Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Bab 20


__ADS_3

"Apa dia tidak pernah bercerita apa pun?" tanya Vino sambil membuka tutup botol air mineral kemudian meneguknya.


"Dia hanya bilang punya seseorang yang dia cintai, Vino namanya orangnya sangat lembut, lembut apanya? Aku merasa tidak seperti yang di katakan Kakakku," kata Belvi bangkit dari duduknya Dan berjalan ke arah pantai.


kakinya menapak butiran pasir putih yang halus, hati serasa berperang saat ini. Aku jelas tidak mungkin mengatakan padamu Vin, bahwa kak Glo ingin aku menggantikannya berada di sampingmu, batinnya.


Vino menyusul Belvi. "Maaf."


"Maaf untuk apa?"


"Untuk semua sikapku pada mu akhir-akhir ini," kata Vino pada gadis itu.


"Tidak masalah, Semua terluka akan kepergiannya tidak hanya kau, kami juga, kau beruntung masih bisa bertemu saat dia sehat sedangkan kami bertemu di detik -detik terakhirnya, dimana aku berharap dia untuk bertahan dua atau tiga hari bahkan kak Glo pun masih ingin hidup dan berjuang bersamaku," kata Belvi sambil menatap ombak.


Aku sudah menjalani tes untuk bisa memberikan tulang sumsum tapi pihak rumah sakit belum bisa memutuskan jika hasil pemeriksaan belum keluar," lanjutnya kemudian


Aku hanya marah padanya, kenapa tidak mau memberitahukan padaku tentang penyakitnya, kenapa tidak memberikan kesempatan untuk aku berada di sisinya menemaninya di detik terakhirnya, kenapa tidak berpamitan padaku dengan benar? Aku hanya ingin di sampingnya tapi dia tidak memberiku kesempatan sama sekali, seolah aku tak berharga buatnya di tidak membutuhkanku, sudah lah ayo pulang! Maaf telah mengganggu tidur mu semalam," katanya sambil berjalan keluar dari area wisata dan Belvina mengikutinya dari belakang sambil menggerutu.


"Bukan Vino namanya jika tidak menyebalkan," katanya.


Vino hanya diam saja walau dia mendengar gerutuan Belvi, dia tidak peduli, yang dia inginkan adalah ingin tahu apa yang di katakan Gloria di detik-detik terakhirnya.


Vino menaiki motornya dan di ikuti oleh Belvina yang duduk di belakangnya. Helm sudah di kenakannya dan dia sudah berpegangan pada ujung jaket Vino,


kali ini Vino menjauhkan motor dengan kecepatan sedang, tidak seperti biasa.


"Kenapa lamban sekali apa kau sudah tidak punya tenaga untuk melajukan motormu dengan kecepatan seperti biasanya?" tanya Belvi.


"Kenapa bertanya? Apa kau ingin mati juga, menyusul kakakmu dengan cara berpegangan seperti itu," kata Vino

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Belvi


"Berpegangan lah yang benar! Jaketku sangat tebal jadi tidak akan terasa kalau kau sedang memelukku," kata Vino pada Belvi.


Belvi memutar bola matanya ke atas jengah. Lalu dengan ragu melingkarkan tangannya ke perut Vino.


Setelah memastikan Belvi aman dia memacu dengan kecepatan tinggi kadang Belvi Heran kenapa orang tua Vino tidak memberikan nasehat pada Vino agar tidak mengemudikan motornya secepat itu.


Belvi hanya terdiam, setelah percakapan dengan Vino tadi bahwa benar mungkin Yang dilakukan kakaknya itu melukai harga diri pria itu merasa tidak di butuhkan, seandainya kak Vino pun tahu bagaimana detik-detik kak Glo meninggal mungkin akan lebih terpuruk lagi tidak seperti ini.


Apa kau tetap ingin duduk di sini sambil memelukku, kita sudah sampai setengah jam yang lalu di depan rumahmu," kata Vino.


"Apa kita sudah sampai kenapa kau tidak bilang kalau kita sudah sampai?" protes Belvi


"Biasanya kan memang begitu Vi, apa ingin memelukku lebih lama?" tanya Vino tanpa expresi.


"Tidak! Aku hanya berpegang dengan benar sesuai instruksi mu," katanya sambil turun, lalu melepas helmnya dan di berikan pada Vino.


"Jangan gr kamu aku tersenyum bukan dengan mu tapi dengan wajah Gloria yang kamu miliki itu," katanya dengan tatapan datar.


"Ya aku tahu hari ini kau sedang meminjam wajah ku untuk melepaskan rindu mu pada kakakku," kata Belvi berjalan meninggalkan Vino menuju rumahnya.


"Bel!" Vino memanggilnya.


Balvi menoleh. Trimakasih yaa," katanya


Belvi hanya mengangguk lalu masuk ke dalam pintu gerbang rumahnya. bersama dengan kepergian Vino dengan motor yang kencang itu.


Belvi menarik nafas panjang, kembali ia berjalan masuk dalam rumahnya yang tampak lengang.

__ADS_1


Dia berjalan menuju kamarnya lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang, sekali pun vino masih sedingin dulu setidaknya ada perubahan sedikit. Kak Glo aku tidak tahu apakah aku bisa mencairkan kebekuan hatinya itu, bisiknya dalam hati.


Sementara itu motor Vino berjalan dengan sangat kencang di jalanan yang tak seberapa padat menuju rumahnya sesampainya di sana tidak di dapati mobil ayahnya, dia tertawa merasa bodoh sendiri karena jelas sang ayah sudah berangkat kerja sebab jam sudah menunjukkan jam sepuluh pagi dia memarkirkan motornya di garasi dan berjalan menuju kamarnya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya tak lama kemudian dia pun terlelap.


...----------------...


Hari berikutnya pun sama seperti biasa melakukan rutinitas sama berangkat sekolah, mengikuti pelajaran sekolah dari awal sampai akhir lalu pulang di antar oleh pria dingin sedingin kutub Utara, dia akan berhenti sebentar menunggu Belvi, setelah itu ia memacu kecepatan yang sangat kencang, tanpa menoleh ke belakang, memastikan penumpangnya sudah turun atau belum.


Belvi menggerutu dalam hatinya, Dasar cowok gak punya adat!"


Belvi masuk kedalam rumah nampak mobil ayah terparkir di depan rumah dan terlihat motor sportnya sudah berada di sampingnya mobil sang ayah dengan hati gembira dia menghampiri motor itu, lalu menyentuhnya, kemudian berlari kedalam rumah mendapati sang ayah tengah duduk di kursi meja makan sambil menikmati secangkir kopi hangat buatannya sendiri.


"Daddy, terimakasih!" teriaknya menghampiri sang Ayah, Ayahnya tersenyum saja.


Belvi duduk di depan lelaki yang selalu ada di sampingnya dan menatapnya dengan rasa iba.


"Dad, apa Daddy tidak ingin menikah lagi, jika nanti Belvi bekerja jauh Daddy masih ada yang menemani," kata Belvi pada sang ayah.


"Aku tak bisa menghapus rasa cintaku pada mamamu, Belvi. seperti tak akan ada yang lebih baik dari mamamu, dia tak duanya dan tak tergantikan," kata Albert.


Aku tahu Dad, aku hanya takut Daddy merasakan kesepian, jika nanti aku berjauhan dengan Daddy," kata Belvi pada pria paruh baya itu.


"Kamu tidak usah memikirkan tentang ayah pikirkan sekolah mu saja dan juga pesanku pada mu jika memang kamu tidak bisa mewujudkan keinginan kakakmu itu jangan kau paksakan, Bel. karena orang yang telah patah hati itu akan sulit menerima orang lain walaupun mempunyai wajah yang sama, sulit untuk menerima wanita lain jika kau tidak mampu menggenggamnya tolong lepaskan saja," kata Albert pada putrinya itu.


"Apa termasuk Ayah yang tidak bisa melupakan Mama walaupun ada wanita yang mungkin mirip dengan Mama?" tanya Belvi pada Ayahnya.


"Kurang lebih begitu Bel, jadi jika dia tidak bisa melihat mu dan membuka hati untuk mu maka lupakan apa yang menjadi keinginan Gloria, dan lepaskan Vino cari orang yang benar bisa mencintaimu apa adanya jangan mengejar yang tidak pasti," kata Albert sambil berjalan menuju kamarnya.


Belvi menatap punggung sang ayah yang berjalan menjauh menuju ruangannya dia merasa iba dengan pria itu sejak kecil ia melihat raut wajah kesepian seorang Ayah, Belvi menghelah napas dan masuk ke dalam kamar berganti pakaian lalu mengambil wudhu dan mengerjakan sholat dhuhur.

__ADS_1


Setelah selesai ia membaringkan tubuhnya sejenak.


__ADS_2