
Empat jam perjalanan mereka lalui dengan mengistirahatkan badan dan pikiran mereka dari beban pekerjaan yang baru saja mereka lewati, hingga akhirnya mereka tiba di Bandara Sukarno-Hata.
Mereka turun dari pesawat, Belvi pun segera ke toilet untuk mengganti penyamarannya di melepaskan wik yang ada di kepalanya yang tertutup turban tipis lalu memakai hijab instannya dan keluar dari toilet berjalan menghampiri Vino yang sedang menunggunya.
"Apa kau sudah memesan taksi?" tanya Belvi pada Vino
"Sudah, dia sudah menunggu," katanya sambil berjalan mendahului Belvi, Belvi mengikutinya dari belakang, dia melihat Vino berjalan menuju sedan mewah berwarna putih, Belvi mengerutkan dahinya, dia heran siapa yang menjemputnya. "Kau tidak memesan taksi untukku?" tanya Belvi,
"Tidak teman-teman ku yang menjemput ku kau ikut saja mereka tak akan keberatan," katanya sambil terus berjalan, dan Belvi pun terpaksa mengikutinya.
Setelah sampai Vino membuka pintu tengah mobil itu dan masuk ke dalam di ikuti dengan Belvi.
"Selamat datang sahabatku Vino dan Belvi," teriak mereka bersamaan
"Aku kangen sama kamu Vi," teriak Laura membuat Vino dan Belvi kaget pasalnya lampu mobil sengaja di matikan mereka, kemudian lampu menyala bersamaan dengan teriakan laura.
"Kalian kenal, Belvi?" tanya Vino pada mereka.
"Ya, kenal lah, dia itu, 'kan sahabat Natan waktu kecil dan punya hobi sama dengan Natan, karena kalian gak bisa menghadiri pernikahan kami maka saat ini kalian kami culik," jelas Jevelin.
"Kenapa kalian tidak bercerita padaku kalau kalian itu kenal dengan Belvi?" tanya Vino pada mereka.
"Karena kau tidak bertanya pada kami," jawab mereka.
"Ck, kalian curang," protes Vino.
"Sudah-sudah jangan diributkan, Kau juga punya rahasia, 'kan dan kami gak memaksa kamu untuk cerita," jawab Roan
__ADS_1
"Iya, kamu sekarang kok makin bijak, An?" tanya Vino
"Harus, dong karena aku sekarang punya jagoan kecil, aku tidak ingin dia tumbuh seperti aku dan mamanya," kata Roan.
"Emang aku liar?" tanya Jevelin pada pada Roan sambil mengerucutkan bibirnya.
Roan terkekeh. "Iya, tapi aku suka apa lagi kalau malam hari di kamar kita." Roan menyambar bibir Jevelin dan mereka saling berciuman.
"Hai jangan buat aku menghentikan mobilku di hotel ya, An," teriak Natan
Roan tertawa. "Aku hanya ingin menunjukkan ke mereka berdua ini bahwa menikah itu enak mau sambar sewaktu-waktu gak masalah, kenapa kalian tidak menikah saja kalian, 'kan sering tugas bersama apa tidak merasakan debaran-debaran?"
"Aku menyesal memujimu bijak, ternyata kau sama dengan Roan yang dulu," timpal Vino.
Roan hanya tertawa saja.
"Terserah kalian saja aku juga sudah lapar," kata Vino pada mereka berempat.
Mobil pun berjalan melintasi jalanan yang masih ramai kota Jakarta memang tidak ada sepinya selalu saja ramai walaupun waktu menunjukkan sudah malam. Namun, jam sembilan malam bukan ukuran malam hari di sini.
Akhirnya mobil berhenti tepat di depan restoran mewah, mereka pun keluar dari mobil berjalan masuk kedalam restoran itu. Semua pekerjaan menunduk hormat kepada Natan berserta teman-temannya mereka masuk di ruangan privasi, pelayan segera melayani sang majikan yang datang bersama teman-temannya.
"Siapkan menu spesial kita!" perintah Natan.
"Baik, Tuan!" jawab pelayan itu dan segera pergi menyiapkan menu yang di minta majikannya itu.
"Kamu hebat,Tan, kau sudah jadi bos sekarang," kata Vino pada sahabatnya.
__ADS_1
"Kamu juga sebenarnya kan bos, Vin, cuma kamu gak mau saja, dengar ya Vin, hidup mati seseorang itu di tangan Allah, walaupun bekerja di tempat yang mempunyai resiko kehilangan nyawa sekalipun, kalau belum takdirnya mati ya tak akan mati, Vin dan kalau takdirnya mati kau bekerja sebagai bos pun akan ada peristiwa yang mengantarkan mu pada kematian, jadi jika sudah bosan bermain dengan nyawa kalian berhentilah dan jadi pengusaha saja kasihan tuh kakak perempuan kamu harus ikut mengurus usaha yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu.
"Belum saatnya, Tan, aku masih mencari hatiku sebenarnya berada dimana dan aku belum yakin betul bisa melupakan Gloria, dia adalah wanita yang pertama kali masuk di hatiku, Tan, tak semudah itu mengeluarkannya," kata Vino sambil menatap kosong dinding di depannya, Natan menatap Belvi tertangkap expresi kecewa di wajahnya itu.
"Kau berbicara sangat ringan, Vin, itu pertanda kau sudah bisa melepaskan sedikit rasa kecewa dan sesalmu jangan genggam terus masa lalu mu itu, lupakan lah dan mulai lembar yang baru," kata Natan.
"Semoga saja aku bisa, Tan," jawab Vino.
"Kau harus bisa Vin, jangan sampai aku sudah punya cucu kau baru nikah," kata Natan terkekeh.
"Sial, kau mengatai ku, Tan," kata Vino dan teman-temannya ikut menertawainya.
Pelayan restoran pun datang membawa menu spesial olahan daging dan sea food.
"Banyak sekali kau pesan, Tan, bagaimana jika tidak habis?" tanya Belvi
"Kalau tidak habis kamu bawa pulang lah Vi, sudah nikmati saja, kalian berdua akhir-akhir ini kan jarang makan beginian, karena di hutan tidak akan ada restoran," kata Natan sambil tertawa.
"Kau kira kami orang hutan begitu, tidak pernah mampir di tempat seperti ini?" tanya Vino
"Bukan tidak pernah, aku tadi bilang jarang kan, aku percaya Tuan muda Vino uangnya tebal, walaupun gajimu tidak bisa di bandingkan usahamu yang bertebaran di mana-mana dan kau tinggal pantau dengan iPhone saja sudah cukup, uang berjalan sendiri ke rekening mu," kata Natan tertawa.
"Sudah jangan bicara saja ayo kita makan sepuasnya mumpung kita ada restoran tuan muda Natan," kata Roan
Mereka pun makan dengan tenang sesekali bercanda riang tanpa terasa waktu bergulir dengan sangat cepatnya sudah menunjukkan jam dua belas malam makanan pun tandas karena ternyata Vino dan Belvi kelaparan karena pada waktu Pelarian tadi mereka berdua hanya sarapan roti di pagi hari.
Setelah puas berbincang-bincang dan bersenda gurau sambil menikmati menu restoran mewah milik Natan mereka pun keluar dari restoran dan masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Tak lama kemudian mobil itu pun berjalan meninggalkan restoran meluncur di jalanan yang sedikit lengang, mereka mengantarkan Belvi kerumahnya dulu, baru mengantarkan Vino, pria itu meminta di antarkan ke apartemennya saja, karena jika dia pulang ke rumah saat ini pasti di sambut oleh celotehan dari kakaknya Ratih ke esokan harinya rumah bakal ramai karena kedatangan teman arisan kak Ratih yang membawa anak gadisnya untuk di kenalkan dengan Vino.