
Di ruangan kerjanya Beril terlihat sangat galau bagaimana tidak banyak pesanan Gadis perawan, Namun tidak bisa terjaring oleh tipu muslihatnya. Sementara di desa dia mendapat laporan dinas pariwisata yang sedang meninjau gua yang biasa di gunakan untuk menjebak mangsa dan menipu penduduk.
Beril keluar ruangan dia berdiri di dekat meja menu dengan berjejer napan pesanan pelanggan disertai dengan nomer meja dan daftar pesanannya Belvi kembali dengan nampan kosong menaruhnya di meja dan mengambil nampan menu pesanan pelanggan tanpa menghiraukan Beril yang berdiri di depan meja.
"Ruri, apa nanti di jemput taksi yang biasanya," tanya Beril
"Iya, pak kenapa?" tanya Ruri
"Bisa di batalkan tidak?" tanya Beril.
"Kenapa harus di batalkan?" tanya Ruri
"Saya mau ngajak kamu di suatu tempat, itu kalau kamu mau apa tidak bosan selalu bekerja terus?" tanya Beril
Ruri tertawa. "Trimakasih banyak, Pak. Sayangnya taksinya tidak bisa di batalkan, maaf, kata Ruri sambil mengambil napan yang berisi makanan untuk di taruh di meja pesanan pembeli.
Beril nampak kecewa namun senyumnya mulai mereka saat melihat Ratna gadis yang baru masuk tadi pagi, menurut informasi dia masih virgin.
"Ratna bisa keruangan saya dulu sebentar," perintah Beril
"Baik, Pak, ada apa?" tanya Ratna.
"Ikut keruangan saya dulu, nanti kita bicara di sana," kata Beril
"Baik, Pak," jawab Ratna tanpa curiga apa pun. Dia meletakan nampan kosong di meja menu, kemudian dia mengikuti Beril ke ruangannya.
"Duduk!" perintah Beril
"Baik, Pak," jawab gadis itu.
"Kamu karyawan baru ya?" tanya Beril
"Orang tua masih ada?" tanya Beril lagi
"Saya tinggal dengan nenek saya, Pak, beliau sakit-sakitan itu sebabnya saya bekerja di sini, kata teman saya bisa dapatkan uang besar di sini," kata Ratna.
Beril tersenyum. 'Ini mangsa yang empuk tidak perlu bersusah paya dia sendiri menawarkan diri,' pikirnya.
"Ya kamu bisa dapatkan uang yang sangat besar sekali di sini, tapi bukan sebagai pelayan," kata Beril.
"Saya butuh uang banyak untuk berobat nenek saya, Pak, saya mau jual keperawanan saya seharga satu miliar dan saya mau satu malam saja pak dan tidak ingin bekerja sebagai wanita malam."
__ADS_1
"Apa? Siapa yang bilang di sini bisa jual itu?" kata Beril sedikit gugup.
"Kata mbak Sonia, saya akan jaga rahasia bapak, setelah transaksi satu kali saya akan pergi dari restoran bapak," kata Ratna dan akhirnya Beril tertawa.
"Ok! Kamu bisa kapan mulai, saya akan transaksikan kamu, tapi ...?" tanya Beril menjeda.
"Tapi apa, Pak?" tanya Ratna.
"Beril membisiki di telinga Ratna, lalu menatap gadis itu, Bagaimana? Apa kau bersedia?" tanya Beril pada Ratna. Gadis itu sedikit mengigit bibir bawahnya dan menimang sebentar dengan permintaan tuan Beril. Tak lama kemudian dia mengangguk.
"Ok! Kalau dia mau sekarang apa kau siap?" tanya Beril.
"Saya Siap, Pak," kata Ratna.
"Wow, saya sangat suka dengan sikap mu ini, Ok tunggu sebentar," kata Beril langsung menghubungi seseorang melalui Video call dan tak butuh waktu lama panggilan itu pun tersambung. "Bagaimana apa dia mau?" tanya seorang klien pada Beril
"Bukan yang tadi tapi yang lainnya. Namun, tidak kalah menarik," kata Beril lalu menekan kamera belakang, beberapa saat terdiam, lalu terdengar lagi memulai transaksi.
"Dia minta berapa?" tanyanya pada Beril.
"satu M di rekening dia dan lima ratus di rekeningku, Bagaimana?"
"Aku harus lihat visualnya dulu jika oke, aku bisa bayar segitu tapi kalau kurang ok aku hanya bisa bayar separuh di rekeningnya dan jumlah mu tetap," kata klien itu.
"Ok! langsung aku hubungkan dengan kamera mu, ya," kata Beril pada kliennya.
"Ratna silahkan masuk kedalam ruangan itu, kau harus menuruti segala pose yang ingin dilihatnya," kata Beril dan gadis itu segera bangun dari duduknya mengatur nafas dan detak jantungnya berjalan menuju ruangan itu.
dua puluh menit berikutnya dering telpon berbunyi dan dia segera mengangkatnya, sambil tangannya tak melepaskan tuts laptopnya.
Terdengar kekeh di telinganya. "Aku Ok! Luar biasa dalamnya, aku mau dandanan seperti itu saja sekarang juga akan ku jemput," kata Pria itu.
"Ok! aku tunggu," jawab Beril mengakhiri telponnya sambil menatap gadis yang baru saja keluar dari ruangan dengan wajah pucatnya.
"Dia ok! Sesuai yang kau minta dan sudah deal, jangan sampai berubah pikiran," jelas Beril.
"Tidak, saya cuma sedikit shock saja di dalam," kata gadis itu membuat Beril tertawa.
'Oh, Pintar sekali kau Sonia,' pikirnya.
"Dia akan menjemput mu tunggu saja di sini, pasti di dalam tadi dia minta yang macam-macam sampai kamu pucat begitu," kata Beril tertawa.
__ADS_1
"Tapi tuan akan melepaskan saya kan setelah ini, tuan sudah berjanji pada saya.
"Ok, aku akan melepaskan mu setelah ini," jawabnya pada gadis itu.
Tiga puluh menit kemudian terdengar pintu di ketuk dari luar. "Masuk!" perintah Beril.
Seorang lelaki yang berusia tiga puluh lebih masuk kedalam ruangan dengan dandanan perlente, wajah ke bule-bulean membuat otak Ratna sedikit traveling membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
"Hai, bro, dapat dari mana barang bagus?" tanyanya pada Beril sambil mengerlingkan matanya gadis itu.
Beril tertawa. "Ada deh."
"Lihat visualnya langsung gak kuat gue, mau segera eksekusi," katanya sambil berbisik pada Beril.
"Ok! Akan aku atur, kepuasan klien adalah segalanya," kata Beril sambil tertawa
"Kamarku sudah siapkan?" tanyanya lagi
"Sudah, bawa saja dia pun sudah Ok!" jawab Beril pada Pria itu.
"Ayo, sayang, ikut saya," kata pria itu sambil meraih tangan gadis itu.
"Tangannya dingin, Bro," katanya sambil terkekeh.
"Jelas saja, kan dia belum pernah, Bro," jawab Beril tertawa
"Rileks, ya," kata pria itu pada Ratna.
Mereka pun pergi dari ruangan Beril, Pria itu tersenyum bahagia. "Oh Rania aku merindukan mu," katanya sambil tertawa.
'Ahh, kenapa dia ku tawarkan dengan pria lainnya? Sekarang aku merindukannya, lihat Ruri saja lah lumayan walau gak bisa disentuh, Ahh jadi penasaran,' ungkapnya dalam hati.
Beril keluar dari ruangannya menuju restoran, ia memilih duduk di pojok sambil melihat Ruri Bekerja.
Gadis itu seperti mencari-cari sesuatu setelah itu manik matanya menatap pria itu kemudian berjalan kearahnya, begitu sampai dia membuka mulutnya.
"Tuan di mana Ratna, restoran sedang ramai saya butuh satu orang lagi untuk membantu," jelas Ruri.
"Dia sudah pulang, karena tidak enak badan, coba kau handle ya!" pinta Beril.
Ruri sedikit mengernyitkan alisnya setelah itu ia pun mengangguk dan kembali ke meja menu.
__ADS_1
"