
Vino kembali melakukan panggilan pada nomor Belvi tidak ada jawaban sama sekali
"Ck," Vino berdecak
"Kamu, kemana sih?" gerutu kesal.
Sari yang melihat keresahan pria itu tidak berani bicara apapun.
.
.
Sementara di ruangan lain Yuda menatap Rania dengan sangat teduh, sedih rasanya wanitanya di hinakan seperti ini.
"Apa yang terjadi, katakan padaku!"
"Kau tahu perusahaan Ayahku mengalami masalah lalu aku di jodohkan dengan Beril, suatu hari dia mengajakku untuk Healing di suatu pulau, katanya pulau sangat indah dan aku percaya, maka kami pun pergi ke sana. di perjalanan di sana tiba-tiba mobil kami di hadang beberapa beberapa orang bersepeda Beril di pukuli dan aku di sebuah perkampungan terpencil, aku di dandani seperti layaknya seorang pengantin dan di arak menuju gua dekat air terjun dan aku di paksa untuk minum air suci yang ada di bambu dan aku tak sadarkan diri." Rania terus bercerita dan Yuda terus mendengarkannya.
"Bagaimana caranya agar kamu lepas dari Beril? Katakan padaku Rania!"
"Aku harus membayar sejumlah uang sebesar lima Miliar, ku dapat dari mana uang sebesar itu Mas Yud?" jawab Rania .
"Akan ku bantu!" kata Yuda pada Rania.
"Bagaimana caranya, Mas Yud?" Bahkan hutang itu tidak seolah tidak berkurang, seberapa banyaknya aku membayarnya, aku malu padamu aku karena aku tidak bisa mempertahankan kesucianku," kata Rania sambil menunduk tajam.
"Itu berarti ada kebocoran dana di perusahaan ayahmu, aku akan meminta anak buahku untuk membekap dulu data perusahaan ayahmu dan memperbaiki jaringan keamanannya," kata Yuda.
"Ra! Aku ingin memilikimu malam ini tetapi jika itu ku lakukan seolah aku telah mengambil kesempatan dalam kesempitan." kata Yuda pada Rania.
__ADS_1
"Lebih baik kau yang melakukannya, dari pada Beril, aku sudah kotor mas Yud dan kau sudah membeliku kau berhak atas tubuh ku, apa kau ingin tahu bagaimana aku menghindari pelanggan-pelanggan itu menjamah ku?" tanya Rania.
"Hem, bagaimana caranya? Sebelum kau ceritakan duduk lah di pangkuanku Rania," pinta Yuda.
"Rania beranjak dari duduknya dan duduk di pangkuan pria yang dicintainya itu.
"Sekarang beri tahu aku bagaimana cara kau menghindarinya?" tanya Yuda sambil memeluk tubuh ramping itu.
"Dengan ini, aku mendapatkan dari seseorang teman, dia berprofesi sebagai dokter, dia juga mendapatkan ini dari kekasihnya yang berprofesi sama. katanya ada seorang polisi yang menyamar dan menggunakan obat bius ini dan di campur dengan racikan obat dari kakak ipar kekasihnya, membuat seseorang tertidur dan berfantasi setelah itu dia akan kehilangan gairahnya," cerita Rania
"Mengerikan sekali, apa itu akan kau gunakan padaku?" kekeh Yuda.
"Tentu saja tidak, tapi yang ini tidak akan langsung membuat korbannya menjadi seperti yang ku ceritakan tadi karena pencampurannya hanya kadar rendah, akan berkurang sedikit demi sedikit," kata Rania.
"Ra! Aku benar-benar menginginkan mu, Tubuhku begitu inginnya hati dan otakku menolaknya," kata Yuda.
"Lakukan Yud, aku rela," kata Rania sambil mengubah posisi duduk yang sekarang sudah berhadapan dengan kekasihnya,
Yuda terbawa perasaannya membuat kekasihnya kini berada dalam rengkuhannya. Memadu kasih dan mereguk secawan madu yang manis dari wanitanya, yang jauh dari kata halal.
Waktu terus bergulir, tak cukup satu sentuhan untuk menghilangkan dahaganya, Yuda meraih kenikmatan beberapa kali walau harus menjeda waktu untuk mengumpulkan letupan asmara yang akan diberikan pada sang kekasih di setiap permainannya.
Tiga cawan madu membasahi hati dan jiwanya. Masih dengan nafas yang memburu memeluk tubuh polos kekasihnya memberikan rasa aman pada wanita itu.
"Ra, kamu masih ingat kan pulaunya?" tanya Yuda.
"Masih mas, kenapa?"
"Kita akan ke sana, aku akan menyelidikinya, karena aku tidak tahu tempatnya maka kita akan ke sana berdua," kata Rudi
__ADS_1
"Aku masih trauma sebenarnya Mas, tapi jika itu mencegah hal itu terjadi lagi aku rela," kata Rania sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku akan menebus mu dari Beril, dan setelah itu menikahlah denganku, Aku salut padamu, kau sanggup melindungi dirimu setelah badai menghantam, tapi aku justru yang memanfaatkan cintamu padaku, memintamu memuaskan ku sebelum halal," kata Yuda pada Rania.
"Tidak aku juga menginginkanmu Mas, aku tidak akan menyesal memberikan kepuasan padamu malam ini," kata Rania menatap pria yang selama ini dia rindukan.
"Aku janji, Ra, ini yang pertama dan terakhir setelah itu aku akan menunggu sampai aku bisa menghalalkan mu," kata Yuda yang sudah mulai mengantuk, lelaki itu pun tertidur dalam pelukan wanitanya.
Di tempat yang berbeda Vino semakin gelisa, dia berjalan mondar-mandir di dalam ruangan hotel, Sari hanya bisa menatapnya andai saja lelaki ini tertarik padanya kemungkinan akan pergi dari tempat tuan Beril akan jadi kenyataan.
Namun sayangnya itu tidak akan terjadi karena lelaki ini sepertinya telah memiliki wanita pujaan dan mungkin saat ini sedang memikirkan gadis itu hingga terlihat begitu cemasnya.
"Tuan, jika Anda ingin pergi untuk menemuinya pergilah saya tidak apa-apa kunci saja pintunya dari luar karena saya takut ada orang lain yang datang ke seni," kata Sari sambil menunduk.
"Baiklah, aku akan pergi, tidur lah aku akan keluar sebentar," kata Vino sambil melangkah ke pintu lalu dia pun mengunci pintu dari luar setelah itu dia pun berjalan ke arah lift dan masuk ke dalam kemudian menutup dan menekan nomor lantai yang dituju.
Kotak itu pun bergerak ke bawah menuju lantai dasar setelah itu pintu terbuka dan Vino berjalan keluar hotel lalu masuk ke dalam taksi dia sengaja memilih naik taksi agar anak buah Beril tidak menyadari bahwa dia keluar dari hotel.
Taksi pun berjalan menuju ara rumah Belvi. Tiga puluh menit kemudian Vino sampai lalu turun dari taksi dan berjalan ke arah rumah Belvi.
Vino memencet bel sebanyak dua kali lalu menunggu seseorang keluar dari rumah dan membukanya.
Tak lama kemudian, pria paruh baya keluar dari rumah dan berjalan ke arah pagar rumahnya dan membuka pintu pagar rumahnya.
"Siapa ingin bertemu siapa?" tanya lelaki paruh baya itu.
"Saya Vino Om, ingin bertemu Belvi, apa dia sudah pulang?" tanya Vino pada lelaki paruh baya itu.
"Belum, mungkin sebentar lagi, ayo masuk lah dan tunggu di dalam saja!" pinta lelaki itu yang tak lain adalah Albert ayah Belvi
__ADS_1
"Baik, Om terimakasih," ucap Vino sambil melangkah kedalam rumah mengikuti pria itu. Setelah sampai di dalam pria itu mempersilakan dia duduk, lalu masuk kedalam dan kembali lagi dengan dua cangkir kopi panas.