
Vino tertawa. "Aku mencintai mu, Belvina Birdella. Maukah kau menjadi istriku, ratu di hatiku untuk selama-lamanya?" tanya Vino dengan menatap lekat pada gadis itu, jantung berdetak sangat cepat.
Belvi menatap pria yang duduk di depan mencari kejujuran di raut wajah itu. "Aku juga mencintaimu Vin, aku memutuskan mengejar mu bukan karena permintaan kak Glo tetapi karena aku benar-benar mencintaimu," katanya lirih.
"Vi, ucap sekali lagi aku tidak mendengarnya," pinta Vino sebab gadis itu memelankan volume suaranya.
"Ah ... kau ini kenapa tidak dengarkan baik-baik, aku tidak mau mengulangnya, aku malu," jawab Belvi dengan ketus.
"Baik lah, setidaknya jawab lamaranku, sayang," tuntut Vino.
Belvi, terkekeh, "Kenapa aneh di telingaku saat kau panggil sayang?" tanya Belvi.
Vino menghembuskan nafas, mencoba menahan rasa kesalnya pada Belvi, sebab dia telah merangkai kata dengan begitu indahnya tetapi di patahkan oleh gurau Belvi.
"Ayo lah, Vi, jangan bercanda aku benar-benar serius," jawab Vino.
"Maaf, hemm ... ya, aku mau jadi istrimu karena aku juga mencintaimu," katanya dengan keras tetapi memalingkan mukanya ke arah lain dia tak ingin Vino melihat rona merah di wajahnya.
Vino tertawa. "Terjawab sudah, tadinya jika kau belum mencinta ku, akan ku putuskan untuk mengejar mu, ternyata kau juga punya perasaan yang sama dengan ku, trimakasih, Vi, satu hal lagi yang ingin ku pinta dari keluarlah dari satuan aku juga akan keluar meneruskan usaha ayahku, aku pria satu-satunya yang diharapkan untuk mengelola perusahaan itu, apa kau bersedia?"
"Baiklah, urus sekalian pengajuan mundur dari kesatuan," jawabnya.
__ADS_1
"Baik Nyonya Vino akan ku urus segera," jawabnya, Belvi terkekeh.
"Trimakasih, aku akan bicara dengan ayah mu, dan segera mungkin kita akan menikah, karena aku ingin merawat lukamu itu, Vi," ucapnya sambil tersenyum berjalan keluar kamar menemui ayah Belvi.
"Om, Tante, saya ingin bicara dengan kalian," ucap Vino saat sudah di ruangan tamu.
"Katakan saja,Vin Om dan Tante, siap untuk mendengarkannya," jawab Albert.
"Saat saya sudah yakin Om, bahwa saya mencintai putri Anda Belvina, bukan almarhum Gloria, mungkin dia adalah jalan saya untuk bertemu dengan putri om yang lainnya dan saya berniat untuk meminang putri Om, untuk lamaran resminya, Om akan segera Vino lakukan setelah menyampaikan niat baik saya ini pada ayah saya," kata Vino dengan lantang.
"Om, sangat terkejut, ku kira Belvi tak akan sanggup merubah hati mu ternyata Allah menggerakkan hatimu menatap cinta Putriku padamu, Om menunggu kehadiran keluarga mu untuk meminang Belvi," jawab Albert penuh dengan suka cita dan Vino berpamitan untuk pulang setelah berbincang-bincang hangat dengan calon mertua.
Vino melajukan motornya dengan kecepatan sedang, setelah menelpon keluarganya meminta hari ini berkumpul di meja makan karena ada yang dia sampaikan.
Dia pun duduk bersama dengan mereka dan mulai menyampaikan apa yang menjadi keinginannya.
Ratih terkejut dan sekaligus bahagia karena sang adik telah menemukan tambatan hatinya dan sudah memantapkan dirinya untuk segera meminang gadis tersebut.
Rasanya ingin segera bertemu dengan gadis itu itu yang dirasakan oleh Ratih pada saat ini ya begitu penasaran seberapa miripnya dia dengan almarhum Gloria.
.
__ADS_1
.
.
Satu Minggu kemudian, Vino dan dan keluarganya datang di Kediaman Belvina, dia memakai gamis berwarna putih dan duduk di samping kedua orang tuanya, acara begitu hikmat hingga di penghujung acara dan dua Minggu kedepan acara pernikahan mereka.
Vino telah mengurus surat pengunduran dirinya dan Belvina sebagai polisi dan masih di proses akan ada surat resmi pemutusan kerja nantinya.
Setelah mereka mendapatkan kesepakatan mereka pun pulang ke kediamannya.
Ratih yang baru bertemu dengan Belvi, merasa seperti melihat almarhum Gloria bedahnya, Belvi lebih tegas. Wanita itu memeluk Belvi dengan erat tetapi di peringatkan Vino.
"Kak, hati-hati! Lukanya belum sembuh betul," kata Vino memperingatkan sang kakak.
"Oh, maaf ya, Dek habis aku sangat bahagia sekali lama aku menunggu moment ini dan akhirnya terjadi juga adikku menjatuhkan pilihan yaitu kamu," ucap Ratih cukup panjang.
"Ahh, tidak apa-apa, Kak, Vino saja yang terlalu berlebihan," kekehnya.
"Itu tanda cinta, Dek," timpal Ratih membuat Belvi tersipu.
Mereka berpamitan pulang, setelah semuanya masuk dalam mobil, kendaraan itu pun berjalan meninggalkan rumah Belvi.
__ADS_1
Perjalanan terasa sangat begitu lambat ketika Vino mendapatkan candaan dari seluruh keluarga dan dia hanya tersenyum menanggapinya.
Setelah satu jam perjalanan mereka pun sampai Vino segera pergi ke kamar menghindari godaan sang kakak yang tak ada habisnya.