutama kamu Nina," kata Bripka Adam pada Belvi.
__ADS_1
Setelah itu dia menoleh pada rekannya yang duduk di sebelahnya. "Bagaimana dengan akses kita untuk bisa keluar masuk dan bagaimana juga identitas mereka apa sudah bisa di masukan di sana, kita harus bergerak serapi mungkin," katanya dengan sangat serius
"Semua sudah di Koordinir, tinggal mereka bertiga saja, tadinya Ica di tugaskan sebagai staf kantor di sana karena rencana berubah maka di perlu nama baru yaitu Sutina saja, agar tidak menimbulkan kecurigaan," kata Rian.
"Baiklah, malam kita kembali kesini untuk mengatur siasat, dan kamu Ica, apa pun yang kau lihat di sana kau tidak boleh gegabah, akan membahayakan rekanmu, mengerti?" kata Bripka Adam penuh dengan penekanan!
"Baik, pak!" jawab Ica sambil mengangguk.
Setelah sholat duhur, Belvi menyusuri lorong gua masuk kedalam lubang kecil yang hanya bisa dilewati dengan merayap saja hingga sepuluh meteran didapatinya tanah lapang yang luas, dia lihat Ica sedang berlatih bela diri di sana padahal sinar matahari lagi terik-teriknya, Belvi bergabung memberikan beberapa trik untuk mengecoh lawan, setelah merasa lelah mereka pun beristirahat di bawah pohon.
__ADS_1
"Ceritakan padaku tentang desamu itu yang ku dengar kalau itu adalah desa terdekat di rumah sakit itu, bagaimana gadis-gadis di desamu yang tergolong cantik itu bisa hilang."
"Dulu, tepatnya lima tahun yang lalu, datang seorang pengusaha yang kaya raya, selain dia seorang pengusaha, dia juga seorang dokter bedah, itu sebabnya dia mendirikan rumah sakit itu, satu tahun kemudian kejadian aneh terjadi, gadis kembang desa, di desa kami pun hilang secara misterius, setahun kemudian dia di temukan dalam keadaan gila dan ketakutan saat seorang laki-laki mendekatinya, dia histeris. lalu ketika ibunya memandikannya ada bekas luka yang begitu panjang bekas operasi di bagian perut, lalu maaf itunya rusak seperti dipaksa melayani berkali-kali tanpa jeda, Ayah seorang yang tahu tentang tumbuhan-tumbuhan obat merasa curiga pada keadaan kak Nita, akhirnya kami membawa kerumah kami," kata Ica sambil mengusap air matanya yang mulai meleleh dan mengalir di pipinya.
"Satu bulan berikutnya Mbak Nita akhirnya sembuh, dia menceritakan pada kami apa yang terjadi pada kami, situasi yang begitu mengerikan, dia berada dirumah megah, yang setiap malamnya selalu ada pesta, hingga dua orang wanita yang berbadan kekar menggantikannya pakaian minim dan membawanya kesebuah kamar mewah, di sana dipaksa meminum minuman keras dengan campuran obat perangsang yang membuat dia dengan sukarela melayani mereka lelaki hidung belang, setiap kali pengaruh obatnya hilang mereka akan memberikannya lagi, semakin cantik semakin membuat mereka tersiksa jika sudah tidak bisa di pakai maka diapun di suntik dengan obat entah kak Nita pun tidak tahu apa itu, yang membuatnya tak sadar. Namun setelah dia sembuh ...." Ica menangis tak sanggup meneruskan ceritanya, kembali.
"Sudah jangan di teruskan jika kau tidak sanggup bercerita, aku bisa menarik kesimpulan kita harus menyamar dengan wajah yang dekil agar mereka tidak punya selera untuk menjadi wanita-wanita seperti itu," kata Belvi memeluknya dan menenangkannya.
"Mbak Nina, ayo kita mencari tumbuh-tumbuhan untuk kita jadikan obat penawar dari obat perangsang, jika kita dalam keadaan darurat, aku dan kakakku mewarisi keahlian ayahku," kata Ica setelah berhenti menangis.
__ADS_1
"Baiklah, ayo aku bantu kau membuatnya, ini mungkin kita perlukan nanti," kata Belvi mengikuti Ica yang berjalan menuju arah rerumputan liar.