
Vivi menatap wanita itu dengan tajam.
"Sudah ku katakan aku akan menunggu waktu isya, jadi pergi lah dari kamarku atau ku lempar dengan vas bunga ini," kata Vivi kepada mereka.
"Baik lah kami akan kembali setelah Anda selesai sholat," kata salah satu dari wanita itu.
kedua wanita itu pun keluar dari kamar itu di luar kamar mereka berpapasan dengan Harjo.
"Kenapa keluar? Bukankah aku meminta kalian mendandani gadis yang ada di dalam itu?" tanya Harjo.
"Maaf tuan dia meminta ijin untuk menunggu setelah selesai sholat isya," jawab kedua wanita itu dengan serempak.
Harjo tertawa dengan lantangnya. "Mau digituin saja masih sholat dulu." Harjo menatap ruangan tertutup. 'Andai saja aku yang pertama kali mencicipinya tentu rasanya luar biasa, gadis itu sangat cantik, ahh, jika itu terjadi pasti tuan Beril tidak akan mengampuniku, dia akan menggorok leher ku,' batinya lalu dia bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi jika menyalahi aturan dari tuannya itu sekali pun dia mendapatkan jatah terakhir menyentuhnya dan lalu bersama-sama melakukan membuat angannya melayang membayangkan hal itu akan segera bisa di rasakan kembali.
__ADS_1
Terakhir dia melakukan dengan Sari, apa lagi gadis itu dikuasai oleh obat perangsang membuat kenikmatan bertambah sebab Sari selalu meminta dan menikmati permainan mereka.
"Oh malam lekaslah datang aku tidak sabar untuk saling berebut bola," katanya sambil terkekeh.
Adzan isya telah berlalu lama, dua wanita kembali masuk kedalam kamar Vivi mereka mendandani Vivi seperti layaknya pengantin wanita, ritual akan berlangsung malam bulan purnama dan malam ini bulan adalah malam bulan purnama.
"Anda sangat cantik," kata wanita itu.
"Nona jangan menangis riasan Anda nanti luntur.
"Ija keluar lah dulu katakan pada tuan Harjo sebentar lagi siap," kata wanita itu.
"Nona aku Sari, aku sedang menyamar, aku korban sebelum mu, Nona bawah obat ini dan minum bersama ramuan yang di gua nanti, ini ada obat penawar agar obat perangsang yang terkandung dalam minuman itu tidak mengendalikan otak dan tubuh Anda. Setelah itu, pura-pura lah pingsan agar tidak ada yang curiga. percayalah Anda tidak sendirian," kata wanita itu sambil mengajak keluar.
__ADS_1
Mereka pun keluar dari kamar. "Tuan, dia sudah siap," kata wanita itu.
"Wah kamu sangat cantik pasti pangeran penunggu gua itu sangat senang mendapatkan kecantikanmu setelah ini hujan akan datang dan panen akan melimpah," katanya sambil tertawa.
"Ayo jalan, mereka sudah menunggumu untuk melepaskan kepergianmu dengan menabur melatih di atas kepala mu," katanya kembali sambil berjalan terlebih dahulu.
Orang-orang yang telah menunggu di luar sangat terpukau dengan kecantikan Vivi.
"Hai kenapa bengong? Ayo arak segera ini sudah malam jangan sampai waktu terlewat begitu saja," kata Harjo pada penduduk yang datang untuk mengarak pengantin wanita dan hanyalah pria yang boleh mengarak pengantin wanita.
Vivi berjalan terus tanpa bicara dia tidak tahu apakah hari ini dia bisa lolos ataukah tidak di saat berada di kegelapan dia masukan obat di mulutnya.
Sesampainya di mulut gua mereka berhenti menabur bunga, Vivi disuruh masuk dan duduk di lempengan batu yang berbentuk persegi panjang, Harjo menyerahkan gelas bambu yang berisi minuman. "Minumlah ini, sebelum kau meminumnya mereka tidak akan pergi dari sini," kata Harjo
__ADS_1