Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Bab 46


__ADS_3

Cahaya terbangun saat fajar telah menyingsing, ia pun turun dan membasuh wajahnya dengan air sungai nan jernih, lalu mencari tumbuhan yang bisa merubah warna kulitnya untuk beberapa hari, setelah menemukannya dia mulai membalurkan seluruh tubuh, setelah dua jam berlalu dia pun membersihkan tubuhnya di sungai itu dengan cepat karena ketakutan akan anak buah tuan Hans bisa mengejarnya sampai ke sini.


Setelah selesai ia berjalan menuju desa melewati hutan, hingga sampai di sebuah rumah sederhana, tepat di malam hari, dia pun mengetuk pintu belakang.


"Bik Jum buka pintunya," teriak lirih Cahaya.


Terdengar seseorang menyeret langkah kakinya menuju pintu belakang, di bukanya pintu oleh wanita paruh baya yang tampak kuyuh itu, ia termenung sejenak. "Siapa kau?" tanyanya


"Aku Cahaya," kata gadis itu.


Mendengar jawaban itu dia pun tertawa. "Kenapa kulitmu jadi ke kecoklatan begini? kata bik Jum.


"Jangan ketawa Bik Jum, bantu aku masuk rumah besar itu sebagai pembantu rumah tangga," pinta Cahaya.


"Aku tidak bisa membantu mu, Cahya, setelah Nita putriku menceritakan apa yang terjadi di sana aku di pindahkan bertugas rumah sakit, tak seorang pun bisa masuk area itu, wanita incaran tuan muda dan tuan besar saja lah yang bisa masuk ke sana, dan tak ada bukti bahwa Nita ada di sana, bahkan saat bibik tidak berjumpa dengannya selama satu tahun, aku tak pernah berjumpa di sana," kata Bik Jum,


"Apa Bik Jum tidak ingin menuntut balas?" tanya Cahaya.


"Untuk apa? Nita pun tidak akan hidup kembali," kata Bik Jum dengan mata basah.


"Baik lah bantu aku untuk bisa masuk di sana sebagai pekerja bersih-bersih seperti bik Jum.


"Baiklah, besok pagi datang kesini,"katanya sambil meneliti penampilan Cahaya.


"Apa kau yang kabur dari kamar Tuan mudah kemarin malam," tanya Bi Jum.


"Betul, Bik itu sebabnya aku harus menyamarkan kulit ini," katanya.


"Tunggu sebentar," kata bik Jum sambil masuk kedalam dan memberikan tas ranselnya berukuran sedang berisi beberapa potong pakaian dan di berikan kepada Cahaya.


"Bawah ini dan pakailah ini," kata sambil memberikan celana panjang untuk Cahaya lalu gadis itu pun memakainya, setelah itu dia meninggalkan rumah bik jum.

__ADS_1


Malam semakin larut, gadis yang tak pernah takut apapun itu, pergi menuju hutan, mencari ceruk bebatuan untuk sembunyi.


...----------------...


Satu Minggu berlalu dari peristiwa itu, terlihat Dokter Hans sedang melihat riwayat seorang pasien yang sudah renta, tiga hari yang lalu pria tua itu di bawah ke rumah sakit ini karena pingsan saat bekerja di ladangnya kini penyakit semakin parah.


"Bagaimana keadaannya apa bisa di eksekusi," tanya Has pada beberapa dokter dan perawat kepercayaannya.


"Sudah tuan, seperti nanti malam bisa kita bawa ke markas," kata mereka


"Jangan sampai tahu adikku, dia tidak tahu apa-apa," kata Hans pada mereka.


Tanpa mereka ketahui Belvi memasang perekam suara yang di di pasang di meja kerja Hans tadi pagi Belvi lah yang membersihkan ruangan Hans.


Flashback on


Waktu itu Belvi tengah mengepel lantai di depan ruangan Dokter Ari, Pria itu baru datang dan akan masuk ke dalam ruangannya, dia berdiri mematung sejenak memandang gadis itu dari belakang gestur tubuh Belvi memang sangat menarik dan dia satu-satunya yang memakai Hijab dari seluruh karyawan di rumah sakit itu.


"Hai, kemarilah!" seru dokter Ari pada Belvi yang telah melakukan pekerjaan.


"Mendongak lah, aku ingin tahu siapa kamu, kenapa aku tak pernah melihatmu?" tanya Dokter Ari.


"Saya dari desa sebelah dan baru masuk hari ini, Dok," jawabnya sambil mendongakkan wajahnya sedikit.


"kamu manis, hanya kulitmu saja, sedikit kecoklatan, Aku mau hari ini kau membersihkan ruangan kakakku, jika dia datang dan ruangannya belum bersih dia akan marah," kata sambil menatap Belvi.


"Baik, Dok, tetapi saya tidak tahu ruangannya dokter," jawab Belvi jujur.


"Ayo ikut saya, tadi Yaya aku perintahkan untuk mengambil dokumen, jika dia tahu dia akan marah pada karena menyuruhnya, dia bilang Yaya tidak boleh di suruh ke tempat lain selain tempat kerjanya, sungguh aneh kakakku itu biasanya dia akan lebih suka Gadis cantik kulitnya putih bersih tapi si Yahya berkulit coklat pun mau juga, mana aku tidak boleh pinjam pekerjanya lagi," kata berjalan mendahuluinya, setelah sampai Dokter Ari membuka pintunya dan segera menyuruh Belvi membersikan ruangan itu.


"Siapa nama mu?" tanya dokter Ari

__ADS_1


"Nina, Dok," jawab Belvi


"Baik lah Belvi kerjakan dengan yang sebaik-baiknya, saya kembali keruangan saya lagi," katanya sambil meninggalkan Belvi di ruangan kakaknya


Belvi segera membersihkan ruangan sambil perekam suara, setelah selesai dia segera pergi membersihkan lantai luar ruangan itu. mulai membersikan sebelah kiri hingga Belvi tidak terlihat oleh Hans saat berjalan bersama beberapa tim dokter yang benar-benar dapat di percaya oleh masuk kedalam ruangan itu.


Flashback off


Hingga perbincangan mereka selesai, Hans membuka pintu, dan alangkah terkejutnya saat melihat gadis berhijab memunggunginya sambil membersihkan lantai.


"Hai, kemari kau!" perintah Hans pada gadis itu.


Belvi menoleh sambil bertanya padanya, "Saya Dokter?"


"Iya, siapa lagi yang paling jauh adalah kamu," katanya sedikit keras.


"Kemana Yaya, yang biasanya membersihkan ruanganku dan sekitarnya adalah dia, kenapa sekarang kamu?" katanya pada Belvi.


"Maaf tadi Dokter Ari yang menyuruh," jawab Belvi sambil menunduk.


"Tegakkan kepalamu jika ku ajak berbicara, sebab aku juga ingin menilai mu juga, apa kau bisa bekerja di area ruanganku," kata Dokter Hans.


Belvi pun menegakkan kepalanya, Dokter Hans mulai menatapnya meneliti dengan seksama lalu tersenyum, Baik kau bertugas di sini bersama Yaya," katanya sambil bergegas meninggalkan area itu menuju ruangan adiknya.


Sesampainya di sana tanpa mengetuk pintunya dia langsung masuk kedalam ruangan milik adiknya dan di sana dia melihat Yaya sedang memberikan file kepada Dokter Ari.


"Kau adalah milikku, tidak boleh bekerja dengan Adikku, kau mengerti," katanya sambil menarik tangan keluar dari ruangan itu.


Dokter Ari hanya menggelengkan kepalanya melihat kakaknya dari satu Minggu yang lalu terlihat aneh.


Dokter Hans menyeret gadis itu sambil menceramahi panjang lebar.

__ADS_1


"Sudah ku katakan padamu, majikanmu hanya aku, tidak boleh, yang lain, kenapa kau melanggarnya dan hari ini segera kau mendapatkan hukuman dari ku jangan menyesal karena membantah apa yang ku katakan padamu," katanya pada gadis itu dengan penuh penekanan.


"Maafkan aku Dok, tolong jangan hukum saya, Tuan, saya janji akan menolak permintaan Dokter Ari," Cahaya semakin ketakutan takut terjadi sesuatu hal yang membuat sesuatu yang berharga miliknya hilang karena masalah kecil ini.


__ADS_2