
Belvi berjalan sambil melirik Vino, Vino menggeleng itu tandanya bahwa belum saatnya bertindak, Belvi tetap berjalan mengikuti Brain.
"Tuan, kenapa begitu banyak pengawal? Wong suruh bersih-bersih saja pakai di kawal banyak orang, tuan," kekeh Belvi.
"Kau itu tidak disuruh membersihkan ruangan tetapi untuk melayani Tuan besar," jawab Brain pada gadis itu.
Belvi menelan salivanya sendiri lalu tertawa. "Tuan jangan bercanda ya, saya ini jelek loh, Tuan, apa beliau gak jijik sama saya, kenapa tidak memilih mbak-mbak yang perawat itu lebih cantik mereka dari saya," kata Belvi lagi.
"Kata siapa kau Jelek, kami ini alih dalam penyamaran, kami sedang mencurigai mu, Tuan Hans sangat tahu tentang itu jadi jangan macam-macam kamu!" ancam Brain.
"Terserah Anda tuan! Apalagi Anda telah membawa pasukan begitu banyaknya, padahal Anda hanya membawa satu pelayan saja, apa saya terlalu berbahaya buat Anda dan tuan besar?" tanyanya terkekeh.
"Sudah jangan terlalu banyak bertanya dan Kenapa kamu tidak takut sama sekali? Apa memang kamu sudah siap melayani tuan besar?" tanya Brain lagi pada Belvi.
__ADS_1
"Saya sangat takut, Tuan tetapi saya bisa apa? Anda begitu banyak membawa pengawal, bernapas saja rasanya tidak bisa," kata Belvi
Akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan pimpinan rumah sakit, Brain memencet alat interkom yang terhubung ke dalam ruangan. "Saya sudah di depan, Tuan," kata Brain pada majikannya.
"Masuklah! Bawah gadis itu ke dalam!" perintah Damian lewat interkom.
"Baik, Tuan!" jawab Brain.
"Tidak apa-apa aku masih bisa bersenang-senang dengan bagaian tubuh yang lainnya, yang atas tidak kalah menarik dari yang bagian bawah," kekehnya sambil melihat Belvina dengan tatapan lapar,
"Baiklah kalau begitu saya tinggal dulu di luar sudah banyak pengawal jika terjadi apa-apa dengan Tuan tinggal tekan interkom, mereka akan segera masuk," jelas Brain pada Damian.
"Bukan aku yang terjadi sesuatu tetapi gadis itu," katanya sambil terkekeh. Dia pun berdiri dari kursi dan melangkahkan kakinya mengikuti brian menuju ke arah pintu keluar.
__ADS_1
Brain pun keluar lalu menutup pintu kemudian Damian menguncinya dari dalam. ia berjalan menuju kamar pribadinya mengambil sesuatu di dalam kamar setelah itu dia keluar dengan membawa sebotol cairan pembersih makeup dan kapas, Belvi yang duduk di sofa terkesiap. 'Ternyata dia benar-benar tahu jika aku menyamarkan wajahku, Sial bagaimana ini? Dia tidak boleh tahu dengan wajahku yang sesungguhnya, aku harus apa? Apa boleh buat aku atau Dia yang mati,' batin Belvi.
Sementara itu di ruangan Dokter Hans, pria itu tengah berbicara dengan asistennya lagi melalui panggilan telepon.
"Brain tolong siapkan makanan di ruangan ku! Sepertinya Haya belum makan apapun dari tadi pagi," kata pria itu lalu menutup telponnya lalu menatap Cahaya yang berbaring tak berdaya di ranjangnya sambil memejamkan matanya terlihat air matanya berlina di sudut mata terpejam itu.
Lelaki itu berjalan menghampiri Cahaya duduk di bibir ranjangnya lalu mengusap air mata gadis itu. "Jangan menangis, aku memang sudah mengambil hal yang paling berharga dari mu, tetapi aku juga akan mengabulkan keinginanmu. Hanya suamimu lah yang berhak mengambilnya, 'kan? Kita akan menikah esok hari, itu artinya suamimu yang mengambilnya bukan orang lain Haya," jelas Hans.
"Buka begitu konsepnya, Tuan, Anda saat ini bukan suami saya dan saya sangat membenci Anda," jawab Cahaya dengan sorot mata kebencian.
"Tidak masalah aku tidak butuh kamu suka atau cinta aku, yang terpenting aku menyukai semua yang ada padamu dan kau adalah milikku," kata Hans dengan sangat tegas sambil menatap bibir indah wanita itu lalu dia pun mulai menautkan bibirnya di sana dan menciumnya dengan sangat lembut.
Cahaya hanya diam saja tidak membalasnya. Hans menyudahinya dan tersenyum. "Besok akan ku ajarkan caranya, malam itu kau bilang, akan lebih nikmat jika kau dalam keadaan sadar bukan?"
__ADS_1