
Hans meninggalkan istrinya dan berjalan menuju pintu serta membukanya, seorang pengawal dengan wajah pasi menghadap tuan mudanya.
"Den, Tuan besar ngamuk, barang- barang dipecahin semua, dan sekarang tangannya terluka karena menghantam cermin," kata pengawal yang menjaga kamarnya.
"Baiklah aku ikut ke sana," jawabnya pada pengawal, lalu menoleh pada Cahaya.
"Haya jangan kemana-mana? Tutup dan kunci pintunya!"
"Baik," jawabnya jantungnya berdetak cepat rasa takut dan wawas, 'Kenapa sampai seperti itu, apa efeknya akan berbeda jika bercampur dengan senyawa lainnya. Ahh! si Nina kenapa pakai di campur segala, kau membangunkan singa tidur,' batin Cahaya.
Hans bergegas berjalan menuju kamar Damian sang ayah, dia langsung masuk kedalam kamar sang Daddy.
"Ada apa, Dadd, jangan begini pasti ini bisa di obati, aku panggil Ari dulu, dia lebih paham akan hal ini," jelas Hans pada sang Daddy.
"Cari wanita itu untukku! Hanya wanita itu yang ku inginkan bukan yang lainnya!" teriaknya marah.
"Dadd, kemana harus ku cari wanita itu! Bisa jadi dia adalah seorang polisi yang menyamar dengan riasan yang berbeda, Daddy cari pun tidak akan ada yang bernama Nina, dia bisa ganti nama apa saja bisa Ika, Yuri, Nada ataupun Nina," kata Hans
"Aku tidak peduli yang terpenting saat ini adalah cari gadis itu di manapun dia berada!" perintah Damian.
"Sebenarnya apa yang Daddy keluhkan? Jangan mencari masalah dulu, kalau Daddy tidak ingin di penjara, waktu ku kirimkan Nina di hadapan Daddy kan untuk mengeksekusinya kenapa main-main sama gadis itu?" jawab Hans jengkal.
"Aku kehilangan gairah Hans, wanita secantik apa pun tak mampu membangkitkan gairahku dan punyaku tak bereaksi sama sekali, aku resah, Hans usiaku masih 50 tahun tapi aku sudah tak mampu lagi karena gadis itu," kata Damian.
"Dad, sabar dulu Andai bisa cari gadis itu sangat licin melebihi dari Cahaya, jika gadis itu tahu ramuan seperti Cahaya akan lebih fatal lagi, kalau Daddy kalah keadaan Daddy lebih parah lagi, sekarang kita tenang dulu saja hentikan bisnis ini, Dadd, kita sedang diawasi jadi lebih baik kita tidak melawan hukum, karena aktivitas kita yang dulu tersembunyi sudah terendus oleh pihak yang berwajib, jika Daddy bergerak sekarang pasti rekan-rekan daddy ikut tersangkut dan bisnis lainnya juga akan hancur," jelas Hans panjang lebar.
"Lalu sekarang Daddy harus apa?" tanya Damian Frustasi.
__ADS_1
"Daddy sekarang sabar dulu saja aku akan bicara sama Haya dan Ari, tentang masalah Daddy ini," kata Hans pada sang Ayah.
"Jangan bilang Cahaya dan Ayahnya aku malu, Hans," keluh Damian pada Hans.
"Haya, sudah tahu Dadd, jadi untuk apa di sembunyikan, hanya Haya dan Ayah yang tahu kandungan ramuan itu aku akan menyelidikinya lebih lanjut dan itu akan melibatkan mereka,"
"Terserah kamu saja asal Daddy bisa pulih sedia kala seperti dulu," jawab Damian.
"Sekarang Daddy istirahat saja dan mulai besok Daddy kembali olahraga, sudah dua hari Daddy mengurung diri tidak karuan, setelah itu coba bepergian kemana gitu, barangkali dalam perjalanan Daddy bertemu seseorang wanita yang bisa membangkitkan lagi gairah Daddy," kata Han sambil berjalan keluar kamar orang tuanya menuju kamarnya sendiri.
Dia membuka pintu kamarnya ternyata terkunci, dia lupa kalau saat itu menyuruh Hanya untuk mengunci pintu kamarnya, akhirnya dia pun mengetuknya tak lama kemudian pintu terbuka.
Haya kembali duduk dan masih memakai baju pengantinnya.
"Kenapa belum ganti," tanya Hans sambil mendekati sang istri.
"Bagaimana aku bisa berganti pakaian jika pakaiannya begitu semua, otak mu itu memang kotor, Tuan muda," hardik Cahaya.
"Jadi Anda memenjarakan aku di dalam kamar tuan?" tanya Haya dengan raut sedih.
"Tidak hanya saja saat kau ingin pergi harus bersamaku, dan karena di sini banyak laki-laki yang berkeliaran menjaga rumah ini maka aku ingin kau tetap di dalam kamar," kata Hans sambil menatap mata istrinya itu.
"Ayolah ganti pakaianmu atau aku yang akan melucuti seluruh pakaianmu itu dan kita bermain sebentar kemudian baru ku mandikan kau lalu ku pakaikan baju untuk mu kau tinggal memilihnya," tekan Hans pada istrinya, dengan bersungut-sungut dua masuk kedalam walk in closet dan menganti pakaiannya dia memilih yang agak sopan. Namun setelah selesai dia tidak berani keluar sama sekali dan Hans tahu itu, maka dia menyusul sang istri.
"Kenapa masih disini? Ayo kita keluar!" kata Hans sambil menggamit pinggang istrinya itu.
"Kenapa kau menyusul ku?" tanya Cahaya pada Hans,
__ADS_1
"Kau terlalu lama di sini sayang, aku juga mau menunjukkan sesuatu padamu, Ayolah ikut aku!" kata Hans sambil menatap takjub.
"Tuan, kita mau kemana? aku benar-benar malu," ucap Cahaya dan tidak mau bergerak sama sekali untuk berjalan. Hans tidak kehilangan akal, dia lalu menggendong Cahaya dan membawanya ke balkon yang dipenuhi oleh berbagai tanaman bunga, Hans mendudukkan Cahaya di kursi di depan meja yang sudah penuh dengan makanan.
"Kapan Anda menyiapkan ini semua, Tuan?" tanya Cahaya.
Tadi pada waktu kamu masih di walk in closet.
Cahaya sudah tidak mau menunggu lagi karena memang dia sudah sangat lapar. dia mengambil piring mengisinya dengan nasi, sayur dan lauk lalu menyuapkan makanan dalam mulutnya.
"Anda pelit sekali, Tuan padahal dari tadi siang aku sudah sangat lapar tapi kamu tidak memberikanku makanan," protes Haya pada Hans.
"Kenapa kau tidak bilang? Kalau kamu bilang aku akan mengambilkan mu makanan," kata Hans.
"Tuan tidak makan?" tanyanya pada Hans.
"Melihatmu makan saja aku sudah kenyang," jawab Hans.
"Benarkah begitu?" tanya Hanya sambil menyodorkan sendok kedepan mulut Hans.
"Buka mulut mu Tuan muda!" perintah Cahaya.
Hans menggelengkan kepala.
"Baiklah jika kau tidak membuka mulutmu sekarang juga kau tidak boleh menyentuhku nanti malam," ancam Cahaya. Mendengar ancaman dari Cahaya dia langsung membuka mulutnya.
"Ternyata itu kelemahanmu Tuan muda, Dasar! Tuan muda mesum," ejek Cahaya.
__ADS_1
"Kau sudah berani ya, sekarang padaku, awas nanti malam kau akan ku hukum," ancam Hans pada istrinya.
Hans baru sadar, begitu indahnya hubungan yang tidak hanya memikirkan birahi semata tapi memikirkan perasaan wanita dan kepuasan dengan segala perlakuan yang manis, saat satu suapan masuk dalam mulutnya ada suatu yang masuk dalam hatinya, dia di tinggal sang ibu saat berumur empat tahun, bahkan dia lupa dengan raut wajah sang bunda.