Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Bab 59


__ADS_3

Ratih menatap sang adik lalu mengangguk. "Maaf, membuatmu tak nyaman," katanya lalu menepuk pundak sang Adik dan bejalan menuju lift bersama sang putra. Vino menatapnya sang kakak penuh rasa haru. Ia pun masuk setelah kakak dan ponakan sudah tak terlihat lagi.


Vino berjalan ke maja makan di bukanya makanan yang di kirim sang kakak, Rawon yang masih panas, Empal goreng dan sambel terasi, salah satu menu makanan favoritnya, ia pun membatin, 'Kapan kakaknya masak, sehingga pagi-pagi sudah mengirim menu sepesial untuknya.'


Ia pun mulai menyantap makanan yang di kirimkan sang Kakak, kali ini dia mendapat libur untuk satu Minggu setelah melakukan tugas berat, walau informasi tidak terlalu detail Vino berhasil masuk keruangan rahasia mencuri sedikit rahasia mereka, Sayangnya itu tak cukup membuat mereka bisa di jerat hukum.


Setelah menyelesaikan sarapannya dia pun kembali ke kamar dia merasa sangat lelah dan ngantuk, direbahkan tubuh di ranjangnya dan tidak menunggu lama pria itu tertidur pulas.


Tak ubahnya dengan Belvi setelah sholat subuh dia pun kembali terlelap. Sang bunda beberapa kali mengetuk pintu, namun rupanya dia terlalu lelah tak mendengarnya hingga Naila menyerah.


"Dia sepertinya sangat lelah Dad, biarkan saja, nanti pun akan terbangun juga," ujar Naila duduk di depan meja makan sang putri yang berusia tiga tahun itu duduk di troli dan di suapi oleh Bik Nanik.


"Ya, sudah, kita sarapan dulu, Bun," ajak Albert pada istrinya.


Setelah selesai sarapan, Albert pun berangkat di antar sang istri sampai ke depan pintu gerbang Naila mencium punggung sang suami, setelah itu Albert masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan rumahnya menuju kantornya.


Naila sendiri setelah mempunyai Putri memilih resign dari pekerjaannya untuk membesarkan anak tanpa baby sitter hanya di bantu oleh satu asisten rumah tangga yaitu Bik Nanik.


Matahari sudah mulai meninggi Belvi membuka matanya, di lihat jam weker yang ada di mejanya menunjukkan pukul sembilan pagi. Gadis itu bangun dari ranjang lalu berjalan ke kamar mandi membasuh mukanya lalu dia berjalan keluar menuju pintu kamar yang masih terkunci dia pun membukanya di depan pintu di sambut gadis kecil berusia tiga tahun berdiri di depannya.


"Kakak!" panggil gadis kecil itu.


"Hai mana Bunda?" tanya Belvi sambil duduk berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan sang adik.

__ADS_1


"Tu tu cana masak," jawab sang Adik dengan tangan menunjuk ke arah dapur yang tergabung dengan ruang makan sambil menoleh ke sana.


"Ok! Mari ke sana, kita lihat Bunda sedang masak apa," jawab Belvi sambil menggendong gadis kecil itu dan berjalan menuju ruang tengah, terlihat sang bunda telah selesai memanggang cup cake kesukaannya.


"Bunda bikin cupcake?" tanya Belvi.


"Eh, sudah bagun?" tanya Naila pada putri dari suaminya itu.


"Hehe, maaf, Bun. Belvi gak bisa bangun mata lengket banget rasanya, habis subuh tidur lagi," katanya sambil menggendong si kecil.


"Gak apa-apa, kata Daddy kamu pulang sudah sangat larut malam, Bunda juga paham tugasmu amat berat sebagai abdi negara," kata Naila sambil meletakkan dua piring berisi cupcake.


"Kakak malas, kala ama, Ana cudah bagun pagi," celoteh si kecil.


"Eeh, kamu ngatain kakaknya," protes Belvi sambil mencium seluruh wajah si kecil hingga gadis itu berteriak-teriak.


"Habis gemes sih Bun," jawab Belvi sambil menyerahkan Liana pada Bundanya.


Lalu mencomot cupcake yang masih panas dan disuapkan ke mulutnya. "Bunda sudah gak kerja?" tanya Belvi pada bundanya,


"Gak boleh sama Daddy-mu, Vi, jadi Bunda nurut saja, kamu sarapan dulu sayang, nanti kalau terisi setidaknya makan makanan berat dulu ini sudah hampir jam sepuluh loh, sudah bukan lagi sarapan," kekeh Naila memperingatkan Belvi


Belvi tertawa. "Habis Bunda bikin cupcake sebelum aku sarapan sih jadi keterusan makannya."

__ADS_1


Naila hanya tersenyum dengan ulah putri sulungnya itu. Karena tidak ingin mengecewakan ibu sambungnya Belvi mengambil nasi, sayur dan lauknya dan mulai mengisi perutnya dengan makanan berat.


Sementara itu di pulau terpencil di rumah sakit terbesar dengan fasilitas yang lengkap, Hans di ruangannya menunggu Cahaya keluar dari kamar mandi, lima belas menit dia sudah menunggu tapi sang pujaan hatinya itu tidak muncul juga dengan tidak sabar di mendobrak pintu kamar mandi dan Cahaya yang sedang di dalam bathtub itu pun terkejut, ia menoleh pada pria yang telah menguasai dirinya itu dengan tatapan tajamnya dia mulai berbicara pada pria itu.


"Ada apa kau ke sini? Apa kau kira aku bisa lari darimu? Tidak bukan?" tanyanya pada pria itu.


Hans tidak menjawab dia malah melucuti pakaiannya dan berjalan kearahnya dalam keadaan polos. "Hai apa yang akan kau lakukan padaku? Kau sudah berjanji menikahiku jadi jangan menyentuhku lagi sebelum aku sah jadi milikmu!" pinta Cahaya.


"Ok! Jadi kau bersedia, Baiklah jadi aku tidak lagi memaksamu lagi untuk menikah dengan ku," katanya tersenyum menyeringai lalu memutar badannya dan kembali memakai pakaiannya di hadapan cahaya.


"Dasar! Tuan muda licik," umpat Cahaya lirih tetapi masih terdengar di telinga Hans.


"Cepat selesaikan mandi mu, Haya! Jangan mengumpat ku lagi!" larang pria itu sambil tertawa dan keluar dari kamar mandi.


Tak lama kemudian Cahaya keluar dengan jalan yang masih tertatih walaupun sudah tak sesakit kemarin rasanya tetap membuatnya tak nyaman. Hans menatap gadis hanya mengenakan bath robe itu. "Masih sakit, sini aku periksa!" perintahnya.


"Tidak perlu Tuan dokter mesum," kata Cahaya sambil mengambil paper bag yang ada di meja dan akan berganti pakaian di kamar mandi tetapi Hans menarik tangan Cahaya hingga menatap dada bidangnya itu. "Ganti di sini saja aku tidak akan memakan mu untuk saat ini tidak tahu nanti malam.


"Tetapi saya malu, Tuan," jawab Cahaya, menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Hans.


"Kenapa malu, tadi malam pun itu mu aku lihat dan aku pegang, sudah berkali-kali ku lakukan sampai kau terkapar tak berdaya dan berulang kali kulihat bahkan ku ci--" katanya sambil tertawa.


Cahaya yang sudah bisa menebak dari apa akan dikatakan tuan muda mesum itu memukul dada pria itu sekencang-kencangnya sambil melebarkan matanya ingin marah pada pria di hadapannya itu.

__ADS_1


"Ganti di sini saja, aku juga mau tanya padamu Haya, dari tadi ku lupa mau bertanya apa pada diri mu karena terpesona oleh keindahan tubuhmu dan kecantikanmu itu," katanya


"Maka berbalik lah tuan muda, jangan memelototi ku seperti itu tuan muda!" perintah Cahaya yang kesal pada tuan muda keras kepala itu dan yang selalu suka memaksa itu.


__ADS_2