
Kemudian dia naik dan duduk di belakang Vino. Lalu dia memegang Kanan kiri jaket Vino. Sial, kau hanya memanfaatkan wajahku untuk menghilangkan rasa rindu pada kakak ku, umpatnya dalam hati
"Apa kita semalaman akan di sini? Kalau memang begitu lebih baik tidur di dalam kamar saja ngapain berada di sini dengan hawa yang sangat dingin, " kata Belvina ketus
"Aku sedang menunggu orang yang tersadar dari lamunannya supaya dia tidak jatuh dari motorku dan nanti akulah yang menjadi tertuduh padahal kau yang tidak mau berpegangan jadi jangan salahkan aku kalau nanti kau jatuh di trotoar," katanya pada Belvi.
"Aku sudah berpegangan besi jadi tidak perlu khawatir kalaupun aku jatuh dan itu sudah naas," kata Belvi acuh tak acuh.
Vino memacu kuda besinya itu dengan kecepatan tinggi, hingga balvi terhuyung ke belakang dengan cepat dia melingkarkan tangannya ke perut Vino.
Semua itu tak luput dari pengawasan Albert yang berada di kamarnya di lantai dua, terlihat jelas olehnya disini, lelaki paruh baya itu menghela nafas. Tugasmu sangat berat Belvi, Daddy tidak tahu apa pada akhirnya dia akan datang pada mu sebagian seorang pencinta yang mengejar hatimu untuk bisa membawanya ke dalam deru nafasnya dan detak jantungnya, dia hanya menyimpan nama kakakmu Bel, apakah kau akan terus berjuang, andai tak bisa, berhentilah! kumohon, katanya dalam hati
motor itu pun melaju dengan sangat cepatnya meliuk-liuk di jalanan yang sepi yang menunjukkan pukul satu dini hari.
motor itu berjalan melewati beberapa tempat yang memang Belvi tidak pernah tahu kota desa dan daerah mana yang tahu saat ini adalah duduk di motor yang melaju dengan sangat cepatnya sekolah tidak ada waktu untuk hari esok.
motor itu pun akhirnya berhenti di sebuah tempat pariwisata entah itu pantai atau apa aku tidak tahu karena saat ini masih dini hari dan lampu menyala dengan redup diantara banyak warung-warung tenda yang berada di sekitar kami yang sedang memarkirkan motor.
Vino berjalan menuju arah yang belum terlihat oleh belvina apa itu? Ternyata sebuah pantai.
"Mengapa mengajak kemari?" tanya Belvi yang berjalan di belakangnya.
"Sudah ku bilang aku merindukan kakakmu, dia suka pantai," kata Vino
"Lalu apa hubungannya dengan mengajakku," tanya Belvi dengan ketus.
__ADS_1
"Aku butuh wajahmu untuk mengusir rinduku padanya," kata sambil melihat gulungan ombak yang tak terlihat jelas.
"Kau benar-benar menyebalkan, aku masih sangat ngantuk dan ingin tidur, apakah tidak ada tempat untuk aku bisa tidur sejenak, Vin?" tanyanya.
"Ayo ke sana ada penyewaan tikar, kau bisa tidur dengan menyewa tikar," katanya sambil terkekeh.
Belvi bisa menghembuskan nafas kasarnya, Vino menyewa tikar dan memesan jagung bakar pedas, lalu berjalan ke arah gadis itu dan mengelar tikar di sana, lalu ia duduk di atasnya Belvi pun ikut duduk dengan jarak satu meter dengan Vino lalu merebahkan tubuhnya di sana.
kantuk membawa terlelap tanpa mampu mencicipi jagung bakar yang di pesan Vino. Pria itu menyalakan senter di handphone-nya lalu menyorotkan cahaya ke wajah Belvi di pandangnya wajah itu. Apa sebenarnya misi mu? kenapa bersekolah di tempat yang sama? Bukan kau bisa sekolah di tempat yang lain? Aku ingin bertanya tentang Glo, tapi kau malah tidur, gumamnya dalam hati
Vino membaringkan tubuhnya di atas tikar, berjarak satu meter dengan Belvi Hingga terbangun dengan suara alarm handphonenya berkali-berkali.
Vino pun membuka matanya dan melihat Belvi tidak ada. Mungkin gadis itu ada di masjid, pikirnya.
Dia pun bangun berjalan ke masjid untuk menunaikan sholat subuh setelah selesai ia pun keluar terlihat belvi berdiri di depan Mushola dan aku menghampirinya. "Kenapa berdiri di sini?" tanyaku padanya
Vino mengeluarkan uang lima puluh ribu dan memberikan pada Belvi.
"Belilah makanan yang bisa di terima dengan lidahmu dan belikan aku juga apa saja aku tidak memilih makanan. Aku akan membayar uang kamar mandi," katanya pada Belvi.
Setelah selesai membayar Vino berjalan menuju tikar yang di sewanya tadi, belum banyak orang yang datang, Vino melihat Belvi membeli sesuatu entah apa itu.
Belvi berjalan kearah Vino dan menaruh di atas tikar lalu memberikan uang kembalian ke pria itu.
Vino menatap uang kembalian yang di berikan Belvi. "Bawa saja kamu butuh untuk ke toilet untuk mandi juga," kata Vino
__ADS_1
Belvi yang mulai membuka tutup mi instannya menghentikan kegiatannya menatap Vino yang sedang membuka bungkusan nasinya.
"Apa kita gak pulang, hari ini kita belum libur loh Vin, bolos kita?" tanya Belvi
"Lah emang waktunya cukup untuk pulang? Jelas gak cukup, Vi," kata Vino mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Ngapain coba kemarin aku ikut kamu Vin, akhirnya sekarang jadi bolos aku," kata gadis itu.
"Kamu kan belum pernah bolos, Vi," kata Vino
"Aku ini anak baru, Vin. Apa kata guru-guru nanti.," sahutnya
"Ya tidak berkata apa-apa, Vi. Aku gak masuk mereka juga gak bilang apa-apa," kata Vino
"Itu karena otak kamu encer, Vin dan berprestasi jika kamu melakukan kenakalan sedikit pasti mereka maklum karena sudah banyak memberikan presentasi di sana," kata Belvi.
"Mungkin juga?" jawab Vino cuek.
"Aku mau tanya ke kamu, kenapa kamu memilih SMU tempatku untuk bersekolah," tanya Vino
"Bukan aku yang pilih tapi Daddyku pada saat itu karena rekomendasi temannya itu. Kenapa sih Vin? Perasaan dari aku mulai masuk sampai sekarang kamu mempersalahkannya deh," kata Belvi
"Ya, karena aneh saja dari sekian banyak sekolah kenapa kau memilih sekolah itu?" tanya Vino kembali.
"Vin sebenarnya apa yang ingin kau ketahui? Aku bertemu saudara kembarku hanya sekitar dua belas jam, lalu dia meninggal, tidak ada waktu untuk berbicara banyak, tidak Vin, dan kau tahu bagaimana aku dan ayahku terpukul pada saat itu, kami selalu berfikir andai Allah mempertemukan kami lebih cepat maka aku bisa menolong saudariku dengan cangkok sumsum tulang belakang, apa kami menyalakannya? Ya kami menyalah keadaan itu, tapi tuan Abraham selalu berkata bahwa ini sudah takdir dan kami harus menerimanya," kata Belvi.
__ADS_1
"Apa kau tahu yang paling terpukul dari semua ini adalah Ayah ku Vin, ketika dia kehilangan istri dia juga kehilangan kak Glo yang hilang dan ayahku terus mencari tidak pernah berfikir dia bertemu dengan putrinya dengan cara sedemikian rupa, di hari kami bertemu di hari Itu pula kami kehilangan," kata Belvi.