Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Lolos dari Kejaran


__ADS_3

Saat itu Violeta yang pingsan tidak jauh dari club dia berkerja telah siuman, dia bingung kenapa dia berada di toilet dan tengah tertidur, dia melihat lantainya kering itu artinya hanya dia yang memakai toilet itu.


Violeta beralih melihat bajunya, masih seperti dia berangkat kerja tadi. Dia pun memegang ganggang pintu mengecek apakah terkunci atau tidak, ternyata tidak dia pun keluar dan menuju tempat kerjanya, terlihat telah terjadi sesuatu hal, Juan begitu paniknya berjalan menuju bartender, alangkah terkejutnya saat melihat Violeta yang ada di sana.


"Mana Rosa?" tanya Juan pada Violeta.


"Rosa siapa, Tuan? maaf tadi saya pingsan jadi saya baru saja tiba disini," kata Violeta.


"Jadi kau tidak punya teman yang namanya Rosa?" tanya Juan dan Violeta hanya menggelengkan kepala. Tangan Juan mengepal dengan sangat kuatnya tatapannya berubah menjadi beringas karena marah, pasalnya malam ini dia telah banyak mengalami kerugian, tidak sampai lebih dari satu jam semua transaksinya digagalkan dan tempat usaha dilarang beroperasi selama semua kasus penyelundupan terselesaikan.


"Sial! Cari wanita itu! Jangan sampai kalian kehilangan jejak!" teriak Juan.

__ADS_1


"Maaf, Tuan, dia sudah pergi mungkin satu jam yang lalu," kata anak buah Juan.


"Sial, bagaimana polisi tau transaksi kita?" umpatnya pada anak buahnya.


Tanpa dia dan asistennya sadari Belvi telah menempelkan alat penyadap suara di ujung lengan Jas mereka sehingga saat Juan menerima telpon berita kedatangan barang-barang selundupan yang ia punya terekam jelas. begitu pun transaksi di ruang tertutup itu terbongkar dan polisi menyita semua yang ada di sana,disaat polisi mendobrak pintu ruangan itu, dia dan asistennya sempat menyelinap di ruang lain, sehingga hanya anak buah koleganya berhasil ditangkap basah.


Belvi memacu kuda besi dengan kecepatan tinggi karena dia mendapatkan instruksi untuk segera pergi dari tempat tinggalnya.


Vino melepaskan kemeja luarnya dan memberikan pada Belvi untuk ditaruh di plastik yang sama dengan pakaian Belvi yang nantinya akan di buang di suatu tempat yang sepi.


Vino langsung meluncur dengan sangat cepat ketempat kontrakannya untuk mengambil tas Ransel. Setelah itu, Vino kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju Bandara, tak membutuhkan waktu yang lama, mereka sudah berada di dalam pesawat.

__ADS_1


"Apa kau berhasil," tanya Vino sambil memakai sabuk pengamannya.


"Hem," jawab Belvi yang duduk dekat jendela kaca dan disebelah vino.


"Baguslah," kata Vino sambil menyandarkan punggungnya, tidak disangka gadis yang ada di sebelahnya ini begitu hebat, entah ada sesuatu yang aneh dan hati Vino. Namun, pria itu segera menampiknya.


Vino melirik Belvi, "Tidurlah! Kau terlihat sangat lelah dan yaa, aku akui kau sangat hebat, malam ini," kata Vino sambil mengulum senyum karena dia sendiri geli dengan apa yang dikatakan, memperjelas tidak mungkin, karena dia harus menutup rapat-rapat aksi hari ini.


Belvi melebarkan matanya, dan menatapnya tajam, membuat pria itu tertawa.


"Ayolah, kau tahu bukan apa yang ku maksud bukan? Jadi jangan marah! Tidurlah! Perjalananan kita cukup panjang."

__ADS_1


Belvi hanya terdiam, lalu menarik nafas dalam-dalam membuang rasa sebal sekaligus senang karena baru kali ini dia melihat Vino tertawa lepas.


__ADS_2