
Hans tertawa. "Jika aku berbalik arah bagaimana aku bisa melihatmu Haya."
"Anda tidak boleh melihatku, Tuan," larang Haya
"Baiklah, asal berganti pakaian di sini jika kau sampai pergi ke kamar mandi aku akan menyusul mu ke sana," jawab Hans sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Cahaya. Namun tidak lama kemudian dia membalikan tubuhnya dan duduk di sofa.
Cahaya yang sibuk berpakaian tidak tahu kalau saat ini Hans menatapnya, menikmati pemandangan yang tidak perna bosan di pandangnya. 'Sebentar lagi Haya, kau akan jadi milikku,' pikirnya.
Saat dia mendongakkan kepalanya melihat ke arah Hans dia pun tertegun, "Anda curang, Tuan muda!" teriak Cahaya sambil mengerucutkan bibirnya, Hans berjalan menghampiri lalu mengecup bibir Cahaya sekilas.
"Sudah jangan dibahas lagi, ayo kita berangkat, aku sudah lama menunggumu dari kau mulai membersihkan tubuhmu hingga berganti pakaian dan transportasi kita sudah menunggu dari tadi, apa kau bisa jalan, kalau tidak akan ku ulangi lagi nanti agar kau terbiasa," kekehnya sambil menggamit pinggang cahaya.
Cahaya hanya diam saja saat ini di sudah pasrah dengan apa yang terjadi, hidup sudah tidak ada pilihan yang bisa dilakukan adalah menjadikan tuan muda ini tidak beringas lagi seperti dulu dengan pengetahuan berbagai tumbuhan obat-obatan.
"Haya, aku mau tanya sama kamu, apa kau memberikan ramuan obat-obatan ke Nina?" tanya Dokter Hans, sambil terus berjalan menuju lantai atas di mana Helikopter sudah menunggu.
"Tidak, bagaimana bisa aku memberikannya, Anda mengurung saya di dalam," jawabnya sambil cemberut.
"Jangan Cemberut aku cuma tanya saja tidak bermaksud menuduh," kata Hans pada Cahaya.
Hans menatap gadis itu lalu di kembali berjalan masih dengan menggamit pinggang gadis itu.
"Ayo, kita naik, nanti aku ceritakan padamu tentang apa yang terjadi pada Daddy," katanya sambil membantu Cahaya untuk naik setelah itu dia pun naik dan pintu pun di tutup kemudian dia duduk di sebelah gadis itu.
"Jalan Pak!" perintahnya dan Helikopter mulai berjalan.
__ADS_1
"Dengarkan aku Haya, aku memang brengsek tapi aku berusaha untuk baik padamu, jadi mulai hari jangan lari lagi dariku," katanya pada Cahaya.
"Bagaimana dengan gadis-gadis yang Anda culik untuk Anda jadikan pemuas nafsu klien-klien Ayah Anda?" tanya Cahaya pada Hans.
"Kau dengar kabar dari mana Haya?" Itu semua tidak benar," elak Hans.
"Tapi kak Nita menuduh kalian membawanya pada klien-klien yang mempunyai kesenangan sama dengan kalian, dia bilang harus melayani beberapa pria yang memang menginginkannya lalu dia buang setelah tidak bisa di pakai lagi," kata Cahaya.
"Aku bahkan tidak kenal dia dan ibunya sampai sekarang masih bekerja ditempat kami, Nita itu gila semua yang ada di otaknya hanya halusinasi dia jadi kau tidak bisa begitu saja mempercayainya, Haya," jawab Hans.
"Aku tidak punya bukti tapi saat pertama kali Anda menculikku dan aku berhasil kabur dari sana adalah bukti nyata keluarga kalian bermasalah dan sangat misterius, kecuali Dokter Ari," jawabnya pada Hans.
Mendengar Cahaya menyebut Ari kenapa hatinya begitu sakit seolah gadis di hadapannya ini benar-benar tidak tertarik padanya sungguh suatu hal yang memilukan, tiba-tiba saja Hans mengangkat gadis itu dan dudukkan di pangkuannya.
"No, jangan Tuan, ku mohon," pinta Cahaya.
"Jika kau memuji pria lain tak segan-segan aku akan menghukum mu lebih buruk dari ini!" ancamnya pada Cahaya.
"Baik, maafkan saya, tadi kata Anda ingin membahas tentang Ayah Anda?" tanya Cahaya mencoba meredam kemarahannya pria itu.
"Hemm," jawabnya sambil menatap gadis itu.
"Nanti saja setelah sampai di rumah," katanya sambil melihat keluar jendela.
Tak lama kemudian mereka sampai suasana rumah sedikit ramai yang datang hanya kolega saja, sebagai saksi pernikahan mereka, surat-suratnya pun telah siap ayah dan ibu Cahaya pun ada di sana mereka menatap sendu sang putri yang selama ini dia sembunyikan akhirnya harus berakhir di tempat ini walaupun sebagai istri tuan muda rasanya mereka tak rela anaknya berada di istana mafia yang terkenal kejam dan licin bahkan polisi belum bisa menangkap sindikat ini.
__ADS_1
Acara ijab kabul pun di mulai dengan hikmat, Hans telah mengucapkan ijab atas nama cahaya langsung di hadapan ayah wanita ini walau dengan cara menekan orang tuanya, setelah acara di lanjutkan dengan makan-makan terlihat orang tua dan adik sang gadis tak sanggup menelan makanan karena mereka tahu di balik makanan mewah itu ada tangis putrinya.
Cahaya menghampiri mereka dan menguatkannya, "Ayah tenanglah aku akan bisa kendalikan Tuan muda dan sepertinya Tuan besar mengalami masalah dengan itunya," jelas Cahaya berbisik.
Mereka bertiga terkejut mendengar hal itu kemudian menetralkan kembali agar tidak ada yang curiga padanya.
"Ayah dan Ibu harus makan agar kita bisa berfikir jernih dan kau Wulan berhati-hatilah aku nanti akan membujuk tuan muda untuk menyekolahkan mu keluar dari desa ini jika kau sudah keluar dari desa ini belajar dengan giat cari kehidupan di sana jangan kembali di sini karena tidak akan baik buatmu Wulan," jelas Cahaya.
"Iya, Kak," jawab Wulan sambil memeluk sang kakak.
"Saat ini tuan muda di rumah ini sangat lah senang." terdengar salah satu koleganya berbicara dengan Hans.
"Anda bisa saja, Tuan," jawab Hans tertawa sambil meminum wine.
"Tuan muda adik ipar Anda boleh juga," bisik dari salah satu dari koleganya.
"Kalau itu jangan, istriku akan marah padaku, kalau dia marah akan lebih bahaya dariku, jika macam -macam dengan adiknya, itu Anda bisa di buatnya tidak bisa berdiri dan berapa pun wanita yang ada di samping Anda tidak akan ada gunanya," jawab Hans pada koleganya itu.
"Kalau begitu aku tidak jadi melirik adik iparmu itu, aku masih ingin menikmati surga dunia," jawab pria itu sambil terkekeh.
Hans hanya tersenyum, memang gadis yang masih 14 tahun itu sudah terlihat cantiknya. Namun tidak bisa mengalahkan kecantikan sang Kakak, tanpa polesan make up, istrinya itu nampak begitu cantik. Setelah dua jam berlalu pesta selesai semua kolega berpamitan pulang, orang tua Cahaya kembali ke kamarnya, begitu pula Wulan sang adik.
Sedangkan Hans sudah menggeret sang istri untuk masuk kedalam kamarnya.
"Bergantilah istri ku pasti kau gerah memakai baju pengantin itu," kata Hans sambil mendekati sang istri. Namun terdengar ketukan pintu dari luar, dia pun melepas sang istri dengan hati dongkol.
__ADS_1