
Hans dan Ari mengangkat tubuh sang Ayah ke kamar, setelah itu Ari bergegas keluar belum sampai keluar pintu kamar, Hans menghentikan langkah adiknya. "Tunggu Ar, apa kau yang memberikan jarum-jarum suntik itu pada gadis itu? Bagaimana dia bisa melumpuhkan lima pengawal sekaligus?" tanya Hans pada adiknya.
"Mana kutahu? Kenapa tanya aku?" tanya Ari sambil menatap tajam sang kakak,
"Jika bukan tanya kamu lalu tanya siapa? Dia jelas tidak mungkin," kata Hans pada adiknya.
"Sudah ku katakan aku tidak tahu dengan jarum-jarum itu, jika kalian seperti ini terus aku akan pergi meninggalkan mu dan Daddy," katanya sambil meneruskan langkahnya keluar kamar.
"Apa kau masih marah pada daddy, yang menikahi ibunya Sora kekasihmu itu, dan beliau meninggal setelah enam bulan pernikahan mereka.
"Daddy tahu aku mencintainya, kenapa dia malah mematahkan hatiku, aku di sini hanya karena aku punya hubungan darah dengan kalian, selain itu tidak jika aku sudah muak dengan kalian berdua aku akan pergi," kata Ari.
"Hans menarik adiknya lalu memeluknya. "Jangan pergi apapun yang terjadi, jika kau pergi siapa yang meredam jiwa iblisku," katanya pada adiknya
"Yaya, yang akan meredamnya," jawab Ari sambil melepaskan pelukan kakaknya.
"Dia membenciku Ar," kata Hans dengan hembusan nafas berat
"Kau memilikinya dengan cara yang salah, itu sebabnya dia membencimu, begitu pula Gadis-gadis yang kau lempar di rumah bordil setelah kau memakainya kak, lembut lah pada Yaya, coba kau kontrol sedikit gairahmu saat bersamanya. Apa dia baik-baik saja? Kau membuatnya pingsan?" tanya Ari sambil melihat sang kakak,
"Hem, aku sangat takut saat dia terkulai lemas, Ar," jawabnya sambil mengangguk.
"Itu lah yang ku rasa saat Daddy memburu Sora karena melaporkan Daddy ke polisi akan kematian ibunya, dia bahkan mengalah untuk kebahagian ibunya. Namun dia justru menerima kenyataan ibunya tewas saat selesai bersama dengan Daddy," tuturnya sambil duduk di atas sofa, mengingat hal yang paling menyakitkan untuknya.
"Kau bisa mengejarnya kembali, ku dengar dia menjadi anggota polisi menurut informasi dari mata-mataku dia berada di sini bersama rekannya, anak buahku sudah menangkap dua rekannya," kata Hans pada adiknya
"Apa kau pikir mereka tidak bisa lolos, kamu salah kak, seperti yang diterjunkan ini adalah orang-orang yang sudah berkompeten dan terlatih sekali kamu bisa mengendus keberadaan mereka tetap saja tidak tertandingi, menggapai cinta jelas sudah tidak mungkin lagi," kata Ari pada kakaknya.
__ADS_1
Di tempat persembunyian Bripka Naura, Bripka Adam tengah berbicara dengan serius pada Briptu Sora.
"Apa kau berjumpa dengannya?" tanya Bripka Naura.
"Ya aku lihat dia dan aku tak sanggup untuk melangkahkan kaki masuk ke rumah sakit itu, seperti aku akan mundur dari misi dan setelah peristiwa lolosnya Briptu Belvi dan Briptu Vino membuat mereka pasti sudah siap siaga untuk mengamankan bukti dan menghentikan aktivitas ilegalnya. Anda berdua sempat di sekap kan jadi rasanya kita tidak meneruskan misi ini," jelas briptu Sora.
Aku juga sudah melaporkan hal ini, bahwa misi kita telah gagal," kata Bripka Adam.
Bagaimana dengan briptu Vino dan Briptu Belvi?" tanya Briptu Sora pada mereka.
'Mereka sudah terbang di jakarta," jawab Bripka Adam
"Syukurlah aku sempat kawatir dengar dari alat telekomunikasi mereka kalau Briptu Belvi berada di kamar tuan Damian," kata briptu Sora sambil tatapan menerawang jauh ke masa lalu.
Di rumah sakit, di ruangan tuan Damian, lelaki paruh baya itu mulai sadarkan diri dari pengaruh obat bius, dan melihat sekelilingnya ternyata dia berada di kamar, ia pun merasa basah dan benar celananya basah lalu badan terasa sangat lelah seperti telah melakukan hubungan yang indah dengan seorang wanita, dia pun mulai teringat bahwa dia tadi membersihkan wajah dari gadis yang di bawah ke ruangannya.
Terdengar suara langka kaki menuju kamar dan ternyata itu Hans, pria itu masuk kedalam kamar ayahnya, dia melihat sang ayah masih malas-malasan padahal dia sudah basah seperti itu.
"Sana keluar dulu Daddy mau mandi," katanya sambil bangun dari ranjangnya.
Has tertawa dia keluar dari kamar sang ayah menunggu di ruangan depan. setelah menunggu selama 20 menit sang ayah pun keluar dengan mengenakan pakaian santai.
"Apa Ari yang memberikan obat bius pada gadis itu?" tanya Damian pada Hans.
"Dia bilang tidak, Dadd," jawab Hans sambil menatap sang Ayah.
"Dia tak mungkin jujur padamu Hans, dia pun masih sangat marah pada Daddy," kata Damian.
__ADS_1
"Waktu itu Daddy juga salah kenapa tidak mau mengalah, habis itu Daddy tidak menjaganya membuatnya Tante Clara tewas setelah Daddy melakukan itu dengannya, tentu putrinya tidak trima, setelah itu tetap Daddy buru untuk bisa di temukan kembali dan tidak punya rasa iba, itu mungkin yang membuat Ari marah pada Daddy.
"Mungkin," katanya melihat jendela kaca yang sudah tidak nampak ada kacanya dan terlihat butiran-butiran pecah kaca berserakan di bawah membuatnya tertegun.
"Ini perbuatan siapa?" tanya Damian pada Hans
"Daddy tertidur karena siapa?" tanya Hans pada sang ayah.
"Karena gadis itu si Nina, gak nyangka Daddy gerakannya begitu cepat sampai melumpuhkan Daddy dengan sangat mudahnya," katanya tanpa merubah arah tatapannya.
"Tadi kan aku sudah bilang gadis ini bukan sembarang gadis, Daddy harus hati-hati, malah melakukan kecerobohan," kata Hans padanya.
"Entahlah tatapan matanya itu mengingatkan Daddy dengan seorang hanya bola matanya yang berbeda, itulah sebabnya aku ingin membersihkan wajahnya untuk memastikan apa itu dia," kata Damian
"Ok! sekarang apa yang Daddy rasakan, obat bius itu du campur dengan ramuan sama dengan apa yang kau minum satu Minggu yang lain dan hasil nya aku tidak punya selera dengan wanita yang lain karena aku tidak tahu apa efek dari obat ini jika dicampur dengan obat bius," kata Hans lagi
"Iya, nanti, kalau Daddy merasakan' ada sesuatu yang aneh, pasti daddy akan bilang padamu.
"Daddy mau pulang atau tetap di sini," tanya Hans pada ayahnya.
"Daddy akan pulang siapkan helikopter untuk Daddy, kalau di sini pasti akan teringat kebodohan Daddy tadi," katanya pada Hans puteranya itu.
Hans menekan beberapa nomer lalu terdengar suara di seberang sana.
"Iya, Tuan? tanya lelaki itu
"Apa yang bisa saya lakuan,tuan?" Dia tanya,
__ADS_1
Apa kau tidak ingin pulang," tanya Damian pada putranya itu.
"Sebenarnya ingin pulang juga tetapi Haya belum sehat betul, jadi aku menginap di sini selama dua hari." katanya sambil tersenyum.