Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Tentang Kesedihan


__ADS_3

"Gloria terlalu sakit untukku, aku seperti lelaki yang tak pernah kau butuhkan, mungkin beginilah perasaan ayahku saat di tinggal bunda tanpa kata dan tanpa tahu apa yang terjadi dan aku tak tahu apa aku bisa melupakanmu atau tidak atau justru sangat membencimu, maaf ini pertama dan terakhir aku kesini, semoga kau di tempatkan di tempat yang terbaik." Vino berdiri setelah membaca doa terbaik untuk Gloria lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


Semua yang dilakukan Vino tak lepas dari pengelihatan lelaki paruh baya yang diam-diam mengikutinya.


Vino masuk kedalam mobil yang setelah itu meninggalkan tempat pemakaman tersebut.


"Tuan ingin kemana? akan saya antar kemanapun Anda pergi, hari ini Tuan Bara menyuruh saya mengantar Anda kemana pun Anda ingin pergi," kata supir itu dengan sopan.


"Ok! Antarkan saya ke taman umum Pak," pinta Vino pada supir itu.


Sementara itu, lelaki paruh baya itu pun juga pergi dari area pemakaman dengan hati dan pikiran tidak menentu ia membuka pintu mobilnya dan duduk di belakang kemudi, gadis yang berada di sebelahnya mengernyitkan dahinya ia tak tahu apa yang terjadi pada ayahnya.


Dengan logat bahasa Inggris yang kental dia bertanya pada ayahnya itu, "Dad apa yang terjadi? katakanlah!" Lelaki yang bernama Albert West itu hanya menggeleng lalu menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Lelaki itu sedang meratapi nasibnya di dalam benaknya tersimpan sebuah penyesalan yang amat dalam. Andai saja saat itu tidak terjadi kebakaran yang menghanguskan rumah dan menewaskan istrinya karena melindungi putri-putrinya dari kobaran api.


Saat dia sibuk menolong istrinya yang mengalami luka bakar 90% itu, dia kehilangan salah satu putri kembarnya yang di titipkan di rumah saudaranya, entah bagaimana itu bisa terjadi, ia tidak tahu.


Bertahun-tahun mencari putrinya, ketika bertemu semuanya telah terlambat. Jika tidak, mungkin Gloria masih bisa di selamatkan dengan pencangkokan sumsum tulang belakang yang di dapat dari Belvina kembarannya.


Gadis yang duduk di samping Albert menatap bingung atas perubahan ayahnya, gadis itu adalah Belvina Birdella kembaran dari Glora.


Tiba-tiba Belvina berteriak," Berhenti Dad!" membuat Albert menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.


"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba berteriak?" tanyanya pada putrinya.


"Dad, ada apa denganmu? Jika Daddy mengemudikan dengan cara seperti ini, kita akan segera menyusul kak Gloria dan mommy. Biar aku yang mengemudi! Kurasa Daddy tidak sedang baik-baik saja," katanya sambil membuka pintu dan berjalan memutar begitu pula dengan Albert, yang sedang berganti posisi.

__ADS_1


Suara klakson terdengar bersahutan dari arah belakang, karena mobil mereka berhenti di tengah jalan cukup lama, membuat pengendara lainnya marah. Umpatan kecil terdengar di telinga Balvina disaat mobil lain menyalipnya.


Belvina segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sambil mengemudi ia bertanya pada Ayahnya itu. "Dad apa yang terjadi?"


"Apa kau masih ingin mewujudkan keinginan kakakmu?" tanya Albert.


"Kenapa Daddy malah balik bertanya padaku?" tanyanya sambil terus mengemudi.


"Karena dia berbeda keyakinan dengan kita Bel, dia beragama islam sedangkan kita Nasrani. Dia juga membenci kakakmu, dia mengira kakakmu mempunyai kekasih lain karena hanya melihat bunga mawar lain ada di pusara itu hari ini," kata Albert


"Apa dia sudah datang? tanya Belvi.


"Sudah dia yang kau tabrak tadi," jawab Albert yang membuat Belvina terkejut dan mengerem mobilnya dengan mendadak. Albert terhuyung kedepan.


"Kau mengemudi dengan sangat buruk Bel," kata Albert


"Dia sepertinya membenci kakakmu," kata Albert


"Bagaimana Daddy tahu kalau dia membenci kak Gloria?" tanya Belvi pada ayahnya.


"Daddy ada di sana saat dia mengeluh tentang kakakmu, kurasa kau akan sulit mendapatkan hatinya, bahkan kau sudah menabuh genderang perang dengannya," kekeh Albert pada Belvi.


"Aku semakin ingin menaklukkannya, daddy," kata Belvi sambil tersenyum.


"Apa kau akan mengikuti keyakinan kakakmu, dan menjadi mualaf?" tanya Albert lagi pada putrinya.


"Aku tidak tahu, Dad. Kalau Daddy bagaimana?" tanya balik Belvi.

__ADS_1


"Kau itu, kalau ditanya malah balik tanya," keluh Albert pada putrinya itu dan Belvi hanya tertawa. Mobil pun berhenti di rumah yatim piatu yang besar dan sederhana itu.


Mereka masih tinggal di sana, rencana mungkin nanti atau esok hari akan kembali ketempat tinggal mereka, sang pemilik rumah tidak akan keberatan jika mereka tinggal untuk waktu yang cukup lama.


Mobil yang ditumpangi Vino telah sampai dan berhenti di taman umum Boston. Vino keluar dari mobil masuk kedalam taman itu berjalan di tempat-tempat yang pernah dilalui bersama Gloria.


Di sini lah mereka mengukir cinta mereka berbincang dan berjalan bersama menikmati indahnya taman, di sini pula Vino dengan diam-diam menatap wajah cantik nan teduh itu yang akan tertunduk malu ketika tatapan saling bertemu. Tak ada sentuhan tangan sekedar saling bergandengan, hanya berjalan bersisian Kadang Vino sengaja melambatkan langkah untuk sekedar ingin melihat tubuh indah terbalut jubah dari belakang, menatap penuh kekaguman pada punggung sang kekasih.


Vino terus berjalan mengenang semua keindahan yang terasa perih di dada.


'Jika dunia dan semesta Alam tidak menghendakinya lalu kita bisa apa?' gumamnya dalam hati.


Mengenangnya seperti menyayat luka sendiri dan menikmatinya dengan sukarela, bahkan selalu ingin ia lakukan berkali-kali.


Vino berhenti dan duduk di bangku taman meraba sisi dimana tempat itu pernah diduduki Gloria, dipejamkan matanya sebentar hanya sekedar ingin menghadirkan sosok cintanya di dalam angannya. Vino berdiri dan berjalan keluar dari taman itu dan masuk dalam mobilnya. "Pak, ke Nantasket Beach," pinta Vino setelah ia duduk dikursi tengah dengan duduk menyandar.


Mobil berjalan menuju pantai Nantasked samar terdengar oleh suara merdu dan tawa dari Gloria. "Vin, aku ingin pergi ke pantai Nantasked, apa boleh?" katanya sambil tersenyum


"Tentu, akan ku Antar," jawab Vino sambil menatap manik matanya yang indah itu.


"Apa ini termasuk pacaran? Ayah tak mengijinkannya, berkhalwat dengan seorang pria," katanya dengan derai tawa lirih.


"Tidak aku sudah bilang pada ayah angkatmu aku akan menjaga jarak denganmu, anggap saja saat ini aku adalah supirmu yang akan mengantarkanmu kemanapun kau pergi," katanya sambil tersenyum


"Janji yaa, dan jangan melihatku," katanya sambil tertawa lirih


"Kalau melihatmu aku tidak bisa janji, Glo," katanya sambil mengemudikan mobil kakaknya saat itu dan mencuri pandang lewat sepion, yang mengarah pada gadis yang duduk di bangku tengah itu.

__ADS_1


Sambil mencuri pandang ia tersenyum hatinya bahagia walau sekedar melihatnya sekilas mata seolah telah mengenggam hatinya gadis itu untuk selamanya.


__ADS_2