Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Luka Hati Vino


__ADS_3

Waktu berjalan terus mengikuti alur kehidupan tak terasa sudah dua minggu setelah dia bermimpi terlewati, kisah kehidupan manusia masih terus berlanjut, entah senang maupun duka, begitu pula dengan masalah yang mereka hadapi tak akan pernah berhenti walaupun telah usai.


Persoalan akan kembali datang membelit seseorang, bukan hanya sekedar pikiran bahkan hati yang mulai resah, degupan jantung berirama, menghentak tak beraturan menganggu sanubari serta pikiran.


Vino kembali menelpon nomer Gloria, entah dia tidak tahu apa yang terjadi mengapa sejak dua minggu ini tidak dapat menghubunginya.


Hatinya resah, di dalam kamar ia berjalan mondar-mandir ke sana-sini berkali-kali menekan nomor Gloria namun tak ada sambungan. "Ahh, kemana kau Gloria!?"


Hati semakin gelisah, seolah ada yang hilang ingin rasanya untuk terbang kesana segera menemui seseorang yang telah membawa hatinya pergi.


Suara ketukan pintu terdengar di telinganya, dengan rasa malas ia menyeret langkah kakinya membuka pintu Gadis berseragam SMP berdiri di hadapannya sambil terseyum canggung entah apa yang di sembunyikan, seolah-olah mengandung suatu misterius. "Boleh aku masuk dan duduk?" tanya gadis itu yang ternyata Rena.


"Kau sudah masuk, kenapa harus tanya!?"sarkasnya dan Rena pun terkekeh kemudian duduk di bibir ranjang lalu melepas serta membuka tas ransel di keluarkan sepucuk surat berwarna merah muda.


"Kak Vin, aku minta maaf, kak Gloria menitipkan ini saat kita pulang dari Boston, ia berpesan untuk memberikan padamu kalau sudah tiba waktunya," katanya sambil menyodorkan surat dan Vino menerima kemudian membukanya lalu membacanya


Untuk Vinoku


Hai, apa kabarmu? senyumlah berikan wajah tertampanmu sebelum membaca suratku, apa kau tidak tanya bagaimana aku bisa menulis suratku dengan tulisan Bahasa Indonesia? Rena adik kecilmu itu yang mengajari ku selama ini, he he he. Kata Rena aku murid yang buruk, susah diajari ha ha ha.


Vin, ketika kau membaca suratku, aku sudah pergi, jangan kau cari, kau tak akan menemukanku.


Aku mengidap kangker darah stadium 4 saat berkenalan denganmu, maaf aku mematahkan hatimu, memberikanmu harapan setinggi langit lalu menghempaskanmu. Aku mencintaimu saat pandangan pertama, dan aku egois ingin merasakan apa dan bagaimana itu cinta.


Dokter memvonisku hanya bisa bertahan hidup selama dua bulan tapi aku memohon pada Robbiku untuk bisa lebih lama menikmati senyummu.

__ADS_1


Hai, tampan jangan menangis aku ingin kau mengantarku dengan senyuman


Dari Gloria yang mencintaimu.


Setelah Vino membaca surat itu kaki terasa tak bertulang ia luruh terduduk di lantai dan terisak lalu menatap Rena dengan tajam. "Jadi ... ini yang kau katakan rahasia di pesawat itu? Kenapa tidak kau katakan saja saat itu hah!" teriaknya dengan hati pedih,


"A--Aku tidak tega membuatmu sedih dan patah hati Kak Vin, sungguh," jelas Rena,


"Apa bedanya Ren, apa!? Tidak ada bedanya patah saat itu dengan sekarang, tak ada bedanya, sakit! Kau tahu Ren!" Dengan langkah gontai dia berjalan ke arah Rena dia menyipitkan matanya. "Apa jangan-jangan kau menyukaiku gadis kecil? hingga kau tega melakukan ini padaku, hah!" bentaknya sambil mencengkram kerah baju Rena dan menggoncang-goncangnya hingga dua buah kancing baju Rena lepas. Rena pun marah dituduh seperti itu, di ta m parnya kedua pipi Vino hingga terhuyung kebelakang.


"Kau gil@ kak! Mana mungkin aku menyukaimu? Kau itu adik dari kak Ratih, aku sudah menganggap mu seperti kakakku sendiri, kenapa marah padaku? marahlah pada kekasihmu itu! Aku hanya pengantar surat, kau dengar itu! aku ini pak pos! Ehh, salah Aku bu pos! Aku tuh marah padamu Kenapa mulutku jadi salah ucap? Ahh ... sudah lah percuma marah sama kamu! Sekarang dengarkanlah! besok Ayah dan bunda ke Boston ikutlah ke sana, aku akan bilang pada ayah," kata Rena menyambar tas punggungnya lalu membuka pintu dan keluar setelah itu, membantingnya dengan sangat keras, ia berlari menuju mobil yang menunggunya membukanya dan masuk kedalam kemudian menutup pintunya dengan keras. "Jalan Pak," perintahnya.


"Non kenapa bajunya?" tanya pak sobari supir keluarga Rena.


"Non, gak boleh mengumpat orang sudah meninggal, gak sopan, Non,"


"Yee, mana ada orang marah mikir sopan atau tidak, perduli setan dengan, sopan karena Sopan sudah pulang kampung!" Pak Sobar terkekeh. "Nona mau marah apa mau ngelawak sih?"


"Pak Sobar!" teriak Rena jengkel.


"Sabar, Non! Nanti kalau Non teriak-teriak Air es satu kulkas Non habisin sendiri.


"Ahh, masa bodoh," kata Rena. Setelah sampai ke rumah Rena langsung masuk kamar.


Sementara itu, Vino terduduk lemas di lantai. Hatinya hancur remuk tak berdaya, dipandang wajah nan ayu dari kekasihnya, 'Kenapa kau tega melakukan ini padaku? tak pantaskah aku menemani mu saat kau dalam keadaan sakit. Kenapa Glo?"

__ADS_1


Ketukan di luar tak dihiraukan oleh Vino bahkan seolah telinganya gak bisa mendengarkan pikiran entah kemana?"


Sementara itu Haidar yang ada di luar kamar merasa heran dengan anak lelakinya itu, tidak biasanya anak itu sepulang sekolah langsung masuk kamar tanpa makan siang.


Lelaki Paruh Baya itu duduk di kursi depan meja makan, dalam pikirannya pasti ada sesuatu yang tidak baik-baik saja.


Haidar pun makan siang sendiri, ia hanya berharap ketika anaknya itu lapar ia akan segera mengisi perutnya.


Terdengar suara pintu terbuka, Vino keluar dari kamarnya, dan duduk bergabung dengan ayahnya. "Ayah sudah selesai?" tanya Vino


"Sudah, Kan ayah sudah dari tadi Vin, kamu Ayah panggil gak dengar Vin,"


"Aku ketiduran Yah," katanya sambil mengambil makanan dan lauknya lalu menyuapkan di mulutnya.


"Yah Vino ijin yaa, besok ke rumahnya mbak Ratih dan mas Bara," ijinnya pada Ayahnya.


"Memang ada apa? kok kesannya begitu mendadak," tanya Ayah pada Vino


"Yah, teman Vino yang ada di sana meninggal, Vino ingin mengunjungi makamnya, tolonglah kasih ijin, berangkatnya juga dengan om Angga," pintanya


"Baiklah kamu boleh pergi?" saud Haidar


"Trimakasih ayah," jawabnya.


beranjak dari duduknya. "Jangan terlalu sedih yaa!" Lalu pergi meninggalkan Vino di meja makan, dia segera menyelesaikan makanannya dan segera kerumah paman Angga untuk menemui Rena karena telah berlaku kasar padanya. Beberapa menit kemudian menyelesaikan makanannya lalu beranjak pergi ke garasi menaiki motor menuju kediaman Angga, ia menjalankan kuda besinya dengan kecepatan tinggi, beberapa kendaraan lain hampir bertabrakan dengannya umpatan dan makian akan meluncur di lidah mereka untuknya.

__ADS_1


__ADS_2