
Beril tidak melepaskan tatapannya pada Ruri, setiap gerak-geriknya di ikuti dengan seksama, kadang Beril merasa Ruri menyimpan suatu hal dia sendiri tidak tahu kemarin katanya di jemput taksi tetapi tidak ada taksi yang berhenti di sana, namun justru sebuah sepeda motor yang di Kendari dengan kecepatan tinggi dan Beril ingin menguntit gadis ini.
"Sudah mau pulang?" tanya Beril yang sengaja mengendap-endap mendekati gadis itu.
"Ahh, Pak Beril, bikin kaget saja," kata Ruri.
"Kenapa kamu kaget dari tadi kan kamu tahu aku ada sekitar sini," katanya sambil tersenyum.
"Iya tapi Bapak tiba-tiba saja ada di sini padahal Bapak tadi ada di sana," jawab Ruri
"Kalau kamu gak mau aku mengantarmu pulang aku akan mengantarmu sampai di masjid sana bagaimana?" tanya Beril.
Ruri menghela nafas. "Baik tetapi sebentar saya ke toilet dulu Pak," pinta Ruri
"Silahkan saya tunggu di Sini," kata Beril.
Ruri bergegas ke kamar kamar mandi, setelah sampai ia mengunci kamar mandi kemudian mengetik sesuatu di Aplikasi Wanya.
Belvi
[ Vin, cepat menyamar lah sebagai driver taksi on line dan jemput aku di masjid tak jauh dari restoran, pemilik restoran sepertinya mencurigai ku, jangan lupa namaku Ruri ]
Lalu melakukan panggilan tak terjawab sebanyak tiga kali.
Vino yang sedang makan malam terkejut dengan tiga miss call dari Belvi itu tanda darurat muncul pesan Wa di layar depan dari Belvi.
Tanpa menunggu lama ia mulai melakukan penyamaran dan bergegas ke basement menganti plat nomor lalu segera menjalankan mobilnya meninggalkan apartemen menuju tempat di mana Belvi berada cincin di jari kelingkingnya menunjukkan sinyal keberadaan Belvi.
Sementara Ruri sudah keluar dari restoran terkejut karena Beril berada tepat di depan pintu toilet.
"Bapak ada di sini?" tanya Ruri, pada pria itu.
"Iya aku menunggu mu di sini, takut kamu kabur tidak mau saya antar," jawanya tenang
"Bukan begitu, Pak, masjid kan dekat dari sini rasanya lucu saja kalau saya diantar pakai mobil," kata Ruri.
"Tidak ada yang lucu, dari tadi kamu juga jalan mondar-mandir mengantar pesanan, tidak ada salahnya kalau saya antar kamu biar kakimu itu beristirahat," kata Beril sambil tersenyum.
Mereka keluar dari restoran, Beril membukanya pintu untuk Ruri dan gadis itu duduk di bangku depan lalu Beril berjalan memutar setelah itu membuka pintu dan duduk di depan kemudi, mobil pun berjalan lambat menuju masjid. Ruri tertawa. "Kalau begini kapan sampainya, Pak mobil Anda jalannya sangat lambat lebih lambat dari jalan kaki."
"Tidak apa-apa setidaknya saya bisa menikmati senyuman mu untuk beberapa saat secara dekat. Ahh, sayangnya kamu tidak mau saya antar pulang setidaknya saya bisa berkenalan dengan si Mbok mu itu," kata Beril pada Ruri.
"Sudah sampai pak saya sholat dulu, Bapak kalau mau kembali tidak apa-apa," kata Ruri sambil membuka pintu mobil dan keluar.
"Saya akan tunggu di sini, kalau taksi online mu tidak datang itu berarti rejeki aku untuk bisa mengantarkan mu pulang," kata Beril pada Ruri.
__ADS_1
Ruri mengangkat bahunya ke atas lalu keluar dari mobil dan berjalan ke masuk ke dalam masjid, mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat isya setelah selesai dia masih tetap diatas sajadah hingga notifikasi handphone-nya, ada pesan Wa dari Vino.
Vino
[ Aku sudah di depan]
Serta memacu kendaraannya dengan sangat kencang selama dua puluh menit Vino pun sampai ada mobil hitam di sana terparkir di depan mobilnya.
Vino keluar dari mobil dan menunggu Belvi di depan mobilnya.Beril menghampiri pria paru baya yang berkumis tebal itu.
"Bapak pulang saja, biar saya yang mengantarkan Ruri pulang ke rumah," kata Beril pada pria itu
"Tidak bisa, Nak Ruri tetap saya yang harus mengantar dan menjemputnya, tidak ada yang boleh selain saya kecuali kalau Nak Ruri sudah menikah," jawab Vino dengan menyamarkan suaranya dengan alat dibalik kumis tebalnya.
Ruri keluar dengan seyuman yang merekah menyambut driver online.
"Sudah lama pak, maaf saya harus sholat dulu," kata Ruri pada pria itu.
"Oh, tidak apa-apa, Nak, memang itu yang harus di dahulukan, sebelum yang lainnya," kata pria itu.
Lalu Ruri menoleh pada Beril. "Maaf, Pak, saya pulang dulu," katanya sambil membuka pintu tengah dan duduk di sana, Vino masuk dan duduk di depan kemudi lalu menjalankan dengan kecepatan sedang membela jalanan.
Beril tidak mau menyerah dia mengikuti mobil Vino dari belakang.
Vino belum menyadari bahwa mobilnya di ikuti dari belakang menggerutu, "Kenapa pakai pamit sih Vi?"
"Sial itu orang ngapain sih kejar-kejar kamu segala sampai buntuti kamu segala. Pegangan Vi gue mau ngebut," kata Vino.
Maka Vino pun melakukan mobilnya dengan sangat cepat dan berbelok dijalan kecil dekat hutan.
Beril yang melihat itu kelabakan dia tak mampu mengejar dan dia melihat mobil itu telah menghilang apa lagi menghilangnya setelah melewati TPU, tengkuk belakang Beril meremang pikiran sudah di luar nalar manusia padahal di selalu bermain-main dengan hal yang magis melihat mobil yang menghilangkan dengan cepat membuat sedikit merinding dia memutar mobilnya dengan cepat dan kembali ke restorannya.
Vino yang berhenti di belokan jalan tadi segera mengganti plat nomor mobilnya lalu keluar dari jalan itu dan melanjutkan perjalanan mengantarkan Belvi pulang ke rumah.
Sesampainya di restoran Beril langsung masuk ke ruangan kerjanya dia berusaha menepis sesuatu yang berkelebat di pikirannya, dia mulai memeriksa, beberapa daftar pesanan dan di teringat Sonia akhirnya ia menghubungi manager hotel pusat untuk memanggil Sonia menghadapnya esok hari.
...----------------...
Ratna karyawan baru Beril yang sudah mendapatkan seseorang yang mau membeli keperawanan dengan harga yang sangat tinggi itu duduk disebelah klien yang sedang mengemudi.
"Hai, sayang aku sudah tidak sabar menikmatinya," kata Pria itu sambil melirik Ratna dan gadis itu hanya tersenyum.
saat mobil sudah berhenti dia pun turun di ikuti Ratna yang berjalan dengan pelan, sang pria nampak tidak sabar diapun menggendong gadis itu masuk kedalam lift, tak ada orang pun hanya mereka berdua membuat pria itu merangsek menyerang Ratna dipagutnya bibir indah itu dan jemari tangan mulai bekerja meraup apa pun yang dia sukai
Ratna tidak melawan walau logikanya menolak. Namun semuanya sudah terlanjur dan dia sekarang telah terbeli maka harus patuh dengan orang yang telah membelinya.
__ADS_1
Pintu lift terbuka sang pria kembali menggendong Ratna membawanya ke dalam kamarnya lalu menguncinya satu gelas minuman tersedia untuk gadis itu.
"Minumlah, itu untuk mu," kata pria itu pada Ratna,
"Tapi saya tidak biasa minum minuman seperti itu," kata Ratna.
"walau belum terbiasa kau harus tetap meminumnya, kalau kau tidak mau meminumnya jangan harap kau bisa mendapat satu M mungkin aku hanya bisa memberikanmu 500 juta," katanya sambil menyodorkan minuman di bibir Ratna, mau-mau tidak mau dia harus meminumnya.
Tak lama kemudian Ratna merasa sesuatu yang aneh menjalar ke tubuhnya apalagi pria itu tak henti membelai setelah itu tiba-tiba saja dia berhenti berdiri menjauh dari Ratna.
Obat telah menguasai otak gadis itu tanpa sadar dia telah melepaskan kain di seluruh tubuhnya serta berjalan cepat mendekati pria itu lalu terjadi lah sesuatu yang membuat sang pria begitu sangat senangnya, dia pun mulai memanfaatkan keadaan itu, mereguk madu yang sangat manis dengan sejuta perasaan yang meletup-letup. Malam semakin larut dia semakin terbawa suasana dan selalu menginginkan hingga fajar menyingsing di baru selesai menikmatinya kembali.
Ratna belum tersadar dari pengaruh obat itu kembali menarik lelaki itu hingga terjadi kembali hal yang sangat di senanginya sehingga membuat pria itu tidak berdaya. Namun, pria itu benar-benar sangat puas. Setelah itu, Ratna terkulai tak berdaya dan baru terbangun saat matahari sudah di atas kepala dan begitu terangnya. Merasa tubuh tak bertenaga dan sakit diarea sensitif begitu sangat sakit hingga kakinya tidak bisa di gerakkan.
Dia melihat lelaki yang membawanya kemari tadi malam duduk di sofa sambil tersenyum ke arahnya.
"Kenapa saya tidak bisa menggerakkan tubuh saya tuan bagaimana saya pulang jika begini?" tanya pada lelaki itu.
"Karena kau luar biasa tadi malam, tapi tenanglah aku tak akan membiarkan mu di sini sendirian.
"Sebentar aku siapkan air hangat untukmu," kata pria itu sambil berjalan ke kamar mandi.
Tak lama kemudian, dia kembali lalu menggendong gadis itu di kamar mandi dan meletakan ke dalam bathtub berisi air hangat sabun cair dan aroma terapi.
"Melihat mu seperti ini rasanya aku ingin memakan mu kembali," katanya terkekeh.
pria itu tak beranjak pergi dia bersandar di dinding sambil menatap wanita itu yang tidak berani menatapnya
"Tuan apa yang terjadi tadi malam dan berapa kali tuan melakukannya?" tanya Ratna.
"Bukan aku yang melakukannya tapi kamu, semalam luar biasa aku seperti meledak berkali-kali," katanya.
"Apa? Anda jangan berbohong tuan!" pintanya sambil menatap pria itu dengan tajam. Mata indah itu seolah menuntut penjelasan yang lebih lanjut.
"Aku tidak berbohong itu sebabnya sampai kau tidak bisa berjalan padahal ini adalah kali pertama kau melakukannya.
"Ah, bagaimana ini? Bagaimana aku bisa menyembunyikan ini dari nenekku," kata Ratna panik.
"Hai tidak usa panik begitu aku sudah membelikan mu obat setelah mandi akan bantu mengoleskannya karena kau tidak mungkin bisa melakukannya sendiri," katanya sambil tersenyum
"Tuan tidak keluar? " tanyanya pada lelaki itu.
"Kenapa aku harus ke luar jika pemandangan di sini sangat indah, Oh yaa aku telah mentransfer 1,5 M di rekeningmu karena kau berhasil menyenangkan ku tadi malam cepat lah mandi, setelah itu isi tenaga mu barangkali saat menunggu mu sembuh aku menginginkannya lagi."
"Tuan!" teriak Ratna sambil melotot ke arah pria itu dan pria itu tertawa sambil berjalan keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"