
Hans beranjak dari duduknya dia hendak keluar kamar menuju ruang kerjanya, sebelum pergi dia berpesan pada gadis itu. "Jangan tidur! Kau belum makan apapun, sebentar lagi pesananku akan datang, kau harus makan dan minum obatnya," jelasnya sambil melangkah menuju pintu keluar meninggalkan kamar pribadinya.
Has duduk di ruang kerjanya, jam sudah menunjukkan pukul tiga siang, dia termangu di sana dan berfikir tentang ramuan apa yang di berikan Cahaya padanya, hingga tidak bisa seganas dulu, ketika dia sudah puas, dia sudah tidak ingin melakukannya lagi, apalagi melihat wanitanya tergolek lemah, rasanya begitu tidak tega untuk berbuat lebih brutal lagi.
Lamunannya terhenti saat interkom berbunyi, ia menekan tombol terima, terdengar suara Brain dari luar. "Tuan saya sudah di depan pintu."
"Ya masuklah," katanya dan pintu terbuka seorang pelayan masuk membawa troli berisi makanan yang di pesan oleh Hans.
"Cukup di situ saja dan keluarlah!" perintahnya pada pelayan itu.
"Baik, Tuan!" kata pelayan itu sambil berjalan keluar lalu menutup pintunya kembali.
Hans bangun dari tempat duduknya menghampiri troli berisi makanan itu lalu mendorongnya masuk kedalam kamarnya, saat itu Cahaya sedang menatap keluar kamar membuat mereka saling bertatapan dan Hans tersenyum manis, Cahaya membuang mukanya ke arah lain. Hans hanya melebarkan senyumnya saat wanitanya menghindari tatapan matanya.
di meletakan troli di depan ranjangnya lalu dia menghampiri Cahaya membantunya duduk dan menaruh bantal tepat dibelakang punggungnya sebagai sandaran, gadis itu, dengan sedikit meringis dia membenarkan pantatnya.
Hans tersenyum, dia melihat tubuh bagian bawah Cahaya sudah tertutup. 'Sepertinya dia malu jika terlihat olehku, padahal sebelum dia sadar aku tak berhenti memandangnya, bahkan tak akan pernah puas memandanginya,' batinnya.
"Kenapa di tutup? Aku lebih suka seperti tadi, lagipula itu masih sakitkan? Lebih baik begini, jangan dirapatkan," kata Hans membuka tiga kancing bawah kemeja yang di pakai gadis itu lalu menyingkapnya kembali dan merenggangkan kaki wanitanya kembali.
__ADS_1
"Menurut lah, Haya, aku tak akan melakukan lagi sebelum itu benar-benar sembuh, dan aku akan sering memeriksanya, itu sebabnya kenapa kamu harus membiarkan dalam keadaan seperti ini," katanya sambil menatap dalam wanita itu.
Cahaya melebarkan matanya seolah mengatakan,' Jangan!'
Hans tertawa. "Kau makin cantik jika sedang melotot padaku, memangnya kenapa? Kau milikku Haya, apa yang ada dirimu aku berhak melihatnya tidak peduli kau suka apa tidak."
Hans mengambil sepiring nasi dan lauknya lalu duduk di depan Cahaya. Gadis itu menghela nafas berat, saat ini dia tidak tahu harus sedih atau senang saat Dokter Hans memperhatikannya dengan sabar.
"Buka mulut mu, Haya," perintahnya dengan membawa sendok berisi makanan di depan mulut Cahaya. Gadis itu tidak mau membuka mulutnya, Hans menghembuskan nafasnya di menaruh piring di atas nakas yang bersebelahan dengannya, tangan kanannya masih di posisi yang sama, dan tangan kiri menyentuh luka Cahaya sontak saja Haya menjerit kesakitan. "Ahh!" Saat itu lah satu suapan masuk kedalam mulutnya.
Hans tersenyum menyeringai. "Kalau tidak ingin aku berbuat ekstrim pada mu, menurut lah padaku!" pintanya.
Cahaya mengunyah makanannya dengan pelan terlihat matanya berkaca-kaca ingin menangis karena kesakitan.
Hans meletakan piring kotor ke atas troli, dia mengambil segelas air minum dan obat.
"Buka mulut mu dan minum obatnya!" perintahnya lagi
Haya, menurut dia membuka mulutnya dan Hans menyuapkan satu tablet obat dan memberikan minum pada gadis itu. Haya meminum habis air minum dalam gelas lalu mengembalikan gelas ke Hans sambil bertanya, "Boleh aku minta lagi, aku sangat haus."
__ADS_1
Hans tersenyum mengambil satu gelas air minum dan di berikan ke Cahaya dan gadis itu kembali meneguknya hingga habis lalu memberikannya kembali ke Hans.
"Aku lupa, bukankah tadi sebelum kau pingsan, kau berteriak-teriak makanya kau kehausan, suaramu tadi sangat seksi," kekehnya sambil menaruh gelas diatas troli, rona merah menjalar di wajah gadis itu.
"Dok!" panggil Cahaya lima belas menit kemudian.
"Hem, apa!" Hans menoleh ke gadis itu.
"Emm .... Bagaimana kalau aku ingin buan air kecil, ini sangat sakit?" tanyanya sambil mengigit bibir bawahnya.
"Kau ingin buang air kecil?" tanya Hans dengan lembut. gadis itu mengangguk.
"Sebentarnya aku akan pasang kateter, apa sudah tidak bisa di tahan?" tanya Hans lagi.
"Masih bisa Dok," jawabnya sambil membuang muka ke arah lain.
"Siapkan kateter, cepat! Jangan terlalu lama!" perintah pada asistennya kembali, lalu dia keluar kamar menunggu di luar ruangannya begitu dia dapatkan kembali kekamarnya.
Pria itu memasang kateter pada Cahaya, gadis itu sedikit meringis kesakitan, ia menatap sekilas lalu menyelesaikan pekerjaannya, kemudian dia mengoleskan salep pada luka Cahaya, gadis itu mendesis kesakitan.
__ADS_1
Kembali Hans menatap Cahaya.
"Tahan sebentar ya, besok juga sudah sebuh. Maaf ini yang pertama buatmu tetapi aku malah tidak peduli itu."