
Hans terus menyeret gadis tersebut, kesal karena akhirnya ia pun menggendong Cahaya. Tidak ada yang berani mencegah Hans pada gadis itu dan Belvi pun terdiam terkejut melihat kejadian itu. Hans masuk ke dalam ruangannya sambil berteriak pada Belvi yang saat itu menyamar sebagai Nina. "Hai, setelah selesai, tinggalkan tempat ini dan tunggu sampai aku memanggilmu lagi. Jangan mengatakan apa-apa! Jika tidak, temanmu dan dirimu sendiri yang akan kena!" lalu ia mengunci pintu tersebut.
Belvi pergi agar tidak terjadi apapun pada gadis itu dan dia tidak ingin gegabah bertindak. Dia pun pergi dari area tersebut dan saat yang bersamaan dia berpapasan dengan Dokter Ari. "Apakah kakakku mengusirmu, Nina?" tanya dokter Ari pada Belvi.
"Tidak, Dok. Saya hanya disuruh pergi sementara dan Kalau Dokter Hans membutuhkan saya, beliau akan memanggil saya", jawabnya sopan.
"Kalau begitu, tolong buatkan kopi dan bawakan ke ruanganku! Perintahnya pada Belvi sambil bergumam lirih. "Aku kira kakakku akan melirikmu, ternyata tidak," katanya berlalu dari pandangan Belvi.
Belvi mengembuskan nafas berat lalu berjalan menuju pantry. "Ada apa?" tanya Vino pada Belvi yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
"Tidak apa-apa, selesaikan saja pekerjaanmu, aku ingin pergi ke pantry membuat kopi untuk Dokter Ari," kata Belvi sambil melanjutkan langkah menuju pantry.
Vino mengangkat bahu, seolah-olah tidak peduli dengan sikap Belvi, padahal dia sangat khawatir dengan gadis itu. Belvi merasa ini akan sulit bagi dirinya, bahkan dia tidak bisa mendekati Dokter Hans yang menjadi target sesuai dengan berita mengenai bisnis ilegal yang dijalankan oleh tuan Damian dan dibantu oleh Dokter Hans. Bahkan Dokter Ari tidak mengetahui tentang usaha ayahnya selain dari rumah sakit.
Sementara itu, di ruangannya, Hans masih menatap Cahaya, gadis yang biasa membersihkan kantornya, tanpa berkedip. Gadis itu duduk di sofa. "Datang kemari!" perintah Hans pada gadis tersebut, sementara ia masih berdiri di depan pintu yang tertutup.
"Maaf, Dok, saya duduk di sini saja," katanya sambil menunduk.
__ADS_1
"Datang kemari! Atau aku akan melakukan sesuatu yang akan kau sesali seumur hidupmu," katanya.
Cahaya menatap pria itu, rasa takut semakin meningkat, dia pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri dokter Hans, lalu berhenti dengan jarak dua jengkal. Hans tersenyum menyeringai. 'Kau pikir aku sebodoh itu hah,' batinnya. Hans menarik tangan Cahaya hingga ketarik ke depan dan menabrak dada bidangnya lalu Hans memeluknya dengan sangat erat.
"Aku mengenali tubuhmu, gadis nakal. Kau kira aku tidak bisa mengenali siapa dirimu meski telah merubah warna kulitmu dan namamu. Aku tidak bodoh, meski sempat kau bodohi," kata Dokter Hans tepat di dekat telinga Cahaya, kemudian mengulumnya. Cahaya kelabakan karena tempat itulah kelemahannya.
Dokter Hans terus menyerang titik kelemahannya hingga lemas dan terengah-engah. "Dok, hentikan! Tolong hentikan!" katanya memohon.
"Aku tidak akan berhenti sebelum kau berjanji untuk tidak pergi-pergi lagi dari ku, aku membutuhkanmu Cahaya, aku menginginkanmu, mau tidak mau kau adalah milikku. Satu minggu yang lalu, sekarang dan seterusnya, kau milikku," katanya sambil menggendong tubuh gadis itu menuju kamar pribadinya, sambil terus menyerang titik kelemahan Cahaya. Setelah itu, dengan waktu singkat, ia sudah melucuti pakaiannya dan Cahaya, sehingga keduanya berada dalam keadaan polos. Hans sudah bisa menikmati tubuh gadis yang selama ini ia incar, dia bermain dengan seluruh indranya, mencium dan meraba. Air mata Cahaya mengalir deras, apa yang dijaganya selama ini akan benar-benar hilang. Dia tak bisa melawan pria itu karena tenaganya begitu kuat. Dia salah, seharusnya ia berhenti pada saat itu juga dan tidak kembali dengan penyamaran yang sia-sia belaka.
Hans menatap wajah gadis yang berada dalam kekuasaannya, "Jangan menangis, aku akan memperlakukanmu dengan baik dan akan menikahimu. Tapi dengan syarat, jangan lari dari ku. Jika tidak, kau tidak akan bisa membayangkan apa yang akan kulakukan pada keluargamu, gadis-gadis desa itu," kata Hans sambil menatap tubuh indah yang warna kecoklatannya telah memudar.
Cahaya menggeleng lemah. "Jangan, Dok!" katanya.
"Kau menggeleng tapi tubuhmu menerima, Haya. Lihat, kau basah. Aku segera memulainya. Jangan menolak karena sekarang hanya kamu yang bisa membangkitkan gairahku itu. Sebab itulah aku mengenalimu," kata Hans sambil masuk ke dalam bagian tubuh terindah dari gadis yang dipujanya. Lalu ia menghentakkan dengan kuat, Cahaya berteriak kesakitan dan langsung dibungkam oleh bibir Hans. Hans terus mendorong hingga ke dasar, lalu berhenti sejenak kemudian menggerakkan tubuhnya dengan sangat liar. Pria itu benar-benar dibuat menggila oleh kenikmatan yang didapat dari gadis itu.
Sementara itu, Belvi semakin cemas. Sudah hampir empat jam ia tinggalkan area ruangan Dokter Hans dan dia belum dipanggil lagi ke sana. Dia duduk di sofa dan tidak tahu mengapa dia diminta untuk duduk di sana dan tidak melakukan apa-apa selain hanya menunggu menyaksikan Dokter Ari memeriksa rekam medis pasiennya.
__ADS_1
Dia melirik sejenak gadis bernama Nina lalu tersenyum. "Kenapa kau gelisah? Apa kau mengkhawatirkan Yaya? Jangan khawatir, andai terjadi hal yang tidak diinginkan, kakakku akan menikahinya. Kali ini dia sangat serius pada gadis itu, tak akan mungkin menyakitinya," kata Dokter Ari.
"Tetap saja tidak boleh. Walaupun dengan dalih cinta, itu akan sangat melukai hati Yaya," kata Belvi semakin cemas.
"Aku bisa melakukan apa jika kakakku menginginkannya," kata Dokter Ari.
"Apa anda tidak bisa mencegah Dokter Hans melalukan sesuatu pada, Yaya? Apa Anda tidak memiliki kuasa?" tanya Belvi pada pria itu.
Dokter Ari menggeleng, dan kembali dengan pekerjaannya.
Belvi menghembuskan nafas dia mulai mengalihkan pembicaraannya.
"Apa Anda tidak memiliki pasien hari ini, Dok?" tanya Belvi pada Dokter Ari.
"Hari ini bukan jadwalku tapi aku tetap harus datang ke sini. Jika ada darurat, aku yang menanganinya," katanya pada Belvi.
"Dok, bolehkah saya pergi untuk melanjutkan pekerjaan saya?" tanya Belvi pada Dokter Ari.
__ADS_1
"Sebelum kamu pergi, aku ingin bertanya padamu, siapa sebenarnya kamu? Kenapa menyamarkan wajah cantik itu? Jangan kau kira kakakku tidak tahu jika itu bukan wajah aslimu. Maka dari itu, dia menahan mu untuk bekerja di ruangannya bersama Yaya. Jika kamu mencemaskan Yaya, kamu keliru, karena kamu sudah terkena bidikannya. Jika bukan untuknya, maka untuk ayahku. Itu sebabnya aku memintamu di ruanganku," ujar Ari dengan serius.
"Jika itu terjadi padaku, apakah kau bisa menolongku, Dok? Tidak, kan? Kamu tidak bisa menolongku dan akan membiarkan mereka membawa aku,"ungkap Belvi pada pria yang duduk di mejanya.