
"Baik, tuan!" jawabnya dengan deru nafas yang masih memburu.
"Kau sedang apa, Brain, jangan kau bilang sedang bersamanya!" teriak Hans kepada Asistennya itu.
"Maaf, Tuan, iya," jawab Brain dan terdengar hembusan nafas kasar dari tuan mudanya tak lama kemudian terdengar lagi suara tuan mudanya.
"Sudah selesai?" tanyanya lagi.
"Sudah, Tuan, Maaf?" ucapnya lagi
Terdengar tawaan tuan mudanya dari seberang. "Segera tinggalkan kekasihmu sebentar Cek dulu Daddy jika tidak terjadi sesuatu kembali lah bersenang-senang." Lalu panggilan pun terputus.
Brain menghela nafas di tatapnya wanita yang ada di bawah lalu di ciumnya bibir kekasihnya itu, kemudian dia melepaskan tautannya dan turun dari tubuh sang kekasih.
__ADS_1
"Jangan berpakaian dulu aku akan segera kembali! Kita lanjutkan lagi nanti," katanya sambil membersihkan senjatanya dengan tisu dan mulai berpakaian dan ia pun segera keluar dari ruangannya dan berjalan menuju ruangan tuan besarnya.
Setibanya di sana alangkah terkejutnya dia saat melihat lima pengawal telah tergolek dengan jarum suntik di lehernya. Dia segera merogoh saku dari salah satu pengawalnya tidak ada kunci di saku mereka.
Dia segera bergegas ke kantor mengambil kunci serep lainnya sambil melaporkan apa yang terjadi di depan ruangan tuan besarnya.
"Maaf, Tuan muda, pengawal yang menjaga Tuan besar tertidur semua terkena obat bius, kuncinya juga hilang jadi saya harus kekantor dulu untuk mengambil kuncinya," lapornya pada Hans.
"Bagaimana bisa begitu? Ya sudah kau lihat dulu Daddy aku akan menyusul," jawab Hans dengan nada kawatir lalu memutuskan panggilannya setelah itu dia menelpon sang adik.
"Belum tidur?" tanyanya sambil melirik tubuh bawah Cahaya. sudah kembali rapi lagi, dia tersenyum.
"Belum, Tuan, bolehkah saya meminta selimut, saya sangat kedinginan," pinta Cahaya
__ADS_1
Tanpa menjawab Hans berjalan menuju lemari dan mengambil selimut, lalu kembali menghampiri Cahaya dan menyelimuti wanitanya hingga sebatas dada.
"Tidurlah, aku akan ruangan Daddy dulu sepertinya ada masalah," ijin Hans sambil berjalan keluar kamar lalu menutupnya dan menguncinya kemudian dia bergegas menuju kamar ayahnya.
Sesampainya di sana di melihat sang adik menatap terkejut pada semua pengawal yang tergeletak tak sadarkan diri di luar ruangan.
Setelah Brain berhasil membuka pintu Hans dan Ari masuk ke dalam dan menyuruh Brain menunggu di luar, lalu menutup pintunya.
Hans sangat terkejut melihat kondisi kamar ayahnya itu kaca jendela hancur dan tembok tertancap benda tajam dan sudah menebak bahwa ini ulah polisi yang menyamar. Lalu melihat sang ayah tidak sadarkan diri dengan kondisi yang sama dengannya satu Minggu yang lalu.
"Apa Sora kembali ke sini? Apa kau lihat dia?" tanya Hans pada sang adik.
"Aku tidak tahu, jika kau tanya aku melihat dia atau tidak. Jawabannya adalah aku selalu melihatnya entah di sini atau tidak, karena aku tak dapat melupakannya barang sedetik pun, sudah ku katakan pada kalian berhenti lah tetapi kalian tidak mau, sekarang urusan Daddy urus lah sendiri!" jawabnya acuh
__ADS_1
"Jangan pergi setidaknya bantu aku untuk mengangkat tubuh Daddy ke dalam kamar, kita baringkan di sana setelah sadar baru kita urus," kata Hans pada adiknya itu.
"Baik lah!" jawab Ari sambil membantu membawa ayahnya ke kamar.