
Empat jam perjalanan mereka sampai pulau di luar Jawa, Vino pun menelpon seseorang beberapa saat setelah mendarat di Bandara, tiga puluh menit kemudian, datang dua pria tegap mengendari dua buah motor, berhenti di depan mereka.
"Ombak bergulung ketepian saat pasang," ucap seseorang dari mereka
"Akan kembali ke tengah saat surut," jawab Vino,
"Selamat datang, kalian berdua akan ditugaskan di desa terpencil, sudah ada tempat tinggal di sana, beberapa rekan kalian sudah sampai di sana termasuk kami, ayo ikuti kami
"Siap! Kami berangkat," kata Vino sambil menaiki motor yang di berikan oleh salah satu pengendara itu dan Belvina naik di belakang Vino dan setelahnya itu mereka pun berangkat ke desa terpencil.
Walau desa terpencil. Namun, di sana ada sebuah rumah sakit yang besar dan berdiri dan jauh dari dari pemukiman penduduk, tersiar kabar rumah sakit itu menjual-belikan organ tubuh itu sebabnya mereka bertugas menyelidiki apa yang terjadi, konon kabarnya pemilik rumah sakit sangat lah dermawan sehingga, mereka menutup mata apa yang terjadi di sana.
Tidak hanya itu, banyak warga yang kehilangan anak gadisnya. terutama yang cantik dan masih perawan, beberapa tahu kemudian di temukan dalam keadaan hilang ingatan serta sakit-sakitan beberapa hari kemudian meninggal dunia.
__ADS_1
Mereka melewati perkampungan kecil, jalan yang berkelok lalu melewati hutan, perkampungan kecil kembali hingga sampai ditepi hutan dan masuk di kedalaman hutan yang memiliki jalan yang kecil seperti baru dibuat.
Selama dua jam perjalanan mereka tempuh mereka sampai pada Markas yang di tujuh di tengah hutan, kami berhenti di sebuah gua yang di tutupi dengan dedaunan dari ranting-ranting pohon yang ditebang dan jauh dari pedesaan.
"Loh kok tadi kalian cepat sih, pas jemput kami," tanya Belvi pada Belvi pada mereka.
"Kami, memang berada di pusat kota," jawab mereka sambil terkekeh.
Mereka berjalan memasuki sebuah gua yang cukup besar mereka sampai di dua lorong yang berbeda
"Di sana tempat kamu Belvi yang nanti akan ada bos kita Dokter Ara. Ingat hati-hati, Nina, Rudi." Rekannya memperingatkan mereka dengan menyebut nama samaran mereka.
Mereka pun masuk kedalam lorong yang berbeda. Belvi di sebelah kanan mereka di sebelah kiri, di sana ada Dokter Ara dan Dokter Lia nama samaran dari Bripka Naura serta Briptu Sora yang juga berprofesi sebagai dokter.
__ADS_1
Di lorong itu banyak sekali ceruk batu yang membentuk dua ruangan ada sekitar lima orang disana, dua melakukan penyamaran sebagai dokter, dan tiga ada sebagai perawat dan satu staf rumah sakit yang menangani surat--menyurat rencana Belvi akan menyamar sebagai staf kantor bersama Ica yang di tugaskan terlebih dahulu, nama samaran Belvi adalah Nina.
"Ayo masuk! Ica akan menunjukan dimana kita tidur , Nina. Ingat-ingat Namamu Nina," kata Dokter Ara
"Baik, Dok ...?" Belvi ragu menyebut nama.
"Dokter Ara dan dia Dokter Lia, mereka Titik dan Ika sebagai suster di sana," jawab Dokter Naura.
Dok, apa aku tidak bisa menyamar sebagai dinas kebersihan di sana, menurutku tempat itu menjadikan ku lebih leluasa untuk masuk beberapa ruangan," usul Belvi pada Dokter Ara.
"Masalahnya wajahmu itu tidak mendukung," kata Dokter Ara
Aku bisa merias wajahku menjadi kusam, bahkan bisa membuatnya berbeda, itu keahlianku," jawab Belvi meyakinkannya.
__ADS_1