Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Jadi Menyerah lah


__ADS_3

Belvina dan Vino menempuh pendidikan selama tujuh bulan dan sekarang mereka sudah berdinas di polri dengan pangkat bripda. Satu tahun berikutnya mereka di tempat di reskrim dengan seleksi yang sangat berat hingga terpilih berdinas di sana.


Beberapa misi berbahaya sanggup di selesaikan dengan sangat baik, hinga tak terasa mereka sudah bertugas selama tiga tahun di reskrim dan mendapatkan kenaikan pangkat sebagai briptu tidak sampai lima tahunan.


Hingga pada akhirnya mereka bertemu dalam sebuah rapat rencana pengungkapan penyelundupan yang melibatkan pemilik club hiburan malam terbesar di kota itu.


Beberapa anggota memang tidak pernah saling kenal satu sama yang lainnya. Mereka baru mengenal jika dihadapkan dengan misi yang sama, dan itu bukanlah nama asli mereka.


Vino menatap gadis berhijab itu dengan tajam, gadis itu tidak menghiraukannya. Hingga rapat selesai Vino tidak melepaskan pandangan pada pada Belvi. Setelah rapat selesai merekapun bubar.

__ADS_1


Vino menyusul langkah Belvi, ketika melewati lorong yang sepi Vino menarik tangan Belvi dan menyeretnya di sebuah ruangan kosong lalu menutup pintunya kemudian memojokkannya Ke dinding ruangan sambil tangannya mencengkram kedua rahang gadis itu.


"Apa misi mu sebenarnya terhadap ku? Hingga mengikuti sejauh ini, hah!" teriak Vino dengan sangat kerasnya, membuat Belvi terjengkit.


"Tolong lepaskan dulu cengkraman mu, ini sangat sakit, lagipula aku tidak bisa menjawab dengan leluasa jika kau tidak lepas kan," kata Belvi sedikit kesusahan karena rahangnya ditekan begitu kerasnya.


Vino melepaskan cengkraman dan masih mengurung Belvi dengan kedua tangannya, tatapan masih seperti tadi tidak berubah sama sekali.


"Aku tidak mengikuti mu, Vin. Memang dari dulu, ini adalah cita-cita ku, keinginan ku, bukan salah ku jika kau punya keinginan yang sama," katanya pada Vino.

__ADS_1


"Keluar dari satuan! profesi ini sangat sangat bahaya buat mu, Vi," kata Vino penuh dengan penekanan.


"Kau punya hak apa hingga menyuruhku keluar dari kesatuan, hah! Kau bukan Kakakku, kekasihku atau pun suami ku, yang berhak menyuruhku untuk keluar dari kesatuan," kata Belvi dengan tatapan mata yang berapi-api.


"Aku berhak, Vi, karena aku--." Sebelum Vino menyelesaikan ucapannya Belvi sudah menyambarnya. "Adalah matan kakak iparku bukan? Kakak ku sudah meninggal Vin, kau tidak berjodoh di dunia, dan kau bukan siapa-siapa lagi buatnya, juga buat ku, Vin. Camkan itu!"


"Aku curiga kamu ingin menggantikan kakakmu di hatiku hingga kau rela menempuh jalur yang bertentangan dengan dirimu yang sudah berhijrah, kau rela menyamar menjadi apapun agar misi mu berhasil dan mungkin saja bersedia berdandan seperti wanita murahan yang mengenakan pakaian minim, walaupun tubuhmu di balut dengan baju kulit anti peluru pun hukumnya juga sama," kata Vino masih di posisi yang sama.


Belvi menampar keras pipi Vino hingga terlihat merah di bekas tamparannya.

__ADS_1


Vino meringis lalu tertawa mengejeknya. "Kau menyukaiku, Vi, terlihat dari sikap marah mu padaku. Dengarkan aku baik-baik, yang ada di hati ku hanya Gloria seorang, kau tidak akan pernah bisa mengganti nama itu dari hati ku walau seluruh fisikmu sangat mirip dengan Gloria dan seberapa kerasnya kau berlari mengejarku serta mendobrak pintu hatiku, kau tidak pernah bisa, Vi, jadi menyerah lah!"


__ADS_2