Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Usaha melarikan diri


__ADS_3

Hans kembali memeriksa luka itu, lalu melihat wajah wanitanya, berusaha menghindari tatapannya.


"Anda jangan mencari kesempatan Dokter, karena saya tidak bisa menggerakkan seluruh tubuh saya bukan berarti Anda bisa melakukan apapun yang Anda mau," kata Cahaya


Lelaki itu pun tergelak mendengar ucapan cahaya. "Buktinya aku bisa melakukan apapun yang ku mau, dan kau tak bisa lakukan apapun," katanya sambil berjalan ketempat duduk didepan ranjang.


"Jika aku mau, ku biarkan kau dalam keadaan polos itu lebih bagus, aku sudah berbaik hati untuk menutupi sebagian tubuhmu dengan meminjamkan kemejaku untukmu," kata pria itu sambil bersandar pada kursi.


Cahaya memutar bola matanya.


"Apa yang kau tutupi tuan muda? Bagiku sama saja kau melecehkan diriku," katanya ketus.


"Tidak ada istilah itu Haya, aku menyukaimu dan aku menginginkan mu, itu cukup buatku, untuk memaksa mu menjadi milikku," katanya sambil menatap tajam gadis itu.


Pria itu menghela napas. "Tadinya aku mau membawamu ke rumah tetapi ternyata kamu belum bisa duduk, terpaksa kita akan tidur di rumah sakit, dan jangan marah jika sepajang malam aku memelukmu, sekarang tidurlah aku akan selesaikan pekerjaanku," katanya sambil berdiri dan pergi dari kamar itu.


Cahaya menggerutu saat lelaki itu pergi. "Apa-apaan dia sudah membuatku seperti ini dan memperlakukanku seenaknya perutnya saja." Cahaya mengancingkan kembali kemeja bagian bawahnya.


"Mana tidak ada selimut lagi, pelit sekali, kenapa tidak meminjamkan selimut untuk menutupi tubuh bawahku aku rasanya ingin mati saja, siapa yang akan sanggup hidup dengan maniak itu."


Sementara itu, di ruangan Damian Belvi semakin gelisah pria paruh baya seusia ayahnya itu berjalan semakin dekat dengannya.


"Tuan, apa Anda ingin saya membersihkan wajah Tuan?" tanya Belvi.


Pria itu tertawa. "Untuk apa aku membersihkan wajahku, yang ku bersihkan itu adalah wajah mu, Nona," katanya sambil tertawa.

__ADS_1


Gadis itu ikut tertawa. "Jangan repot-repot, Tuan, dibersihkan seperti apapun wajah ku tetap seperti ini," jawab Belvi.


"Aku semakin curiga pada mu, Nona. Siapa kamu sebenarnya?" tanya Damian yang duduk di meja depan Belvi sambil mendekatkan wajahnya pada gadis itu.


"Saya tadi, 'kan sudah bilang kalau nama saya adalah Nina," jawab Belvi sambil menjauhkan badannya.


"Kau bohong, Nona, aku tanya lagi siapa namamu?" tanya Damian sambil membuka botol pembersih make dan menuangkan dalam kapas, tanpa di ketahui oleh tuan Damian dia mengambil suntikan yang di sembunyikan di balik bajunya sambil menekan alat yang ada di pergelangan tangan kiri dengan menekankan pada lututnya tanda eksekusi akan di mulai.


Damian semakin mendekat dan akan mengoleskan kapas pada wajah Belvi, dengan cepat gadis itu menancapkan jarum suntik ke leher pria itu dan memasukkan obat bius ke tubuh pria itu. Apa yang kau lakukan? tanya Damian tanpa tahu jawaban gadis itu pria itu terkulai tak sadarkan diri.


Flashback on


di ruang dokter Ari memanggil Belvi saat menyiapkan obat untuk sang kakak.


Belvi pun berjalan ke meja Dokter Ari, setelah sampai ia memberikan alat suntik yang begitu kecil pada belvi.


"Ini bawalah, tancapkan pada leher ayah ku, dia akan tertidur pulas selama tiga jam dan saat itu kau punya kesempatan untuk melarikan diri, awal aku ingin berikan Yaya tetapi sempat ku berikan Kakakku datang dan membawa pergi dari ruanganku, semoga berhasil," ucap dokter ari pada Belvi.


"Trimakasih, dok," ucap Belvi lalu berjalan kembali ketempat duduknya hingga terdengar pintu di ketuk.


Sementara itu Vino mengendap masuk kedalam ruangan penyimpanan obat-obatan dia masuk dengan lihainya dia menghindari CCTV dan masuk kedalam menuju penyimpangan obat bius, alangkah terkejutnya ada jenis obat bius yang terdapat dalam suntikan kecil hanya ada satu buah dos yang isinya tinggal sembilan, di raihnya seluruh jarum suntik kecil itu dan di masukan ke dalam saku baju yang tersembunyi. lalu segera dia keluar menyamar sebagai seorang perawat dan sekaligus bodigurd tuan Damian.


Flashback off


Vino melempar jarum- jarum suntik itu tepat terkena leher kelima pengawal itu lalu mengambil kunci dalam saku salah satu pengawal dan segera membukanya kemudian mengunci kembali dia melihat belvi sudah siap dengan alat yang di ikatan di pinggangnya begitu pun Vino lalu mengambil kotak kecil rakitan bom yang berdaya kecil yang sembunyikan di balik celana bagian bawahnya.

__ADS_1


Belvi menekan alat itu keluar lah sebuah benda tajam yang tersambung dengan kawat yang panjang dan benda itu menancap kuat di tembok Vino memasang pengaitnya ke kawat tersebut sambil menekan remote kontrol benda itu meledak tampa menimbulkan suara dan kaca pun pecah mereka pun langsung meluncur ke bawah. Di sana sudah menunggu rekannya dan memberikan pada mereka motor yang di gunakan untuk melarikan diri.


Saat itu jam sudah menunjukkan pukul empat sore, maka tidak akan ada yang curiga saat mereka keluar dari rumah sakit karena waktunya pulang kerja.


Vino memacu motornya dengan kecepatan tinggi dan tidak lama kemudian mereka sampai ketempat persembunyian mereka, terlihat Bripka Adam dan Bripka Naura pun sudah sampai di sana mereka dalam keadaan babak belur.


"Apa kalian di ikuti?" tanya Bripka Adam.


"Tidak, Pak, kami berhasil melarikan diri dalam senyap entah tiga jam berikutnya," jawab Belvi.


"Kalian segera meluncur ke bandara dan pakai motor itu saja, aku sudah lapor jika misi kita gagal saat ini, Mengenai Briptu Sora tidak usah khawatirkan dia, dia mengerti seluk beluk tempat ini karena ini juga desa kelahirannya.


"Baik, Pak, belvi dan Vino segera masuk ke dalam gua dan menganti pakaian yang di kenakan lalu Belvi memasang wig dan segera keluar.


"Saya sudah siap, Pak," jawabnya ketika sampai di luar.


"Segera lah berangkat sebelum mereka menyadari kepergian kalian, aku pun sudah mendapatkan laporan Briptu Sora sudah dalam perjalanan kemari aku tak mau ambil resiko karena kami tadi sempat berkelahi dan membunuh anak buah dari tuan Damian.


"Siap laksanakan, Pak," jawab mereka berdua setelah itu mereka menaiki motor dan melesat pergi meninggalkan persembunyian mereka menuju bandara dan pulang menuju Jakarta.


Dua jam berlalu setelah itu, Brain tidak mengecek sama sekali anak buahnya. Dan saat ini tengah bersama dengan seorang wanita yang di sukainya di ruangannya, Saat bersenang-senang dengan tubuh kekasihnya yang juga


bekerja sebagai bodigurd tuan Damian, sebuah panggilan telepon berdering dia tidak menghiraukannya, sampai dia menuntaskan hasratnya, setelah sampai ke puncaknya dan terpuaskan ia menyambar handphone nya dan menerima panggilan tuan mudanya.


"Kemana, kau? Coba kau lihat daddy." Suara Hans terdengar olehnya.

__ADS_1


__ADS_2