
Vino melajukannya mobilnya ke hotel yang dipersiapkan oleh Beril, dengan tenang dia mengemudikan mobil menyusuri jalanan yang hawanya belum terik, lalu dia berhenti di sebuah butik, untuk membeli sebuah gaun yang lengan pendek dengan model kerah tegak dan berkancing hidup di bagian depan. Setelah selesai membayar dia kembali ke mobil membuka pintu depan disebelah penumpang.
"Ganti pakaian mu dengan ini tidak usah banyak tanya cukup kerjakan saja, aku tunggu di luar," katanya tanpa menatap gadis itu.
Vino berjalan memutar dan bersandar pada pintu di sebelah kemudi sambil dari tadi mencoba melakukan panggilan pada sebuah nomor dan tidak ada jawaban dia mulai gelisah.
Kembali memanggil dan tak ada jawaban, dia decak, entah kenapa dia saat ini begitu kacau bahkan membawa wanita ini di depan matanya seolah dia sedang berselingkuh dan tertangkap basah padahal ini adalah tugas yang harus di embannya untuk mencapai target.
Sari membuka pintu mobil dan keluar lalu memberi tahu bahwa dia telah selesai berganti pakaian.
Dia pun masuk, menatap sekilas lalu berbicara dengan lantang. "Dengar! aku memilihmu karena kau terlihat sebagai pemula, aku tidak berniat untuk minta kau layani karena aku sendiri tidak ingin berbuat zinah, jadi tetaplah berpakaian rapi dihadapan ku, kau mengerti!" jelas Vino dengan penuh penekanan.
"Baik, Tuan, terimakasih banyak," kata Sari hatinya lega ternyata yang memilihnya orang baik dan di menawarkan madu di ranjang tidurnya.
Mobil berjalan kembali dan mereka sudah sampai di hotel mereka menginap. Vino berjalan duluan dan Sari di belakangnya.
"Tuan ini jaket Anda," ucap sari
"Agar mereka tidak curiga bahwa kau telah berganti pakaian," kata Vino sambil terus berjalan sari berjalan di belakang membuat Vino menghentikan langkah dan menunggunya.
"berjalanlah di sebelahku kan aku yakin di sini ada yang mengawasi kita jika salah satu melihatmu maka Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu mungkin akan akan lebih parah dari saat ini yang kualami atau entahlah," kata Vino
Mereka masuk kedalam lift yang mengantarkan mereka ke lantai dimana kamar mereka berada. Vino menempelkan kay card pada tempatnya lalu pintu pun terbuka, mereka masuk ke kamar hotel, Vino menyapukan pandangannya kepada seluruh ruangan dan ternyata ruangan itu ada CCTVnya.
"Sial! Kenapa ada CCTV-nya?" umpatnya langsung menelpon Yuda.
Vino menunggu beberapa saat tapi tak ada jawaban dia kembali menelpon. Tak lama kemudian dia pun menjawab.
"Ada apa!" teriaknya membuat Vino menjauhkan handphone-nya dari telinganya, Coba lihat ruangan Anda apa ada CCTV-nya," tanya Vino pada Yuda.
"Tidak aku berganti hotel aku sudah mengira kalau mereka bakal akan membuat Video mesum yang akan membuat kita terikat dengan mereka," kekehnya.
"Kenapa tidak bilang?" tanya Vino
"Aku lupa, emang sudah mulai?
__ADS_1
"Belum gue apa-apain, baru saja masuk," jawab Vino
Dia tertawa. "Sudah masuk masih bilang belum di apa-apain," ledek Yuda.
"Aduh kacau nih, gue baru masuk kamar bro!" protes vino dan lelaki itu tertawa mendengar anak buahnya protes padanya.
"Ya sudah ganti kamar saja atau hotel kasih tahu yang lainnya!" perintah Yuda
"Vino menghubungi kedua temannya
dan mereka mengumpat sejadi-jadinya.
"Memang lo lagi apa?" tanya Vino
"Pakai nanya lagi untung belum, bisa ... aahh benar-benar sial!" umpat temannya lagi.
Vino mematikan panggilannya setelah itu menatap wanita yang dibawanya tadi.
"Ayo keluar!" ajaknya
"Loh, kita gak jadi itu?"
Sudah gak usah tanya aku bilang masuk ya masuk, keluar ya keluar," kata Vino.
Mereka pun keluar mencari hotel yang bagus, setelah dapat merekapun masuk.
"Duduk lah! maaf, aku tadi membentak mu," ucapnya
"Waktu di jalan kan tadi sudah ku katakan kalau aku tidak akan lakukan apapun padamu dan kamu jangan sekali-sekali menggodaku karena aku tidak suka sama sekali, mengerti!" tegas Vino lagi
"Saya mengerti, Tuan, saya cuma tanya kenapa tidak jadi tidur di sana?" tanya Sari sambil menunduk.
"Karena di sana ada CCTV, kita ngapa-ngapain bakal jadi konsumsi publik, gak ngapa-ngapain kamu yang akan celaka, karena dianggap tidak bisa melayani tamu dengan baik dan aku pun tidak tahu hukuman apa yang bakal kamu trima supaya kita selamat dari itu semua, kita harus pindah ke hotel lain yang tidak ada kameranya atau CCTV tadi.
"Oh kamera toh, saya baru ngerti sekarang, di kamar saya saya dan kamar mandi saya juga di pasang begituan Tuan, saya kira itu lampu hias atau hiasan apa,Tuan," kata Sari sambil menunduk.
__ADS_1
"Berapa lama kamu tinggal di sana?" tanya Vino pada Sari yang memang terlihat lugu.
"Satu Minggu tuan," katanya pada Vino.
"Berapa tamu sudah kau layani?"
"Nah itu saya tidak tahu setiap kali saya di pesan tamu saya di beri minuman yang membuat saya gerah saya lalu tidak ingat apa-apa," katanya sambi menunduk.
"Kenapa kau bisa sampai ke situ?" tanyanya pada Sari.
"Ceritanya panjang, Tuan," katanya pada Vino.
"Ngak apa-apa ceritakan saja, aku akan dengar bukankah kita di satu hari satu malam.
Saya ini anak petani miskin setiap tiga bulan sekali mereka mencari seorang perawan untuk di jadikan pengantin penunggu gua air terjun dan saya yang terpilih, sebenarnya saya tidak mau Tuan tapi saya bisa apa? Saya tidak bisa apa-apa," katanya sambil menangis.
"Lalu setelah kamu terpilih apa yang terjadi?" tanya Vino
"Saya di dandani layaknya pengantin dan saya di arak menuju gua air terjun sesampainya di sana saya di suru meminum air suci yang di taruh di bambu kuning setelah itu penduduk meninggalkan saya sendiri di sana hanya dengan penerangan obor lalu tiba-tiba saya mengantuk dan tak sadarkan diri, ketika saya sadar saya berada di ruangan yang gelap saya gerah setelah itu tidak sadar apa yang saya lakukan Tuan," kata sari sambil menunduk.
"Lalu setelah itu kamu di mana Sari," tanya Vino penuh dengan penasaran
"Saya di gua, Tuan, tergeletak di sana dalam keadaan tanpa busana di waktu matahari belum bersinar sekitar jam lima pagi, ada mbah Harjo yang di percaya bisa mendatangkan hujan dan kesejahteraan terus melimpah jika penduduk bisa mempersembahkan pengantin perawan. Ada juga tuan Beril entah apa yang terjadi pada saya tuan saya tidak bisa bagun sama sekali pada waktu itu, katanya saya sudah menikah dengan penunggu gua itu dan tidak bisa pulang ke desa lebih baik bekerja pada pak Beril, tak kusangkah pekerjaanku adalah seperti ini, suatu pekerjaan yang sangat hina, saya bilang sama pak Beril untuk memperkejakan saya sebagai pelayan saja tapi pak Beril menolak, katanya aku sudah mempunyai pelanggan tetap," kata wanita itu sambil menangis.
"lalu setiap pelanggan tetap itu datang kau di suruh meminum sesuatu seperti wine? begitu," tanya Vino.
"Betul tuan," kata Sari
"Kalau begitu jangan di minum! kau pura-pura saja telah minum" saran Vino.
"Tidak bisa begitu tuan karena didalam kamar ada CCTV dia akan tahu semuanya, pernah saya menolak untuk meminumnya dan daya di paksa meminum minuman itu.
Vino menghela nafas saat ini dia semakin kawatir pada Belvi, ternyata pria ini sangat licin. Vino terdiam sesaat kemudian dia menatap pada gadis malang ini terdapat di tempat yang tak diinginkan.
"Apa kau lapar? Akan Ku pesankan sesuatu untukmu," tanya Vino pada Sari. Wanita itu mengangguk.
__ADS_1
Dia pun mulai memesan makanan dan minuman melalui interkom, lalu kembali sibuk dengan handphone-nya melakukan panggilan nomor milik Belvi tetapi tak ada jawaban.
Hingga ketukan pintu terdengar lalu dia membuka pintu dan seorang pelayan mengantarkan makanan dalam kamarnya, lalu dia menyuruh Sari untuk makan terlebih dahulu, karena dia masih belum lapar, kembali mengambil handphonenya dan melakukan panggilan kembali.