
Beberapa saat kemudian mereka pun sudah menyelesaikan makan malamnya. Vino melirik jam di tangannya menunjukkan pukul sepuluh malam,
"Vi, aku balik ke hotel dulu ya," katanya pada gadis itu.
"Hem," jawab Belvi dengan tatapan datarnya.
"Vi, boleh tidak sih? Kenapa mayun gitu?" tanya Vino lagi.
"Iya itu kan tugasmu kalau terjadi apa dengan tu cewek kamu mangkir dari tugas, dan ngapain pakai pamit segala sama aku," katanya pada Vino.
"Gak apa-apa latihan saja biar nanti kalau sudah jadi suami biar terbiasa," kata Vino seenaknya.
"Suami siapa?" tanya Belvi.
"Siapa saja yang mau? Kalau kamu mau boleh juga, lagian aku pun sudah terbiasa dengan kamu," kekeh Vino
"Jangan bicara sembarangan," kata Belvi pada Vino.
"Siapa yang bicara sembarangan, aku tidak begitu semua yang ku katakan benar dan hari ini kencan pertamaku denganmu dan di sambut hangat dengan calon mertua, lalu untuk apa aku cari yang lainnya," kata Vino sambil menatap lekat gadis itu.
"Vin!" teriak Belvi sambil memukul lengan Vino,
Vino tertawa."Boleh gak nih balik ke hotel?" tanyanya lagi.
"Boleh, itu tugasmu," jawab Belvi semakin jengkel.
Vino merogoh saku jasnya, "Kemari kan jemarimu!" pinta Vino.
"Untuk apa?" tanya Belvi.
"Kenapa kau selalu saja bertanya? Tolong lakukan saja dan jangan banyak tanya!" pinta Vino.
"Baiklah Tuan muda Vino," jawab Belvi sambil tertawa
Vino lalu menyematkan cincin di jari tengah bukan di jari manis gadis itu.
"Dengarkan aku cincin ini untuk melindungi mu, ada gps di sini dan jika kau tekan tombol tengah maka muncul pisau kecil ini, kau bisa gunakan dalam keadaan darurat jika kau ingin menyembunyikannya kau tinggal menekan atas dan bawah, kau hanya bisa menyayat leher atau menyerang mata lawan. Cincin ini memang didesain ukuran jari tengahmu jadi jangan kau pindahkan dan tetap harus kau pakai agar aku tahu keberadaan mu, kau mengerti Vi?" tanya Vino
"Ya aku mengerti," jawab Belvi dengan mata berkaca-kaca.
"Hai kenapa nangis?" tanya Vino
"Enggak ku kira kau membenciku karena sering memarahiku, kamu kalau ngomong menyebalkan, jadi ku kira ...." Belvi menundukkan wajahnya.
"Itu karena kamu, bodoh dan ceroboh itu sebabnya aku marah," kata Vino terkekeh.
__ADS_1
"Ahh, kau! Aku tidak bodoh tahu!" teriak Belvi
"Ya, kamu tidak bodoh itu sebabnya aku cemas, Ya sudah aku mau balik ke hotel, taksiku sudah menunggu di depan rumahmu, salam buat ayah dan bundamu, ya, Jangan panggil beliau tidak sopan! Cukup antarkan aku di depan," kata Vino beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah depan di ikuti Belvi.
"Vin, kapan kau memesan ini?"
"Satu Minggu yang lalu, Kenapa?" tanya Vino
"Tidak apa-apa, Trimakasih, sudah memperhatikanku," ucap Belvi
"Tak usah, kau pikirkan, aku pamit yaa, jaga dirimu jangan bodoh!" kata Vino lagi.
"Vin! aku tidak bodoh, sudah sana masuk, taksi sudah menunggu lama," kata Belvi sambil membuka pintu dan mendorong pria itu masuk dalam kendaraan itu, tak lama kemudian berjalan meninggalkan rumah.
"Sudah pulang?" terdengar suara pria dan wanita di tangkap oleh telinga Belvi, dia pun menoleh.
"Dad, Bun!" sapa Belvi terkejut.
"Kok kaget gitu sih?" tanya Naila
"Habis kita kira Daddy dan Bunda sudah tidur jadi tadi ...?" Belvi pun melongo dan mereka tertawa terpingkal-pingkal.
"Kalian memang ahlinya," kata Belvi bersunggut-sungut.
"Kita kan gak sengaja dengar ya, karena Bunda terbangun dan gak bisa tidur dan menurut Daddy dia sudah mencintaimu Vi seutuhnya, tidak ada bayang-bayang kakakmu di hatinya itu menurut Daddy, sih," kata Albert sambil tertawa.
"Tidur, sana! besok harus kerja kan," kata Daddy pada Belvi.
"Iya, Dad," jawab Belvi sambil berjalan masuk bersama ayah dan Bundanya, setelah mengunci pintu rumahnya. Mereka pun masuk ke dalam kamar masing-masing.
.
.
Sementara itu taksi Vino sudah berada di depan gedung hotel tempatnya menginap. Diapun segera turun dari taksi lalu berjalan ke dalam hotel lalu memasuki lift dan membawanya kelantai atas di mana ia menginap.
Lift berhenti dan pintu terbuka diapun keluar berjalan menuju kamarnya tak ada kecurigaan apapun dia menempelkan key card di pintu setelah itu terbuka, Vino merasa aneh kenapa ruangan begitu gelap dia pun menyalahkan lampunya dia terkejut di ranjang tidak ada Sari. Pria itu mencarinya hingga ke kamar mandi tetapi tidak menemukannya. Akhirnya dia berteriak," Sari, kemana kamu?"
"Saya di sini, bantu saya tuan saya tidak bisa keluar tarik tangan saya," jawab Sari yang ternyata ada dikolong tempat tidur.
"Hai kenapa kamu di situ? Bukan kah lebih enak tidur di atas ranjang? Kenapa malah di kolong tempat tidur?" tanya Vino sambil melihat kearah tempat tidur.
"Tuan jangan tertawa saya sedang sembunyi di sini bukan ingin tidur di sini, coba pegang tangan saya dingin bukan karena saya sangat ketakutan," kata Sari sambil memegang tangan vino yang mulai menariknya keluar dari kolong tempat tidur.
Ia duduk di lantai sambil menarik nafas meng hilangkan Rasa ketakutannya, lalu ia berbisik," Tuan mereka memasang kamera tersembunyi tolong temukan dulu."
__ADS_1
"Baik lah setiap aku berbicara kau harus bilang Iya, dan janga tanya kenapa," kata Vino pada gadis itu, Sari pun mengangguk.
"Sini duduk sini aku tadi membelikan mu nasi goreng, aku menyesal tadi tidak mengajakmu, aku pikir kamu akan sangat lelah setelah melayani ku tiga ronde berturut-turut, dan meninggalkan mu di hotel sendirian di sini," katanya.
Sesaat Sari bingung apa yang dikatakan Vino tetapi dia mulai tahu apa yang di maksud oleh Vino.
"Iya, saya kelelahan karena ulah anda di tambah saya sangat lapar dan ketakutan apa tuan mau protes pada tuan Beril karena mengganggu kenyamanan kita," kata Sari pada vino, sementara itu Vino terus mencari kamera itu dan akhirnya menemukannya, dan ditaruhnya di saku jasnya lalu dia mencari kembali sesuatu alat yang lain mungkin penyadap atau sebagainya, setelah mencari ia menemukan penyadap suara dibawa kolong meja lalu mengambilnya lalu menghampiri Sari," kamu tunggu di sini atau ikut saya," tanya Vino pada perempuan itu.
"Saya ikut Tuan saja saya takut, di sini," kata Sari langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Baiklah ayo ikuti saya," kata Vino.
dia pun berjalan menuju lift yang membawanya ke lantai dasar setelah sampai lantai dasar dia menuju ke resepsionis.
"Kenapa ada orang yang masuk ke kamar saya dan mengganggu privasi saya, tolong panggilkan manager kalian," perintah Vino tegas.
"Maaf Tuan tadi memang ada orang yang meminta key card cadangan karena kata mereka ada terkunci di kamar, jadi kami memberikan key card pada orang itu," kata resepsionis.
"Panggil sekarang juga manajer hotel ini!" teriak Vino.
Tak seberapa lama seorang pria paruh baya datang menghampiri mereka. "Ada apa ini?"
"Pegawai telah memberikan key card cadangan pada orang lain di kamar kami dan mereka masuk di kamar kami saat kami keluar kamar dan memasang ini, bagaimana pertanggung jawaban Bapak selaku manajer hotel ini," kata Vino.
"Baik pak maafkan keteledoran kami. Akan saya ganti dengan kamar lain dan anda tidak perlu membayar uang sewa hotel, maaf atas ketidaknyamanannya. Mari saya antar ke kamar Anda yang baru," kata Manager hotel itu.
Vino menaruh alat penyadap dan kamera di meja resepsionis.
Resepsionis itu mengambil kamera lalu dia mulai memaki, "Dasar ya kalian seenaknya saja memperlakukan kami, jika kami di pecat kami sumpahi hidup kalian tidak akan nyaman, sial loh!" teriak Ema salah satu resepsionis hotel tersebut.
Beril yang terhubung dengan kamera itu terkejut. Namun sedikit tertarik dengan resepsionis barbar itu, Dia pun tersenyum menyeringai lalu menghubungi manager hotel tersebut.
Sementara itu setelah manager hotel itu mengantarkan Vino yang memakai nama Al di kamar hotel lain dia pun kembali ke ruangannya, dia sangat di buat pusing oleh teman atasannya itu tapi bagaimana lagi dia hanya sebagai bawahan saja.
Tiba-tiba terdengar notifikasi pesan wa dan sebuah Video.
Beril
[ Kirim gadis ini di hotel pusat ku besok]
Bram
[Baik, Pak]
Rasanya kepalanya mau pecah yang satu belum selesai yang satu lagi bikin ulah dasar Ema. 'Ya sudah terserah kamu saja, aku tak bisa menolongnya,' bisik bram dalam hati.
__ADS_1
"