Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Bab 70


__ADS_3

Bram memanggil Ema. "Apa yang kau lakukan? Sehingga Pak Beril tahu tentang kamu, Mas gak mau terjadi sesuatu padamu Ema, lebih baik kau berhenti bekerja."


"Maaf, Mas, habis Ema kesal seenak saja, memperlakukan orang," kata Ema


Pak Beril ingin kau di pindahkan di hotel pusat, ada desas-desus jika di pindahkan di sana akan di jual dan di jadikan wanita penghibur di sana, lebih baik kau mengundurkan diri saja," jawab Bram.


"Kalau aku mengundurkan diri apa gak akan terjadi suatu dengan kamu Mas, bagaimana kalau kamu di pecat juga?" tanya Ema.


"Tidak apa-apa yang penting adikku selamat," kata Bram


"Bagaimana kalau aku turuti saja, pindah ke sana, aku bisa bela diri," kata Ema.


"Kau pikir dengan kau bisa bela diri akan menyelamatkanmu, kau salah Ema, mereka menggunakan obat-obatan yang di larutkan ke air minum, apa kau bisa melawan," jelas Bram pada Adiknya.


"Terus aku harus bagaimana, Mas?"


"Ya, seperti Mas bilang kamu berhenti bekerja, Dek," kata Bram.


"Ya sudah gak apa-apa aku berhenti kerja saja," jawab Ema frustasi


Disaat ada perdebatan itu pintu yang terbuka di ketuk dan mereka menoleh.


"Maaf, boleh saya masuk?" tanya Vino.


"Silahkan, ada apa lagi?" tanya Bram pada lelaki itu.


"Anda tahu hotel Surya Kencana kan?" tanya Vino


"Ya, saya tahu dan cabangnya dimana-mana," jawab Bram.


"Saya kenal baik pemiliknya saya akan bantu adik Anda mendapatkan pekerjaan di sana, beri nomor telepon adik Anda," katanya pada Bram.


"Apa Anda bisa di percaya? Lalu untuk apa Anda menginap di sini?" tanya Bram.


"Saya hanya ingin membantu jika anda mau jika tidak juga tidak apa-apa," kata Vino melangkah pergi


"Tunggu, Baik, Pak saya percaya dan tolong bantu saya, saya masih ingin bekerja," kata Ema.


"Ok!" kata Vino menyerahkan handphonenya pada Ema dan wanita itu memasukan nomernya di sana lalu menyerahkan kembali kepada Vino.

__ADS_1


"Oh ya, diluar ada orang yang mencurigakan lebih baik jangan pulang dulu menginap saja disini, kau bisa tidur dengan wanita yang bersamaku tadi," kata Vino.


"Apa Bapak tidak anu?" tanya Ema sambil tertawa.


"Ada Banyak hal yang kadang orang tidak perlu tahu, bukan, Ayo saya antar," kata Vino sambil tersenyum.


Vino berjalan mendahului gadis itu dan Ema mengikuti dari belakang. Mereka berjalan menuju kamar Vino, dan membukakan pintu.


"Masuklah!" perintah Vino dan gadis itu masuk dan tersenyum pada Sari.


"Sar, dia akan menemani tidur di sini, karena tadi gadis ini mengalami masalah," kata Vino pada Sari


"Iya gak apa-apa, cuma bapak nanti tidur di mana?" tanya sari


"Dari tadi siang kan saya sudah bilang saya tidur di sofa karena sekarang ada mbak Ema jadi saya akan tidur di luar, saya akan minta kamar lain di sebelah kalian, berjaga-jaga kalau-kalau yang tadi terulang lagi syukur-syukur tidak," katanya sambil melangkah akan keluar dia ingat sesuatu.


"Oh iya Ema Besok pulangnya dengan saya dan sari nanti saya antar pulang, itu lebih aman jika kau pulang sendiri," kata Vino lagi.


"Tapi saya bawa motor, Pak," jawab Emi.


"Ngak apa-apa, nanti biar teman saya yang akan mengantarkan motor kamu, keselamatan kamu lebih penting dari pada motor, kalau motornya yang rusak bisa di perbaiki tapi kalau tubuh kamu yang rusak tidak akan bisa kembali seperti sedia kala," kata Vino sambil membuka pintu, lalu menoleh ke Emi.


"Key card-nya Emi!" perintahnya pada Emi lalu gadis itu berjalan cepat kearah Vino dan menerima key card itu lalu menutup pintunya.


"Masuk!" perintahnya.


Begitu masuk Bram terkejut. "Ada apa kenapa Anda kemari lagi?"


"Aku ingin membuka kamar disebelah mereka untuk antipasi saja, kalau yang tidak akan terjadi," kata Vino pada Bram.


"Baiklah, Buka atas nama siapa?" tanya Bram.


"Pakai nama Haidar," kata Vino.


"Ok! ini key card-nya, selamat istirahat, trimakasih sebelum, untuk adik saya," kata Bram.


"Nanti saja terimakasihnya karena saya belum melakukan apa-apa, jika pun tidak bisa nanti saya akan usahakan untuk bisa masuk di perusahaan ayah saya yang ada di Surabaya, Anda tidak keberatan bukan jika, adik Anda bekerja di Surabaya," kata Vino


"Gak apa-apa yang penting dia aman karena dia satu-satunya adik saya, saya gak mau terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan," kata Bram.

__ADS_1


"Baik kalau begitu saya permisi dulu," kata Vino


"Silahkan," jawab Bram.


Vino keluar dari ruangan itu berjalan menuju kamar yang baru, hari ini terasa begitu penat dengan segala kejadian yang tidak menyenangkan hati.


Beberapa menit kemudian dia telah sampai dan masuk kedalam kamar itu menggunakan key card, lalu di merebahkannya tubuhnya di ranjang dan tak lama kemudian dia terlelap dalam mimpi.


.


.


Malam semakin larut dan waktu terus berjalan hingga tak terasa sudah pukul empat dini hari alarm handphonenya berbunyi Yuda bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah lima belas menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dan membangunkan kekasihnya.


"Rania bangun, setelah ini kita akan berangkat."


"Jam berapa sekarang?" tanya sambil mengerjabkan matanya.


"Jam empat," jawab Yuda.


"Mas, aku tak punya pakai yang tertutup bagaimana aku bisa pergi?" tanya Rania


Ada sudah aku belikan masih di mobil, nanti aku ambilkan kamu mandi saja dulu," katanya dengan sangat lembut.


Rania, menyingkap selimutnya dan turun dari ranjang, Yuda tak melepaskan tatapannya pada tubuh polos kekasihnya itu. Rania berdiri dan berjalan menuju kamar mandi berusaha membuang rasa malunya.


Setelah dua puluh menit kemudian dia keluar dengan memakai bath robe dan Yuda menoleh pada kekasihnya itu.


"Itu pakaianmu ada di paper bag itu," kata Yuda.


"Iya, terimakasih," kata Rania.


"Sama-sama," jawab Yuda sambil tersenyum.


Rania segera memakai pakaian dan menyisir rambutnya mengoleskan bedak tipis tanpa polesan di bibirnya, setelah selesai dia menoleh kearah Yuda.


"Aku sudah selesai, ayo kita berangkat," kata Rania dan Yuda mengangguk berjalan mendahului wanita itu.


Mereka pun masuk dalam lift, setelah sampai di lantai dasar mereka berjalan kearah area parkir lalu masuk kedalam mobilnya. Tak lama kemudian, berjalan melintasi jalanan yang masih sepi menuju bandara, di sana sudah di siapkan sebuah helikopter yang akan mengantarkan mereka di desa terpencil itu.

__ADS_1


Begitu sampai di bandara mereka pun keluar dari mobil dan berjalan di landasan khusus, sebuah helikopter telah menunggu dan mereka pun masuk kedalam kemudian berjalan lalu lepas landas.


"


__ADS_2