
Belvi, memejamkan matanya, kata-kata itu terasa menghujam di hulu hati yang paling dalam, tak terasa air mata mengalir perlahan di pipinya yang putih itu, meski dia berusaha menahannya.
"Aku tahu, tidak perlu kau jelaskan!" kata Belvi dengan pelan.
Vino melepaskan kukungannya pada gadis itu melangkah menuju pintu dan memutar ganggangnya. Namun, ternyata terkunci.
"Sial! Pintunya terkunci, apa kau punya jepit rambut? Kita harus keluar dari sini sebelum ada orang tahu kalau kita berada di sini kita akan kena peringatan nanti," kata Vino
"Kenapa kau tanya jepit rambut? Bukankah aku memakai hijab? Untuk apa aku memakainya?" jawab Belvi dengan ketus.
"Barangkali untuk menghias hijab itu, bukankah kau fashionable," kata Vino sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
"Kau semakin menyebalkan, minggir biar aku yang buka!" kata Belvi mencopot jarum pentul di hijabnya lalu berjalan mendekati pintu.
Vino menggeser tubuh sedikit menjauh. "Apa kau bisa melakukannya? Aku sangat meragukan kemampuan mu itu, Belvi."
"Diamlah dan lihat hasilnya!" kata Belvi sambil memasukkan jarum pentul di lobang kunci pintu itu, dengan konsentrasi yang tinggi dia mencoba menggerakkannya agar bergeser dan pintu itu terbuka.
Satu kali, dua kali dan ini yang ketiga kalinya, setiap gadis itu gagal, decakan keluar dari bibirnya.
Vino tertawa. "Lihat lah hasilnya, tidak terbuka sama sekali."
Belvi meletakan jarum di telapak tangan Vino lalu mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang pada Vino, dan lelaki itu mulai beraksi, tidak sampai lima menit dia sudah bisa membuka pintu itu.
__ADS_1
Vino menoleh pada Belvi memberikan jarum itu sambil menyeletuk," Kau harus belajar lagi, Vi! Jika kau tidak bisa melakukannya, bisa-bisa nyawa bahkan kehormatanmu terancam."
Belvi diam saja dia berjalan keluar ruangan itu mengikuti pria itu menuju pintu keluar, begitu tampak lengang, karena sudah malam beberapa orang tidak menaruh curiga pada mereka karena memang tempat ini sering di adakan rapat hingga larut malam hanya ruangan yang tidak di gunakan untuk rapat akan di kunci lebih awal.
Setelah keluar mereka pun melangkahkan kakinya menuju motornya yang berada di tempat parkiran, setelah itu mereka menaiki kendaraan mereka masing-masing, Vino menjalankan motornya mendekati Belvi lalu dia berpesan, "Jaga kehormatanmu, Vi! Jangan sampai kau menyesal!"
Gadis itu hanya mengangguk dan mulai menyalakan motornya.
Kemudian pria itu melajukan kuda besinya ke jalan raya yang mulai sepi di susul oleh Belvi yang memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju tempat tinggalnya.
Di kota itu Vino dan Belvi tinggal di sebuah kos-kosan atau di kontrakan dipinggiran kota agar memudahkan penyamaran yang akan di lakukannya tiga hari berikutnya dan tidak mudah terlacak.
__ADS_1
Belvi mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi membuat Vino terkejut, tidak lama kemudian, mereka berpisah di kelokan jalan.
Vino hanya menggelengkan kepalanya saat motor Belvi menghilang di ujung jalur jalan yang terpisah. Pria itu terus memacu kendaraannya dengan sangat cepat, hingga tak butuh waktu lama dia sudah berada di tempat tinggalnya sebuah kontrakan sederhana di pinggiran kota di perkampungan yang masih jarang ada penghuninya.