
Di sini begitu banyak yang harus di pelajari sementara di sana sudah penjurusan sesuai dengan minat dan bakat mereka, banyak hal yang tidak ku pahami termasuk pelajaran bahasa Indonesia.
Kadang pria yang ada di sampingnya ini memakinya dengan menggunakan bahasa Indonesia tapi Belvi tidak tahu apa artinya dan dia pasti tersenyum mengejek gadis itu. Kadang Belvi berpikir, Apa kak Gloria tidak terlalu tahu tabiatnya? Hingga mengatakan pria ini lembut, setahuku tidak dan dia begitu sangat angkuh.
Belvi kembali melirik pria di sebelahnya terdengar dengkuran halus menandakan dia benar-benar tidur.
Bel masuk kedalam terdengar, Belvi kembali membangunkan Vino, pria remaja itu pun terbangun lalu bangkit dari duduknya melangkah keluar kelas di luar ia berpapasan dengan guru yang akan masuk kelasnya berhenti sejenak meminta ijin untuk pergi ke toilet.
Setelah sampai di sana dia membasuh mukanya lalu kembali berjalan menuju kelasnya.
Dia pun masuk dengan wajah yang cerah dan berjalan menuju bangkunya kemudian duduk di sebelah belvina.
Sambil mulai fokus dengan pelajaran Vino berkata, "Pulang denganku di sini tidak ada taksi, kalau kau tidak memesannya lewat online karena rata- rata siswa sini banyak membawa mobil dan motor sendiri, jadi taksi engan untuk lewat, aku tidak sedang berbuat baik padamu, hanya menghindari pertanyaan kakakmu padaku saat di akhirat nanti."
"Apa kau yakin akan bertemu dengan kakakku andai kau mati?" tanya Belvi pada Vino
Akan ku cari dan ku tanyakan kenapa tak berterus-terang dengan penyakitnya? Kenapa tak membiarkanku berada di sisinya saat dia sakit? Kenapa ada rangkaian mawar merah lain di pusarannya?" katanya tanpa melihat Belvi
"Itu punya kami, Ayah dan aku, kakakku tidak punya teman pria selain kamu dan kamu malah berprasangka yang bukan-bukan pada kakakku," kata Belvi pada Vino.
Vino terdiam dan tak berkata apa-apa lagi ia hanya melirik Belvi sambil tersenyum sinis.
Pelajaran demi pelajaran berganti hingga mata pelajaran terakhir di jelaskan oleh seorang guru sampai bel pulang berbunyi, guru menutup pertemuannya, dan vino memimpin berdoa untuk pulang setelah selesai sang guru keluar dari kelas lalu siswa-siswi berhamburan keluar.
Vino berkata, "Ikuti aku!" lalu dia berjalan mendahului Belvi,
__ADS_1
Belvi mengikuti langkah Vino menuju tempat parkir, Vino naik di motor sportnya dan memberikan helm pada Belvi.
Belvi pun menerima lalu memakainya dan naik di belakang Vino, dan kuda besi itu melesat meninggalkan sekolah membelah jalan raya.
Kecepatan penuh di pacunya, sekarang Belvi sudah mulai terbiasa lagi dengan kecepatan itu.
Dulu Belvi juga seorang pembalap karena pernah jatuh dan cedera ia absen mengendarai motor sudah lama sekali sekitar tiga tahunan. Kini dia pun kembali terbiasa dengan laju motor yang begitu kencang.
Motor Vino sudah berhenti di depan rumah Belvi. Belvi pun turun dan melepaskan helm serta memberikannya pada Vino lalu masuk ke rumah tanpa mempersilakan Vino masuk kedalam rumahnya, karena dia pikir Vino memang tidak ingin mampir kerumahnya.
begitu Belvi turun dan Helm sudah di sangkutkan di depan atas motornya Vino pun melajukan dengan kencang, Belvi menoleh sesaat dan membuang nafas dengan kasar lalu meneruskan langkah masuk kedalam rumahnya.
Vino memacu motor hingga sampai kerumahnya, kali ini ia tidak ingin keluar, ingin mengistirahatkan tubuhnya masih terngiang suara Belvina tentang rangkaian bunga mawar di pusara kekasihnya itu.
Motor pun melewati pintu pagar rumahnya sepertinya sang Ayah sudah pulang ke rumah terlihat pintu gerbang yang terbuka dan mobil berada didepan halaman rumahnya.
"Syukurlah, Vin kamu pulang, ini tadi Ayah beli banyak lauk lupa kalau anaknya jarang pulang" kekeh Haidar.
Vino tertawa menghampiri ayahnya dan mencium punggung tangan lelaki paruh baya itu.
"Hari aku ingin di rumah saja Ayah, aku ngantuk ingin tidur," kata pria remaja itu.Makan dulu sebelum tidur, Vin, sudah sholat belum?" tanya Haidar pada putranya
"Ini akan sholat ayah, kata Vino sambil berjalan ke kamarnya dan tak lama kemudian dia kembali dengan pakaian santainya, menemui sang ayah yang sedang menunggunya untuk makan siang.
"Rumah ini jarang di tungguin penghuninya, yang satu kelayapan yang satu lagi sibuk kerja," kata Haidar sambil mengambil nasi serta lauk di piringnya.
__ADS_1
"Ayah menikah lagi biar rumah ini ada penghuninya," kata Vino frontal.
"Siapa yang mau dengan lelaki tua macam ayahmu ini," kata Haidar pada putranya.
"Tante Nurul juga masih cantik kenapa tidak dengannya saja, biar ada yang merawat ayah," kata Vino
"Aku gak enak lah sama putranya," kata Haidar sambil tertawa.
Kenapa andai ia tahu kalau ayah suka sama Tante Nurul pasti akan merestui pasalnya dia juga gak akan tegah melihat ibunya sendirian di rumah," kata Vino pada ayahnya.
"Ayah belum berani melangkah Vin," kata Haidar pada putranya itu.
"Kenapa, jika ayah suka lebih baik katakan pada Bang Rendra, suatu saat jika Bang Rendra akan ke Boston karena bisnis, apa harus bawa ibunya, jelas tidak bukan, ia akan bawa Rena istrinya dan ketika aku lulus aku akan mendaftar menjadi Bintara, Ayah, dan jelas aku akan meninggalkan Ayah dan tidak mungkin aku membawa Ayah bukan?" tanya Vino sambil tertawa.
"Sialan ya kamu, meledek Ayah saja," umpat Haidar pada putranya itu lalu terdiam sesaat.
"Apa kau serius dengan kata-kata mu Vin, seolah kalimat mu ingin menjadi polisi kriminal, adalah kalimat ingin bunuh diri lewat misi, tolong Vin lupakan Gloria, dia sudah tenang di sana jika di meninggal sebelum menikah maka jodohnya memang bukan di dunia dan bukan kamu, maka lanjutkan kehidupanmu dengan baik, jika tujuanmu menjadi polisi adalah tujuan untuk menyusul Gloria Ayah tak akan ijinkan," kata Haidar.
"Kenapa punya kesimpulan seperti itu terhadapku, Ayah? Aku hanya ingin melupakannya dengan tugas-tugas yang berat dan berbahaya," jawab Vino
"Karena kamu sedang patah hati Vin," kata Haidar pada putranya.
"Aku tidak patah hati, aku hanya tak bisa melupakannya," kata Vino menyudahi makan siangnya lalu bangkit dari duduknya dan melangkah pergi dari ruang makan menuju kamarnya.
Haidar menghela nafas, ia sedih, karena Vino beralih tujuan, dulu dia bilang ingin kuliah di Boston seperti kakak iparnya dan mau meneruskan usahanya, tetapi harapan Haidar terhadap putranya kini hilang sudah.
__ADS_1
Dia beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamarnya sendiri, hatinya berkecamuk dengan keputusan Vino, yang ia pikirkan saat ini siapa yang akan menjadi penerusnya.