Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Bab 82


__ADS_3

Ruri berjalan menyusuri jalan menuju masjid yang biasanya dia singgahi otaknya melayang tentang bagaimana nanti, apa yang terjadi nanti, semua mengambang dalam otaknya. Dia tak akan mencemaskan dirinya sendiri, karena dia yakin dia mampu melindungi dirinya sendiri.


"Nak Ruri dari tadi melamun saja apa sudah sholat kalau belum segera sholat." Suara bariton mengagetkannya.


Belvi mencari sumber suara yang berbicara tadi Vino yang menyamar sebagai lelaki paruh baya dengan kerutan dibeberapa wajahnya. Dia bersandar di depan pintu mobilnya.


"Anda sudah lama, Pak, Maaf, saya harus sholat dulu tunggu ya, Pak," kata Belvi sambil tertawa.


Vino hanya tersenyum, entah kenapa hatinya menghangat, dia meraba dadanya sakit yang tak berdarah itu sudah sembuh.


Kini candaan Belvi saja mampu membuatnya menghangat.


'Apakah aku sudah jatuh cinta pada gadis ini,' batinnya.


Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Belvi keluar. "Saya sudah selesai, Pak," ucap Belvi ketika dia sudah sampai di depan Vino.


"Duduk Depan, Nak, Bapak, mau bicara," kata Vino sambil berjalan memutar dan masuk kedalam lalu duduk di bangku kemudi, sedangkan Belvi duduk di samping Vino. Tak lama kemudian Vino menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Ada apa? Ku lihat dari tadi kamu sedang berfikir dan melamun, kamu di tugaskan di sana untuk menggali informasi bukan mengatasinya sendiri," kata Vino membuka suara.


"Minggu depan kami akan pergi ke desa itu," jawab Belvi


Vino yang terkejut langsung mengerem mobilnya Secara mendadak membuat keduanya terhuyung kedepan.


"Maaf aku terkejut. Apa hanya kamu saja dan tuan Beril?" tanyanya dengan nada sedikit emosi.


Belvi menoleh ke arah Vino, 'Sudah kumat lagi dia,' pikirnya.


Dia tersenyum. "Mana mungkin aku begitu, kau selalu saja tidak membiarkan ku menyelesaikan kalimatku dan berprasangka buruk terlebih dulu," kata gadis itu.

__ADS_1


"Baiklah lanjutkan, jangan sampai kau bergerak sendiri andai terjadi apa-apa dan kau pergi seperti Gloria aku tak akan memaafkan mu, camkan itu!"


Belvi menelan salivanya dengan kasar hatinya berdegup kencang, memang itu sebuah ancaman, tapi kenapa ancaman itu begitu manis hingga mempunyai harapan yang begitu besarnya pada hati pria itu, kalau saja iya mungkin hatinya sangat berbunga.


"Aku dan Vivi juga pak Beril akan berangkat bersama tetapi Pak Beril belum kasih tahu hari dan kapan berangkatnya," kata Belvi pada Vino.


"Yang terpenting jangan lepaskan cincin itu, andai ada cara agar kau mundur dari misi ini mungkin aku lebih senang kau mundur Vi," kata Vino.


"Sudah tidak bisa mundur Vin, Kemarin saja aku masih menyesal kenapa tidak bisa mencegah Ratna untuk datang ke kantornya pak Beril dan dia pun menghilang setelah itu,"


"Jangan khawatirkan dia, karena memang itu yang di inginkannya," jawab Vino dengan tenang.


"Jangan aneh-aneh kamu, gak mungkin dia begitu," jawab Belvi ketus


"Ada banyak orang yang melakukan jalan pintas untuk mengatasi masalahnya, dan akhirnya terperangkap di dunia itu, kau jangan terlalu naif, Bel," kata Vino pada Belvi.


"Kenapa kamu begitu yakin itu?" tanya Belvi pada Vino.


"Aku begitu mengkhawatirkannya, ternyata seperti itulah keadaannya, sungguh di luar nalarku Vin ada orang yang begitu mudahnya menjual keperawanan untuk mengatasi masalah pelik andai dia punya masalah," kata Belvi sedih.


"Kita sudah sampai, Oh yaa, motormu tadi sudah aku ambil dan bawa ke rumah bersama Natan, besok dan seterusnya aku yang akan antar jemput kamu," kata Vino.


"Vin?" protes Belvi.


"Jagan protes, dan jangan melarang ku Vi, aku tak ingin kehilangan lagi, mengerti! Masuklah sudah malam!" perintah Vino.


Belvi keluar dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam berdiri sejenak di balik pintu pagar rumahnya yang sudah dia tutup melepaskan kepergian mobil Vino. Setelah itu dia pun masuk ke dalam rumahnya.


Ayunan langkah terhenti saat melihat seorang pria paruh baya tertidur di sofa depan mengenakan pakaian piyamanya.

__ADS_1


Belvi membangunkan sang Ayah, dan Albert terbangun.


"Eh, sudah pulang?" tanyanya dengan mata yang memerah karena menahan kantuk.


"Maaf Daddy harus menunggu Belvi pulang, sebaiknya Daddy tidak usah menunggu Belvi pulang karena sudah membawa kunci sendiri," jawabnya pada Sang Ayah.


"Tadi sebenarnya tidak menunggu mu pulang, entah kenapa hati Daddy itu rasanya ngak enak, ingin memastikan apa kau baik-baik saja," katanya pada putrinya itu.


"Aku baik-baik saja, Dad, ada Vino yang selalu menjagaku, entah kenapa akhir-akhir ini dia lebih posesif kepadaku dan seolah takut kehilanganku, benar-benar tidak tahu dengan perubahannya," jawab Belvi pada Sang Ayah.


"Biarkan saja dia mengekpresikan perhatiannya padamu, kadang seorang lelaki butuh waktu untuk menyadari hatinya, Vi. Biarkan dia menyadari hatinya dengan perlahan," jawab Albert


"Iya, Ayah," jawab Belvi


"Sudah sana, ke kamarmu, langsung tidur, kamu sudah sholat kan?"


"Sudah Dad," jawabnya


"Kalau begitu istirahatlah, Deddy juga mau istirahat," katanya." katanya lalu berjalan menuju kamarnya.


Belvi juga menuju kamarnya dan menaruh tasnya di atas nakas lalu melepas hijabnya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu dia berganti pakaian lalu merebahkan tubuhnya ke ranjan. Belvi tidak bisa memejamkan matanya pikirannya tertuju pada apa yang di katakan Vino tentang Ratna, "Ahh ...." Belvi mendesau.


"Rasanya aku tak percaya dia mampu mengikhlaskan apa yang berharga pada dirinya untuk sejumlah harta." Dia berbicara sendiri memprotes seseorang yang begitu mudanya melepaskan itu.


Hari semakin malam sedari tadi dia ingin memejamkan matanya namun sama sekali tidak bisa terpejam juga walau beberapa kali menguap karena mengantuk, Dia masih teringat wajah gadis itu begitu senangnya saat terpilih mendapatkan liburan.


'Dia akan mendapatkan masalah begitu sampai di sana.Jika tidak melarikan diri bagaimana, gadis itu mungkin akan terpuruk seperti mayat hidup setelah mendapatkan tahu dia direndahkan dan dilecehkan.


Sementara itu Vino memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemennya.

__ADS_1


Setelah selama 30 menit dia mengemudikan mobilnya berputar-putar di jalan raya akhirnya dia sampai juga di basement gedung itu.


Vino turun dari mobilnya dan berjalan kearah lobby dan masuk kedalam lift yang berjalan ke lantai atas menuju flat- nya.


__ADS_2