Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Bab 17


__ADS_3

Sementara sang anak berkarir sendiri, merubah haluan hanya untuk melupakan wanita yang di cintainya apakah ini suatu keputusan yang konyol bahkan memilih profesi setiap detik, menit, jam atau hari bisa mati saat itu juga. Maafkan aku Rindu aku tak bisa mencegah putera mu, batin Haidar


Di ruangan kamarnya Vino menatap langit-langit ruangannya hatinya bergemuruh. Kau benar Ayah aku selalu ingin mati walaupun bukan bunuh diri tapi lewat tugas aku ingin mati dan bertemu dengan pujaan hatiku, batin Vino.


Vino berkecamuk dengan hati, pikiran, dan lukanya yang belum kering.


Benarkah, Glo. Apa kau bukan jodohku? Sehingga pergi begitu saja, jika memang, mengapa kau harus masuk kedalam hatiku? Lalu menabur bunga-bunga cinta di hati ku yang masih subur ini, Glo, gumamnya dalam hatinya yang masih gemuruh.


Ya Allah, maafkan aku, aku seperti kehilangan pasanganku dan tak bisa menerima keputusan yang kau berikan dalam hidupku, Andai tidak pernah kau berikan kebahagian sementara bersama dengannya, aku tak akan terluka seperti ini, andai aku tidak pernah melihat senyuman indahnya, andai aku tidak pernah bermimpi untuk memilikinya, kenapa aku tidak bisa melupakan cintanya, padahal dia melepaskan ku dengan seyuman manis. Aku merintih dalam hati


Akhirnya Vino terlelap dalam tidurnya, karena bertanya dan mencari jawaban apa yang di rasakan hatinya. Hingga alarm handphonenya berbunyi jam lima sore, dengan segera ia bangun dari ranjangnya dan berjalan lunglai menuju kamar mandi karena kantuk masih menggelayut di matanya.


Vino mengambil air wudhu dan bersiap untuk sholat ashar, setelah itu ia kembali lagi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah lima belas menit dia keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaiannya.


...----------------...


Di malam harinya ketika Belvi sedang makan malam bersama sang Daddy, Belvi mengungkapkan keinginan untuk memiliki motor sport lagi dan berlatih kembali motor cross diarea balap.


"Dadd, jika aku ingin mendekati Vino maka aku harus mengikuti gayanya saat ini, Ayah. Dia suka melakukan balapan liar, karena kak Gloria yang tak mau berterus terang padanya kalau dia sakit, andai kak Glo mau memberikan kesempatan pria itu untuk berjumpa dengannya dan menemani di saat dia sakit, mungkin lelaki ini akan terluka terlalu parah.


"Bukan Daddy melarang, Belvi. Tetapi kau pernah jatuh dan cedera, apa kau sudah mengatasi trauma mu itu, jangan sampai hanya karena kamu ingin mengabulkan keinginan Kakakmu membuat kamu membahayakan dirimu sendiri, Daddy takut dia malah menjauh darimu dan kau terluka, bukan hatimu saja tapi juga ragamu Bel," kata Albert.


"Belvi akan berhenti mendekat dan menyentuh hatinya jika memang tak terjangkau," kata Belvi


"Baik lah lusa motor sportmu akan datang juga motor yang bebek biasa untuk kau pulang pergi sekolah," jawab Albert.


"Satu saja, Dad. Biarlah dia mengira bahwa aku tidak bisa mengendarai motor, Biar dia mengantarku pulang sebagai Adik dari kak Glo," kekeh Belvi

__ADS_1


"Baik lah, jika itu maumu," kata Albert.


Lalu Albert menyudahi makannya, dan bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya, sedang Belvi membersikan meja makan, kemudian membawa piring-piring dan gelas kotor dan membawanya ke wastafel dan mulai mencucinya.


Setelah selesai ia pun pergi ke kamar, membaringkan tubuhnya yang terasa lelah, seharian melakukan aktivitas di sekolah maupun di rumah.


...----------------...


Sore harinya selepas sholat isya, Vino dan makan malam kembali dia keluar dengan motor sport melajukan meninggalkan rumah dengan kecepatan sedang hingga di pintu gerbang rumahnya setelah itu menambah kecepatan sangat tinggi, meleok-leok di antara mobil-mobil yang berjalan menuju club-club bela diri yang dia ikuti, hingga malam, kemudian dia kembali melajukan motornya ke arena balap motor liar.


"Hai, kenapa baru datang kita Jevelin salah satu anggota wanita balap motor liar."


"Kenapa tidak langsung bertanding saja mengapa harus menungguku," kata Vino pada mereka.


"Kalau tidak ada tak akan seru," Karan.


"Taruhannya aku, jika kau menang aku milikmu dan jika kau kalah Kau milikiku," kata Jevelin sambil terkekeh.


Aku tidak ikut hasil sama saja, menguntungkan dirimu, lagi pula aku tidak tertarik padamu," sarkasnya pada Jevelin.


"Hai kau takut kalah?" tanya Roan pada Vino


"Dua-duanya, jika aku menang maka dia menempel padaku dan kalau aku kalah dia memaksa aku untuk jadi miliknya enak saja, menurut mu aku suka dengannya no, tidak ada yang berharga untuk di pertaruhkan hari ini jadi aku tidak ikut," kata Vino membuat Jevelin tersinggung.


"Maksud mu apa?" tanya Jevelin


"Kau Barang atau bukan, jika kau menganggap dirimu barang berarti tidak ada Barang yang berharga untuk di pertaruhkan hari ini, betulkan apa yang kukatakan tadi?" protesnya.

__ADS_1


"Dia Benar, Jevelin, taruhanmu hanya menguntungkan dirimu saja bukan bermaksud membelanya," kata Rion


"Taruhannya di rubah jika kami menang maka kami akan mendapatkan mu itu artinya kau siapkan tubuh mu untuk kami, tapi jika kami kalah kau bebas, bagaimana?" kata Rion sambil menyapu tubuh Jevelin dengan tatapan nakal.


"Aku tidak mau," kata Jevelin akhirnya.


"Tidak bisa itukan penawaran mu sendiri karena Vino yang mundur maka aku dan juga teman lain bersepakat mengiyakan. Jika aku menang kau adalah milikku sampai pagi nanti," kata Rion sambil tersenyum Devil


"Kalau kau tidak bertanding itu artinya kamu saat ini sudah kalah tanpa ada pertandingan dan milik bersama apa tidak parah itu namanya?" kata Rion mempermainkan mentalnya.


"Aku pergi dulu kata Vino," kepada teman -temannya


"Mau kemana?Apa kau tidak ikut merayakan kemenangan kami?" kata Rion


"Tidak aku tidak berminat," kata Vino pergi dari arena itu dengan kecepatan kencang. Sementara itu Jevelin terjebak dengan kata-katanya sendiri agar bisa berkencan dengan Vino.


Mestinya ia harus berfikir bahwa tidak selalu orang akan menanggapi kata-kata dengan baik bisa saja kata-kata itu menjadi malapetaka yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya dan mau tidak mau dia harus menerima tawaran itu.


"Baiklah kita bertanding, jika aku menang maka aku akan bebas, begitu kan aturannya?" tanya Jevelin pada Roan.


"Ya kau benar," kata Roan sambil tersenyum penuh Arti.


Akhirnya pertandingan itu di mulai dengan enam pria remaja dan satu perempuan yaitu Jevelin yang menjadi dirinya sendiri sebagai taruhannya.


Jika dikatakan ia menyesal sungguh ia menyesal tapi apa boleh buat, suatu keputusan sudah di ambilnya.


"Kita hanya berkencan, 'kan Roan?" tanya Jevelin pada Roan.

__ADS_1


"Tidak, tuan putri, kita akan sama melepaskan hal yang paling berharga yang kita punya, itu kalau aku yang menang," kata Rion.


__ADS_2