
Mobil berjalan meninggalkan rumah Belvi setelah gadis itu turun dari mobil, dia memencet bel berulang kali hingga sekarang lelaki paruh baya dengan muka masam keluar dari rumah menuju pintu gerbang dengan membawa kunci dan siap hendak mencaci maki orang yang memainkan bel rumahnya itu. Namun alangkah terkejutnya dia saat yang di lihatnya adalah putri yang lama tidak pulang itu. Pria itu membuang rasa kesalnya berganti dengan keharuan biru karena sang putri sudah pulang.
"Kok malam pulangnya sayang," tanya sang ayah sambil memeluk sang putri
"Maaf tadi yang jemput Natan dan teman-teman jadi diajak makan dulu di restoran yang barunya, Maaf yaa, ganggu Daddy sama bunda," kekehnya.
Pria itu tertawa dan mengunci kembali pintu rumahnya.
"Ayo masuk, jangan ledekin Daddy, kalau sudah makan ya sudah, itu lebih baik gak merepotkan bundamu," katanya lagi sambil menutup pintu dan menguncinya lalu ia berjalan cepat kembali kekamarnya.
Belvi menatap punggung sang Ayah semenjak beliau menikah lagi dia lebih ceria apalagi telah hadir Liana buat cinta dari pernikahan sekarang, dia menarik nafas panjang. 'Apa aku harus menyerah? Selama aku bertugas bersamanya dia tidak pernah sedikitpun tertarik padaku, aku sudah mengejarnya sampai ke sini apa aku harus berhenti, tidak aku tak akan berhenti andai aku nanti akan menyusul saudaraku berarti takdir bukan kakakku juga bukan aku,' batin Belvi.
Dia berjalan menuju kamar meletakan tas ranselnya di meja, lalu berjalan ke kamar mandi mengisi bathub dengan air hangat kemudian menambahkan sabun cair dan aroma terapi setelah itu dia berendam di dalam bathtub, rasanya begitu nyaman setelah seharian drama melarikan diri dari rumah sakit sampai bertemu teman lalu makan malam bersama di restoran mewahnya.
...----------------...
Mobil berhenti di sebuah gedung apartemen mewah, Vino keluar dari mobil dan berjalan menuju gedung apartemen, ia masuk kedalam lift menuju lantai lima setelah itu di keluar dan berjalan menuju flatnya. ia masukan key card di tempatnya lalu pintu terbuka ia pun masuk dalam setelah mengambil key card-nya.
Vino menaruh tas ransel di lantai dan berjalan menuju kamar badan dan otak terasa lelah seharian diliputi rasa was-was karena Belvi ada di ruangan predator tua itu, hingga berhasil kabur dan sampai di Jakarta malam hari.
Vino mengisi bathub dengan air hangat dan menambah sabun cair dan aroma terapi, dia ingin berendam untuk menghilangkan rasa penatnya, setelah itu dia masuk kedalam bathub menyadarkan kepalanya ke sandaran dan dipejamkan matanya menikmati air hangat dan aroma terapi.
.
__ADS_1
.
Vino berjalan diantara kebun bunga lili yang begitu luasnya dari kejauhan dia melihat gadis dengan jubah putih dan hijab putih berjalan mendekatinya, senyum mereka di bibir indahnya, mata Vino melebar dengan sempurna dia tercekat tak mampu bicara apapun, bibir bergerak tapi tak bersuara.
"Glo!"
Gadis itu pun berhenti dengan jarak satu meter berhadapan dengan Vino dan kembali tersenyum pada pria yang terpaku di hadapannya.
"Sudah saatnya kamu melupakanku, Vin ada yang akan menggantikanku untukmu, jangan terus bersedih, kembali seperti Vino yang dulu, kita tidak berjodoh dan kamu harus tetap hidup untuk diri sendiri, Vin, jangan tolak hatimu untuknya, aku menitipkan adikku jaga dia dan cintai dia, dan ku tahu hatimu sudah ada dia, jika tidak, kau tak mungkin mengkhawatirkannya," kata gadis itu dia pun berbalik arah dan berjalan dengan sangat cepat Vino terpaku tak mampu menyusul gadis itu hanya bisa berteriak. Namun suaranya seperti tengelam dan gadis itu semakin jauh serta menghilang dari pandangannya.
"Glo!"
Badan merosot hingga wajahnya tengelam di air membuatnya kesusahan bernafas dan ia pun terjaga. Dia bangun serta duduk di bathtub, nafas memburu. 'Rupanya aku tertidur. Glo, kenapa baru sekarang kau hadir dalam mimpiku padahal aku ingin selalu bertemu dengan mu dan apa ini? Kau menitipkan adikmu padaku?' batinnya berbicara, dia menghembuskan nafas kasar.
Dibasuhnya tubuhnya lalu di bilas di shower kemudian di ambilnya handuk untuk menutupi bagian tubuh privasinya dan keluar dari kamar mandi.
Di rebahkan tubuhnya di atas ranjang rasa lelahnya membuat terlelap dengan begitu cepatnya
dan malam merangkak begitu cepat seolah baru saja dia tertidur dengan pulasnya, telinganya mendengar suara adzan berkumandang membuatnya segera terjaga. Namun dia menjadi kecewa saat tak lagi bermimpi tentang Gloria.
Masih terduduk di atas ranjang, desauan ringan keluar dari bibirnya di pun turun dari ranjang dan berjalan malas ke kamar untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh di apartemen karena untuk berjamaah di masjid sudah sangat terlambat.
Setelah selesai sholat subuh, ia membuka lemari pendinginnya tak ada apa-apa di sana, ingin keluar mencari makanan pun malas karena motornya ada di rumah sang ayah.
__ADS_1
Masih dalam kebimbangan apakah ia keluar ataukah memesan di aplikasi online, tiba-tiba saja terdengar bel dari luar dengan malas dia mengerakan kakinya berjalan ke arah pintu dan membukanya, dia sangat terkejut sang kakak dan ponakannya berdiri di depan pintu apartemennya Ratih mengucap salam dan di jawab oleh sang adik, kemudian langsung masuk di ikuti Aska yang berjalan di belakang sang bunda sambil melipat tanganya di depan dada menatap sang Om. "Kenapa gak pulang ke rumah? Om takut yaa di kerubuti teman-teman arisan Bunda," seloroh sang ponakan.
"Loh kamu gak sekolah, kok gak pakai seragam sih As?" tanya Vino pada ponakannya itu.
"Nanti, ini masih jam enam aku gak mau di sana nunggu lama masuknya, Om belum jawab pertanyaan aku tadi," protesnya
"Iya, Bundamu memang resek orangnya," jawab Vino sambil mengikuti sang ponakan.
"Siapa yang resek?" tanya Ratih sambil bertolak pinggang.
"Itu tetangga sebelah yang resek," jawab Vino sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian terkekeh melihat sang kakak sudah seperti singa betina yang siap tempur.
"Benar, begitu As?" tanya Ratih pada putranya itu.
Aska mengangkat bahunya, Ratih memandang sang adik.
"Kenapa gak pulang ke rumah?" tanya Ratih pada adiknya setelah menaruh rantang di atas meja.
"Kok kak Ratih tahu sih kalau aku pulang?" tanya Vino kembali tanpa mau menjawab pertanyaan kakaknya.
"Apa kamu kira kamu saja yang bisa jadi mata-mata, aku juga bisa jadi mata-mata buktinya kau tertangkap basah oleh ku," kata Ratih berapi-api.
"Aku itu malas berdebat dengan mu kak, sudah ku bilang aku sedang mencari hatiku, jadi jika kakak ingin aku pulang berhentilah menjodohkan aku dengan anak dari teman-teman mu itu," kata Vino sambil duduk di meja makan.
__ADS_1
"Baiklah kakak menyerah, terserah kamu saja, sekarang kakak mau pulang, itu kakak bawakan banyak, jangan sering makan di luar, dan tolong sempatkan pulang ke rumah!" kata Ratih sambil berjalan menuju ke pintu dan di ikuti oleh Vino di belakangnya.
Vino pun membukakan pintu, lalu berkata, "Besok aku akan pulang,"