Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Menasehati mu, Dek


__ADS_3

"Dadd, Apa Gloria sangat mirip dengan Belvi," tanya Naila pada suaminya.


"Fisiknya saja tetapi karakternya sangatlah berbeda jauh, dengan Belvi, sedari kecil Belvi begitu suka tantangan, Dia menyukai hal-hal yang extreme di lakukan seorang gadis, sedang Glo sangat lembut, mungkin dia di asuh oleh orang tua yang lengkap walaupun hanya orang tua angkat, sementara Belvi ku asuh sendirinya tidak ada yang mengajarinya dengan kelembutan, dia melihat sosokku yang keras karena kehilangan ibunya waktu itu," jelas Albert pada Naila


"Dadd, nanti jika kita punya waktu aku ingin berkunjung kemakan Gloria dan mengunjungi rumah yatim piatu yang pernah di tinggali putrimu itu, dan aku juga ingin berkunjung di makam istri pertamamu," kata Naila dengan tatapan mesra terhadap suaminya itu.

__ADS_1


"Tentu, dalam waktu dekat kita akan mengambil cuti dan pergi ke sana ada usaha kecil yang ku dirikan di suatu tempat di sana aku juga akan mengeceknya juga, ya sudah, aku akan kembali ke kantor, jangan lupa istirahat, jangan terlalu capek yaa, jaga anak kita," kata Albert sambil mencium perut Naila yang masih sedikit menonjol itu usia kandungan Naila sudah tiga dan jalan empat bulan.


Naila meraih jemari tangan Albert lalu mencium, lalu bangun dari dari duduknya dan dan bejalan beriringan menuju pintu keluar rumahnya mengantarkan sang suami hingga di depan pintu gerbang rumahnya, setelah mobil suaminya berjalan dan menghilang dari padangan mata ia pun masuk dalam rumah kembali, dia berjalan menuju kamar Belvi, di mencoba membukanya ternyata terkunci mungkin dia sedang tidur saat ini, dari menarik nafas dan menghembuskan perlahan. "Aku bukan ibu kandungmu yang mempunyai hak penuh padamu, tetapi jika aku jadi ibu kandung mu, Vi, mungkin keputusanku adalah sama membiarkanmu mengejarnya setelah lelah pulanglah, Nak," katanya lirih yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.


Naila meninggalkan kamar Belvi dia berjalan menuju kamarnya bersama Albert, dia begitu sangat beruntung bertemu dengan keluarga ini sesudah mereka menjadi mualaf, yang telah memberi keluarga kecil yang hangat, walaupun jarak usia Albert dan dirinya sangat berbeda jauh dia begitu sangat bahagia.

__ADS_1


...----------------...


Di waktu yang sama, di kamar Vino, suara handphone-nya berdering berkali-kali, sementara yang punya tidur terlelap di ranjangnya, dan suara itu pun tidak mau berhenti sebelum pemiliknya mengambil dan menjawab panggilan telponnya. Dengan malas ia mengambil handphone yang ada di nakas lalu menerima panggilan tersebut.


Terdengar suara wanita mengucapkan salam berbicara tanpa henti, bertanya dan menasehati pria itu. Siapa lagi kalau bukan kakaknya, Ratih yang paling bawel dan yang paling sangat menguwatirkan pria itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Dek, betul itu apa yang dikatakan ayah padaku bahwa kau masuk Bintara bahkan berencana untuk menjadi polisi bagian kriminal, itu sangat berbahaya, Dek, kalau kamu tidak dapat di cegah setidaknya jangan bagian kriminal, kakak itu sangat kuatir, Dek." Suara Ratih mengemah di telinganya lewat panggilan telpon, yang membuat pria itu harus menjauhkan beberapa kali dari telinganya.


"Wa'alaikumsalam, Mbak, kamu gak usah kawatir, aku sudah membekali diriku ketika akan memutuskan untuk masuk di kepolisian jadi Mbak tidak perlu kawatir pada diriku, aku sudah besar Mba dan sudah bisa memutuskan sendiri apa yang terbaik untukku, doakan saja agar aku dalam keadaan baik-baik saja, Assalamualaikum." Vino menutup sambungan teleponnya sepihak lalu mematikannya, sementara Ratih yang ada di Boston tengah menasehati adiknya lewat telepon itu hanya bisa menatap handphonenya, saat vino menutup perbincangannya Secara sepihak.


__ADS_2