
Hari pernikahan pun Tiba, pesta di laksanakan dengan sangat sederhana karena kondisi Belvi saat itu belum sembuh benar dari lukanya.
Setelah Prosesi akad nikah mereka langsung terbang ke Surabaya, karena Vino sudah mulai bekerja di sana satu Minggu yang lalu.
Satu jam perjalanan akhirnya mereka tiba di sebuah apartemen mewah yang sudah dibeli Vino untuk tempat tinggal mereka.
Mereka berjalan menuju pintu apartemen dan membuka pintu dengan key card-nya lalu mereka pun masuk, Vino membimbing langkah istrinya. menuju kamarnya, alangkah terkejutnya dia saat kamar sudah di hias di menatap sang istri yang juga terkejut lalu merona wajahnya.
Vino tersenyum menikmati rona wajah Belvi yang merona saat dia tengah tersipu.
Vino mempunyai ide jahil mengerjai istrinya, ia pun berbalik badan dan mengunci pintu kamarnya lalu mendekati sang istri melepas hijab dan meraih pinggangnya serta memegang kedua tangan Belvi hingga tidak bisa mengerakan ke dua tangannya lalu melepaskan kancing tunik sang istri satu-persatu, Belvi panik pasalnya saat ini dia belum bisa melayani suaminya karena lukanya itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Belvi.
__ADS_1
"Menurut mu?" tanya Vino sambil memandang belahan dada Belvi yang terlihat jelas.
Belvi menelan salivanya, ia begitu sangat malu.
"Aku belum bisa, Vin," katanya pada pria itu sambil menatap lekat Vino.
"Aku hanya ingin melihat lukamu apa sudah benar-benar kering atau belum. kalau sudah kita bisa melakukannya sekarang," kekehnya sambil tangannya nya membelai lembut pada wajah Belvi lalu turun menyentuh bibir gadis itu dengan ibu jarinya.
"Bolehkah aku meminta yang ini," katanya sambil mendekatkan bibirnya kearah Belvi, dan tangannya menyusup masuk dalam kain penutup dan me re m4s dada gadis itu dengan lembut, membuat Belvi benar-benar hilang akal lalu sebelum gadis itu mengangguk bibir Vino telah menyambar bibir indah merah merona itu, melahapnya dengan sangat lembut, menikmatinya begitu lamanya dan melepaskan saat pasokan udara telah habis.
Vino menarik tangan Belvi dan mengajaknya duduk di bibir ranjang lalu Vino berjalan menuju kopernya dan mengambil sesuatu yang ada di dalam koper sebuah bungkusan kado kecil.
Vino menghampiri kembali sang istri. "Vi, saatnya itu tiba beri tanda padaku dengan memakai ini."
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Belvi hendak membuka bungkusan itu.
"Jangan! Nanti saja kalau sudah waktunya," pinta Vino
"Kalau aku melanggar bagaimana?" tanya Belvi
"Aku pun akan melanggar, dan saat itu pula siap untuk membuka segel," kata Vino sambil tertawa
"Oh ya Allah, ada gadis halal di kamarku tapi aku belum bisa menyentuhnya," katanya tertawa.
Belvi menunduk. "Salah siapa kau ingin menikahiku secepat ini."
"Tidak apa-apa setidaknya aku bisa merawat luka mu sambil memandang keindahan yang belum pernah sama sekali kulihat," katanya sambil tertawa.
__ADS_1
Lagi-lagi Belvi merona masih membekas rasa yang di tinggalkan dari sentuhan Vino tadi ingin rasanya mengulang kembali. Namun, untuk meminta rasanya sangat malu.
Vino membuka kancing kemejanya lalu melepaskannya membiarkan dia te l4n j4ng dada lalu membaringkan tubuhnya di ranjang. "Kemarilah, tidur lah di sampingku, aku tidak akan lakukan apapun, hanya menunjukkan pesonaku di hadapanmu," kekehnya.