Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Murid Baru


__ADS_3

Satu tahun berlalu Vino, sudah di kelas XII. Hari itu ia berangkat menaiki sepeda motornya menuju ke sekolahnya dengan langkah gagah dan cool-nya tanpa menghiraukan cewek-cewek yang yang berteriak-teriak memanggil namanya dia tidak pernah menggubris teman-teman perempuannya yang ingin dekat dengannya.


Setiap sampai di sekolah dia langsung masuk ke dalam kelasnya kadang jika ada waktu dia akan berkumpul dengan teman-teman laki-lakinya teman sesama lelakinya selalu menggodanya bahwa dia bukan pria yang normal sehingga tidak tertarik dengan wanita.


Vino tidak pernah mengubris apa yang dikatakan temannya ia selalu mengatakan, "Yang tahu diriku adalah diriku sendiri bukan dirimu kalau kau ingin menilai, nilai lah dirimu sendiri."


lalu pergi dari teman-temannya yang mencoba mencemoohnya itu.


Bel berdering tiga kali menandakan kelas akan dimulai. Semua siswa masuk ke dalam kelasnya untuk segera mengikuti pelajaran.


Lagi pula Vino tidak perlu terburu-buru untuk masuk ke dalam kelas karena memang ketika dia sudah datang langsung masuk dan duduk di bangkunya tanpa harus mengobrol ke sana kemari dengan teman-temannya.


Sejak sepeninggalnya Gloria dia bahkan tidak pernah berkumpul dengan teman laki-lakinya, dulu dia adalah pria yang humoris dan juga senang bercanda tetapi sekarang candaan tidak mampu membuat dia tersenyum selucu apapun.


Hari itu Pak Yulkifli wali kelas XII IPA1 masuk masuk dengan seorang anak pindahan dari luar negeri tepatnya adalah di dari Boston. tak lain dan tak bukan adalah Belvina Birdella.


Pak Yanuar akhirnya menyuruh Mbak Belvina untuk memperkenalkan diri.


dengan bahasa Indonesia yang logatnya belum sempurna memperkenalkan dirinya.


'Kenalkan namaku Belvina Birdella, aku tinggal berpindah-pindah karena ayahku adalah seorang yang bekerja di kedutaan dan saat ini beliau berada di sini tentu aku pun pindah di sini itu saja dari saya terima kasih Pak," ucap Belvina.


"Silakan duduk di sebelah Vino," kata Pak Yanuar.

__ADS_1


Belvina perjalanan menuju bangku yang diduduki oleh Vino lalu dia duduk di sebelah pria itu tanpa mempedulikan lelaki itu suka atau tidak dia sudah tahu bakal akan bertemu dengan anak laki-laki ini yang merupakan Cinta Pertama kakaknya.


"Jangan kau pikir wajahmu mirip seperti Gloria aku akan tertarik denganmu tidak sama sekali karena kau tidak mirip dengannya," kata Vino


"Kau pikir aku bertanya seperti ini untuk memikatmu Kau terlalu percaya diri Kalau dirimu itu handsome, tidak sama sekali," kata Belvi masih dalam susah payah untuk menggunakan bahasa Indonesia.


Baginya itu tidak masalah yang penting mereka yang bisa diajak berbicara tahu apa yang dibicarakannya.


"Aku seorang mualaf aku baru menganut agama Islam satu tahun yang lalu, kata Tuan Abraham jika gadis usiaku harus menggunakan hijab dan itu kulakukan tapi bukan untuk memikatmu, ini adalah kewajibanku sebagai seorang muslim terserah kau mengira aku memikatmu," kata Belvina


"Baiklah, baiklah, kau benar dan itu memang harus kau lakukan untuk menutup auratmu dan aku salut itu tapi bukan berarti aku suka kamu, jadi jangan terlalu berbasa-basi denganku Aku tidak suka banyak bicara dan tolong jangan diajak aku bicara," kata Vino pada Belvi.


"Kau itu terlalu sombong kau mengira bahwa dirimu itu tampan tidak dan aku pun juga tidak merasa cantik jadi tidak perlu kamu merasa aku memikatmu dan kamu merasa kamu tertarik denganku," kata Belvi


Belvi mendengarkan pelajaran Tuhan baik-baiknya, dia tidak peduli dengan laki-laki yang ada di sampingnya dan ingat pedulikan hanyalah mendengarkan pelajaran dan menyimaknya.


Kadang Vino melirik dari situ ia memindai wajahnya terlihat memang mirip tapi ada perbedaan yang mencolok antara Gloria dan Belvi. Gloria gadis yang sangat anggun berbeda dengan Belvi terkesan gadis yang sangat cuek dan bar-bar.


"Vin, pinjam penggaris aku lagi tidak punya penggaris," kata Belvi


Vino ngambil tasnya lalu mengambilkan penggaris kemudian memberikannya pada Belvi.


"Kamu itu kalau sekolah dilengkapi semuanya dong jadi kalau butuh apa-apa kamu nggak pinjem karena kamu sudah punya sendiri," gerutu Vino

__ADS_1


"Kamu nggak ikhlas pinjemin aku?"tanya Belvi


"Ikhlas kawatir kamu nggak dapat teman di saat aku nggak bisa pinjemin penggaris," kata Vino


"Justru susah kalau punya teman seperti kamu pinjemin tapi ngedumel,"kata Belvi.


Waktu terus berjalan materi pelajaran berganti sesuai dengan mata pelajaran setiap sesi selalu diberikan sebuah pertanyaan kemudian ujian membuat beberapa siswa kasak-kusuk merasa keberatan karena pelajaran mereka sudah terlalu berat dari mulai mengerjakan di papan tulis hingga mengerjakan tugas-tugas dan ternyata harus dikasih kuis membuat berapa siswa ada yang tertidur mungkin karena terlalu sepi atau bosan Belvi selalu bersemangat dalam mendengarkan semua pelajaran yang diberikan oleh gurunya.


Belvi tidak pernah mengeluh apapun walaupun teman satu bangkunya saat protes padanya ketika ia meminjam barang darinya, setiap kali dia protes Belvi akan berkata berbuat baik nanti akan berbalas dengan kebaikan seperti itu walaupun dia tidak bisa membalas apapun orang lain yang akan membalasnya.


Ketika jam istirahat tiba Belvi tidak pergi ke kantin ia akan membuka kotak makannya Dan menikmatinya di dalam kelas.


Ketika Vino meliriknya dia pun menawarinya. "Mau?" tanyanya pada Vino


"Tidak makan lah, aku kuatir jika aku juga ikut makan kok akan makin kurus Nanti orang tuamu protes kalau kamu itu harus terbagi," kata Vino.


"Kalau tidak mau ya sudah padahal ini enak loh di sini tidak akan ada," katanya pada Vino. tiba-tiba saja dia mencomot satu potong dan langsung memakannya


"Sama-sama," sahut Belvi


Bel istirahat sudah selesai, Belvi memasukkan kembali dalam tasnya, lidahnya belum bisa menerima makanan yang ada di Indonesia sehingga dia memilih untuk memakan bekal ketika waktu istirahat. Terlihat guru masuk ke dalam kelas menandakan pelajaran akan dimulai mahasiswa begitu tenang dan sehingga sang guru mulai memberikan penjelasan pada muridnya.


Hari itu adalah hari di mana ia mendapatkan nilai yang kurang karena beberapa dari jawabannya adalah salah. Setiap berkali-kali dia melihat lembar jawabannya selalu berucap "Kenapa bisa salah?" ucap Belvi

__ADS_1


Di dilihatnya kembali lembar jawabannya mengulang kembali ucapannya, begitu terus hingga akhirnya Vino mengambil kertas milik Belvi dan menjelaskan, Kenapa bisa salah tanpa melihat kearah Belvi setelah itu, dia pun kembali merebahkan kepalanya di atas bangku menunggu guru lain datang untuk memberikan pelajaran yang lain.


Semakin siang pelajaran sudah akan selesai guru di jam terakhir menutup sesi pelajaran.


__ADS_2