
Vino meneruskan langkahnya menuruni tangga, terlihat di kursi meja makan Angga duduk sambil meminum segelas yang di berikan oleh Rika yang duduk di sampingnya, ia menghelah nafas ketika mengingat kembali Gloria yang pergi tanpa memberi kesan indah, justru kemarahan dan kekecewaan, walaupun ia tahu bahwa Gloria berfikir itu adalah yang terbaik, tapi tidak dengan Vino. Ia merasa tidak tahu apa-apa dan bukan orang terpenting untuk Gloria.
Vino berjalan menghampiri Angga mengambil punggung tangan dan menciumnya dengan hikmat.
"Ayah Angga baru pulang?" tanyanya pada pria paruh baya itu.
"Iya, Sudah lama kamu di sini?" tanya Angga pada Vino yang sudah duduk di depan Angga dan terhalang oleh meja
"Setengah jam yang lalu, Yah," jawabnya.
Setelah itu sunyi untuk sepersekian detik tak ada percakapan, beberapa kali Vino merasa ragu untuk memulai bertanya.
"Vin, apa yang sebenarnya ingin kau kau katakan, sampaikan," tanya Bunda Rika.
"Hem ... kata Rena besok akan pergi ke Boston, boleh aku ikut kesana? Teman ku ada yang meninggal di sana," pintanya dengan tatapan tatapan penuh kesedian.
"Kamu 'kan belum liburan, apa diperbolehkan oleh Ayahmu? terus apa kamu tidak lagi ujian?" tanya Angga pada Vino
"Ayah, sudah mengijinkannya dan besok serta beberapa hari kedelapan belum ada ulangan, Yah," jawabnya dengan menunduk tajam.
Rika terkekeh. "Sudah ajak saja, dari pada hatinya galau malah nanti nilai turun lagi, setidaknya dia akan lega," jawab Rika.
"Ok! Siapkan bawaanmu, nanti kalau kau ingin pulang duluan ke Indonesia, biar di antar Bara. Sudah jangan sedih berarti dia memang bukan jodoh kamu." katanya sambil menepuk bahu Vino dengan keras lalu berdiri dan beranjak
pergi bersama Rika, Vino terbelalak ia menoleh ke belakang terlihat Bunda Rika terseyum sambil mengacungkan jempol tangannya.
__ADS_1
Vino terseyum dan mengangguk, ia berdiri dan berjalan menaiki tangga menuju kamar Rena, ia mengetuk beberapa kali tapi tak ada jawaban, ia pun memutar kenop pintu dan membukanya, ia pun tertawa saat dilihatnya Rema sudah mendengkur dengan memeluk guling kesayangannya. Vino kembali menutup dan membalikan badannya kembali menuruni tangga serta berjalan keluar menuju motornya, dia melihat Pak Sobar duduk di kursi taman sambil menyesap rokoknya.
Dia menghampiri Pak Sobar, dan mencium punggung tangan lelaki paruh baya itu.
"Gak usah begini juga, Den. Saya 'kan cuma supir," katanya sungkan.
"Bapak, tetap orang tua, apa pun jabatannya," katanya sambil tersenyum lalu meneruskan langkahnya menuju kendaraannya itu.
Vino pun naik lalu menstaternya kemudian melajukan kuda besinya itu melewati pintu gerbang serta membelah jalanan yang sepi.
Tak lama kemudian ia sampai dirumah besar yang sederhana tapi asri. Rumah warisan itu sudah di tempati beberapa bulan yang lalu.
Ia melajukan motornya hingga masuk dalam garasi kemudian masuk melalui pintu sambung dari garasi.
Vino masuk kedalam kamarnya merebahkan tubuhnya dengan kaki yang masih menggantung menyentuh lantai.
Vino masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah itu menunaikan sholat ashar kemudian memanjatkan doa tebaik untuk orang yang benar-benar sangat dicintainya itu, Vino tersadar bahwa ia tidak mungkin melawan takdir ia harus benar-benar harus merelakan Gloria pergi walau terasa sangat sakit
Vino mulai mengemas pakaiannya, untuk tinggal selama tiga hari di sana, Vino sendiri tidak tahu apa setelah ini dia akan bisa mencintai orang lain selain Gloria, hatinya benar-benar patah, setiap hatinya berbicara ia selalu berusaha menggunakan otaknya untuk memutus keinginan hatinya yang tak mungkin bisa diujudkan dengan apa pun.
'Memang benar cinta tidak harus memiliki, tapi melepaskan tanpa salam perpisahan sungguh menyakitkan.
Andai waktu bisa di putar kembali ijinkan aku melepaskanmu dengan kesan yang indah di akhir hidupmu, tertawa bersama dan menangis bersama, sayangnya sudah berlalu dan aku tak mempunyai sepenggal cerita indah bersamamu, hatiku sakit dan terkoyak begitu dalam.
"Berangkat jam berapa besok," tanya Hardian pada putranya, saat mendatangi kamar putranya itu dan melihat sedang mengemas pakaiannya.
__ADS_1
Aku tidak tahu ayah mungkin pagi atau apa Yang jelas mereka nggak akan menghubungi.
"Kendalikan hatimu Vin, jangan lakukan apapun yang merugikan di sana, sesedih apapun dirimu kuatkan hatimu jika kau tidak bisa maka dekatkanlah dirimu pada Allah," pesan Hardian pada putaranya itu.
Hadiah menatap putranya, "satu lagi jangan tunjukkan kesedihanmu kakakmu Ratih, Ayah takut kakak mu itu
akan mengalami kontraksi awal tanah terlalu mencemaskanmu. ku tahu bukan kalau kakakmu itu begitu sayang denganmu jadi berusaha untuk ceria di hadapan kakakmu itu.
"Iya Ayah semoga aku bisa menyembunyikan kesedihanku di hadapan Ratih aku juga mencemaskannya," kata Vino
"Coba kau tidak ingin bercerita pada Ayah jangan kau pendam sendiri, saat kau ingin meluapkan keluh kesahmu , Ayah akan siap mendengarkannya," kata Hardian pada putranya itu.
"Iya ayah, saat ini aku belum bisa cerita apapun pada Ayah suatu saat nanti jika Vino sudah siap Vino sendiri yang akan cari ayah." kata Vino
"Aku mau tanya apakah waktu Ayah tahu ibu meninggal karena sakit kanker dan tidak memberi memberitahukan pada Ayah, bagaimana perasaan ayah waktu itu?"
"Tentu sakit Vin, apalagi Ayah tahunya setelah ibu mu dimakamkan. sebagai suami itu Ayah ingin mendampinginya di saat-saat dia dalam keadaan buruk dan ingin memeluknya terakhir kali tapi itu tidak terwujud karena ayah datang terlambat," kata Hardian
Sudah malam tidurlah agar besok tidak terlambat kau bersiap-siap untuk berangkat Jangan sampai pamanmu Angga itu menunggumu terlalu lama nanti sampaikan salam Ayah pada kakakmu ya Ayah belum bisa datang ke sana karena perusahaan Ayah lebih membutuhkan ayah, cukup mereka saja yang ke sana itu sudah mengobati rasa rindu kakakmu pada orang tua,"
"Baik, ayah!"dan Haidar pun keluar dari kamar putranya. setelah selesai berkemas film pun membaringkan tubuhnya di raja berusaha untuk melupakan Apa yang dirasa di hatinya.
ia mencoba untuk memejamkan matanya agar bisa tertidur dan melupakan segalannya
Dia sangat kecewa dengan kepergian Gloria tanpa mengatakan apapun memilih menghadapi sendiri penyakitnya itu adalah suatu hal keputusan memilih menghadapi sendiri penyakitnya,
__ADS_1
Jika ku tahu saat itu adalah detik-detik terakhir Aku berbicara denganmu maka aku pun tidak akan pernah memutuskan sambungan teleponku, gumamnya dalam hati.
dia pejamkan kembali matanya berharap bertemu pujaan hati di dalam mimpi agar mengobati rasa rindu nya pada kekasihnya itu Gloria Ashalina.