
Pagi harinya Vino duduk di restoran hotel dengan sari menikmati sarapan pagi, setelah selesai vino pun keluar melewati lobby lalu berjalan menuju Emi yang sedang duduk menunggunya.
"Em, ayo, saya antar dulu baru aku akan antar Sari," kata Vino pada Ema.
"Baik, Pak," kata Ema dengan cerianya di mengikuti dari belakang, tidak dengan sari ketika dia pulang di tempat tuan Beril kembali harus melewati masa-masa kelam, hari yang penuh penghinaan, semua ini tidak di inginkan akan tetapi dia bisa apa, hanya berharap suatu saat ada orang yang menolongnya keluar dari tempat neraka itu.
Mereka masuk dan mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang menuju rumah Ema, setelah perjalanan dua puluh menit mereka pun sampai di depan rumah Ema lalu berhenti.
"Pak motor saya tidak usah di ambil nanti kakak yang bawa pulang kesini," katanya lalu ia pun keluar dan mobil pun berjalan lagi menuju restoran di mana dia bekerja.
Rasa sedih menggelayut di wajahnya ingin sekali lari dari tempat itu tapi bagaimana caranya sara tidak tahu.
berkutat dengan hati dan pikiran tidak menyadari mobil itu sudah sampai dan parkir di depan restoran cukup lama.
"Sar ini sudah sampai apa kau tak ingin turun?" tanya Vino
"Ahh, sudah sampai ya, maaf saya melamun," katanya lalu menatap Vino lagi
"Pak, apa Bapak tidak bisa menolong saya keluar dari sini?" tanyanya pada Vino
"Aku belum bisa menolongmu, berdoalah agar ada hari di mana kau akan terbebas dari ini semua, sekarang turunlah jangan sampai keterlambatan mu pulang akan semakin membuat sengsara.
"Baik, trimakasih, Pak," jawab Sari lalu keluar dari mobil dan berjalan masuk melalui pintu samping.
Vino menatap punggung gadis itu, 'Gadis yang malang semoga aku dan rekan-rekan dapat membongkar kejahatannya ini dan kau bisa bebas usiamu mungkin masih sekitar tujuh belas tahun tetapi kau sudah terdampar di sini.' batin Vino.
Vino segera menancapkan gas dan Mobil melaju meninggalkan restoran itu berjalan dengan kecepatan sedang menuju apartemennya setelah sampai Vino keluar dari kendaraan dan berjalan melewati lobby dan masuk kedalam lift menuju lantai atas setelah berhenti dan pintu elevator terbuka Vino keluar dan berjalan menuju ke apartemennya.
__ADS_1
Vino menempelkan Key card-nya dan pintu terbuka dia masuk kedalam kemudian berjalan ke walk in closet berganti pakaian dengan kaos lengan pendek dan celana pendek sebatas lutut kemudian dia dia keluar dan merebahkan tubuhnya di ranjang, rasanya begitu penat hingga ia cepat tertidur dengan sangat pulas.
.
.
Sementara Belvi sudah sampai di restoran, tempatnya bekerja dengan sangat cekatan mengantarkan menu makanan dan minuman di meja pesanan pelanggan. Seseorang teman menghampiri lalu berbisik, "kamu di panggil tuan Beril suru mengantarkan ini di ruang privasi itu," katanya sambil menyerahkan nampan berisi makanan dan minuman
Belvi berjalan kearah ruang privasi dan masuk membawa makanan, tampa bicara di meletakan makanan di meja, dan segera berpamitan pergi dari ruangan itu.
"Sebentar, Ruri jangan pergi dulu, ada orang yang berminat ingin kamu temani minum, lumayan aku akan mendapatkan lima ratus juta dalam sehari, apa kau mau?" tanya Beril.
"Maaf pilih yang lain saja saya hanya ingin dan suka menjadi pelayan pengantar makanan saja," katanya pada tuan Beril.Lalu pergi meninggalkan ruang privasi itu.
Sementara pria yang bersama tuan Beril itu menatap pemilik restoran itu. "Anda gagal tuan dia tidak mau uang senilai lima ratus juta."
"Anda sabar saja dulu jika bukan hari ini lain hari saja dengan jebakan yang lain," kata Beril tersenyum menyeringai.
"Silahkan menikmati hidangan Tuan," ucap Beril pada pria dan keluar dari ruangan privat dia berjalan mencari sesosok wanita yang telah menolak side job sebesar lima ratus juta.
Beril menyapu pandangan keseluruh ruangan dan menemukan gadis itu tengah mengantarkan makanan di salah satu meja pelanggan restoran. Beril menunggu di meja penyajian, benar juga Ruri terlihat berjalan menuju meja penyajian untuk mengambil menu makanan yang di pesan di meja lain.
Begitu Ruri sampai, Beril memanggilnya.
"Ruri ikut saya sebentar," perintah Beril pada gadis itu.
"Baik tuan," jawab Ruri dengan tenang.
__ADS_1
Beril melangkah keruangan kerjanya di ikuti oleh gadis itu dari belakang, setelah sampai di ruangan itu Beril memerintahkan gadis itu duduk.
"Kenapa tidak mau Side job yang saya berikan pada mu, Rur," tanya Beril sambil menatap Ruri dengan tajam.
"Maaf Tuan, kata si Mbok, walau gak ikut minum dan saya tahu itu minuman kharam, tapi saya tetap menyajikannya itu saya juga dapat dosanya tuan jadi saya main aman saja gak apa-apa duitnya kecil tapi jangan melanggar itu," kata Ruri sambil menunduk dalam hatinya berbicara, 'Gue tahu maksud lo, Tuan dan jangan coba-coba jebak saya kalau kau tak ingin senasib dengan tuan Damian itu.'
Beril menatap gadis itu walaupun logat bicara seperti orang udik tapi dia selalu saja kala bicara. "Ya sudah kalau tidak mau uang besar, kembali bekerja sana," perintah Beril dengan kesal.
"Baik,Tuan, terimakasih saya permisi dulu," jawab Ruri.
Gadis itu berjalan keluar ruangan Beril dengan senyum tersungging, sedangkan Beril masih merancang rencana untuk mengumpulkan gadis-gadis perawan yang bisa dijerat dengan tipu muslihat lain.
Kembali meraih handphonenya, menelpon manager cabang hotel yang tadi malam terjadi sedikit ketegangan dengan tuan Al yang kamarnya di masuki anak buahnya guna memasang CCTV di kamarnya agar dia punya sesuatu yang bisa mengancamnya bahkan memerasnya.
Begitu telpon tersambung, Beril langsung menodong dengan sebuah pertanyaan. "Bagaimana? Apa sudah kau pindahkan gadis itu di hotel pusat?"
"Maaf tuan gadis itu tadi malam sudah mengajukan rising," jawab Bram dengan tenang.
"Kamu menerima pengajuan risignnya, kenapa bodoh sekali, aku ingin gadis itu bagaimana pun caranya, kau bisa datangi rumahnya dan tawarkan gaji yang besar untuknya," kata Beril pada Bram.
"Saya bisa apa Pak, gadis itu tadi malam di telpon keluarganya dari desa, di suruh pulang karena orang tuanya sakit, jika saya memaksa juga dia jadi curiga sama saya," jawab Bram pada Beril.
"Kamu tahu tidak desanya di mana? akan saya coba saya datangi dia mencoba merayu keluarganya agar dia bersedia bekerja hotel pusat," kata Brian pada Bram untuk mengorek identitasnya.
"Na itu dia tuan selama ini dia berada di perantauan dan alamat CV-nya itu menggunakan alamat dia menyewa kamar kos di kota ini," kata Bram.
"Ahh, kenapa kau tidak lapor tadi malam, anak buahku bisa mengambilnya paksa, mereka sudah ada di luar hotel tadi malam," kata Beril.
__ADS_1
"Karena masih ada tuan Al, saya gak enak tuan kalau terjadi kehebohan karena anak buah tuan," kata Bram lagi memberikan alasan.
"Aah sial!" umpatnya dan telpon pun di tutupnya sepihak.