Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Bab 80


__ADS_3

Seorang pria duduk di taman sendirian menatap kosong bunga-bunga yang ada di depan nya, dua Minggu telah berlalu setelah kejadian itu dia sudah tidak menyentuh bisnis ilegalnya sama sekali saat ini yang di lakukannya benar-benar hanya menjalankan rumah sakit itu, dia sekarang seperti singa tua yang tidak bertaring karena ketiga orang telah mengancamnya bahkan Ari sanggup membuatnya menuruti keinginan putranya itu yaitu menikahkannya dengan Sora alhasil kemarin mereka telah sah menikah.


Ari dan Sora menyelidiki kandungan obat bius dan ramuan milik Cahaya. Sedangkan Cahaya membuat ramuan untuk memulihkan sang ayah mertuanya paska insiden itu, dan selalu mengancam tidak mau mengobatinya jika dia tidak menurut padanya, dan jika dia sudah sembuh dan bermain-main dengan wanita lagi maka akan di buat lebih parah lagi katanya.


Bagi Damian sekarang Cahaya seperti seorang mafia yang sedikit-sedikit mengancam dan Hans pun tak berkutik di hadapan istrinya itu. Suara merdu menghampiri indra pendengarannya itu.


"Ayah, di minum obatnya, jangan melamun saja, Ayah sudah tua Jangan menumpuk dosa harus Ayah berterima kasih kepada gadis yang telah membuat ayah seperti dua Minggu yang lalu," kata Cahaya terkekeh.


"Jangan marah ayah, nanti cepat tua, di minum dulu aku punya sesuatu yang buat ayah senang," kata Cahaya.


"Apa itu?" tanya Damian pada menantunya yang super jahil itu ternyata.


Minum dulu obatnya, mau menikah atau tidak?" tanyanya lagi sambil terkekeh.


"Ini sudah, apa yang kau berikan buat ayah?" tanyanya pada Cahaya.


"Apa ini cantik?" tanyanya pada Ayahnya


"Cantik sekali siapa dia?" tanya Damian pada cahaya.


"Apa ada rasa itu ketika ayah melihat wanita ini?" tanya cahaya sambil terkekeh


"Jangan tertawa, apa kau sedang menertawakan penderitaanku Haya," tanya Damian.


"Tidak, aku ini sekarang dokter mu Ayah, bagaimana aku tahu apa punya Ayah bisa On atau tidak kalau ayah tidak jujur bisa berakibat fatal ayah akan menjadi seorang monster dan aku akan menyuntikkan obat itu lagi untuk mencegah ayah jadi gila," kata Cahaya.


"Kau jangan jadikan aku kelinci percobaan Haya, oh my God! Aku benar-benar di bawah kekuasaanmu, mimpi apa Damian menjadi orang selemah ini," keluh lelaki paruh baya.


"Cahaya tertawa, dia tidak mengira seorang yang dulunya kejam sekarang tak berkutik di hadapannya."


"Haya, Ayah harus bertemu dengannya langsung untuk membuktikan apakah sudah sembuh atau tidak," kata Damian


"Aku takut ayah akan menyerangnya kalau dia berhadapan langsung dengan Ayah," jawab Haya kawatir.


"Kan ada kamu," katanya sambil menghembuskan nafas kasar.

__ADS_1


"Eh, iya benar," jawabnya sambil terkekeh.


"Siapa namanya?" tanya Damian.


"Nyonya Widya," jawab Cahaya


"Aku seperti familiar dengan nama itu," katanya pada Cahaya.


"Jelas familiar itu kan nama anaknya teman kakek," kata cahaya.


"Oh, makanya kok aku pernah kenal dengannya," jawab Damian.


"Dia masih perawan belum menikah usianya 40 tahun," bisik Cahaya.


"Bagaimana?" tanya Cahaya pada mertuanya


"Sudah ku bilang aku harus langsung melihatnya?" kata Damian.


"Ok! Besok akan ku suruh ke sini, Daddy jangan minta Nina, Nina itu tidak ada, karena di menyamarkan wajahnya, mengerti Dad?"


"Ya sudah Cahaya mau masuk, Daddy juga harus masuk dan jangan bersedih lagi," kata Cahaya pada Damian.


Wanita itu pun masuk ke rumah lalu berjalan melewati beberapa ruangan dan masuk kedalam kamar, dia terkejut saat suaminya duduk di bibir ranjang.


"Loh sudah pulang?" tanyanya


"Hem," jawabnya sambil menghampiri sang Istrinya.


"Aku sedang merindukan," kata Hans


"Tunggu sebentar aku mau cerita tentang ayah," pinta Cahaya.


"Kalau tentang Ayah, nanti aja yang penting kita, ini sangat penting tidak dapat di tunda lagi, jangan menolak," kata Cahaya


"Bukannya menolak tapi aku lagi sedang datang bulan," kata Cahaya sambil terkikik.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi kan jadi gak enak," kata Hans


"Sini aku bantu," kata Cahaya menarik tangan suaminya dan masuk kedalam kamar mandi.


Satu jam berlalu setelah itu Cahaya keluar dari kamar mandi lalu berjalan menuju meja makan mengambil satu piring nasi dan lauknya kemudian di bawahnya ke dalam kamar, lalu di letakan di atas nakas. Sambil menunggu suaminya selesai mandi dia menyiapkan pakaian sang suami.


Tak lama kemudian Hans keluar kamar mandi dengan berbalut handuk dan berjalan ke arah Cahaya. "Mana bajuku, sayang?" tanya Hans.


"Itu, di atas ranjang," jawab Cahaya


Saat berbincang -bincang akrab dengan sang istri tiba-tiba terdengar suara dering telpon.


"Mas, ada telpon," kata cahaya.


"Biarkan saja, aku lagi tidak ingin di ganggu," jawab Hans


"Bagaimana kalau itu penting?" tanya Cahaya.


"Tidak sepenting kamu bagiku kamu biarkan saja, jika itu rumah sakit ada Ari dan Sora.


"Kalau bukan bagaimana?" tanya Cahaya.


"Jangan tanya terus sayang, mana makanan ku, suapi dong, sayang," pinta Hans.


"Cahaya menyuapi Hans dengan sangat telaten, sesekali menatap handphone yang dari tadi berdering.


"Angkat deh mas!" perintah cahaya sambil menyodorkan handphone.


Hans menghela napas dan mengambil handphone yang di sodorkan istrinya lalu menerima panggilan itu.


"Ada apa?" tanya ketus


"Jangan gitu dong aku butuh bantuan mu, keamanan data keuangan transaksi di bobol orang bantu aku kasih ahli IT mu," rengek Brian.


"Hubungi Ja'far," kata Hans lalu menutup sambungan telponnya.

__ADS_1


__ADS_2