
Vino mengandeng seorang wanita menuju mobilnya, semua itu tidak luput dari pengelihatan Belvi, entah kenapa hatinya begitu sakit, dia menghela nafas.
Dia kembali bekerja dia tidak mau ketahuan kalau dirinya saat ini tengah menyamar.
Kepala bagian HRD pergi menemui Beril yang sedang memeriksa CCTV, dia terkejut ada seorang karyawan yang awalnya melihat-lihat lalu akan membuka pakaiannya tetapi tidak jadi karena dia tiba-tiba ingin buang air kecil.
Lelaki itu mendengus karena tidak jadi melihat hal yang indah. dari CCTV yang tersembunyi inilah dia bisa melihat bodi karyawatinya itu.
Terdengar pintu di ketuk, dia menoleh ke arah pintu. "Masuk!"
Kepala HRD pun masuk keruangan Bosnya itu.
"Ada apa Aryo?" tanya pada kepala HRD
"Bos tadi sudah lihat CCTV, itu anak baru yang pakai hijab itu perawan tuan tapi dia tidak mau bonus bepergian hanya dengan Tuan, bos dia hanya mau kalau bersama dengan teman lainnya."
"Tapi sepertinya wajahnya tidak cantik wajah-wajah wanita desa," kata Beril
"Tuan salah memang wajahnya itu biasa tapi dia punya lesung pipit dan hidungnya mancung tuan serta bibirnya itu seksi," kata Ayo kepada tuannya itu.
"Baiklah akan ku periksa sekarang juga," kata Beril sambil keluar dari ruangannya dan berjalan menuju di ruangan istirahat karyawatinya, saat itu beril mengernyitkan dahinya pasalnya gadis mengeluarkan kotak makanan yang berisi steak, French fries dan nasi sungguh aneh sekali membuat Beril sedikit curiga
Beril menghampiri gadis yang terlihat udik itu, lalu berdiri di depan meja makannya tapi Belvi tetap makan tidak peduli ada orang didepannya.
"Hem," Beril berdehem tapi Belvi tidak menghiraukannya.
"Kamu makan lahap sekali, di sini setiap karyawati mendapatkan makan siang dan malam jadi kamu tidak perlu bawa bekal makanan dari rumah.
"Nah itu dia masalahnya, makanan ini dari majikannya setiap malam sepulang dari kerja dia akan mendapatkan makanan dari majikannya itu. Mbok itu pasti bilang begini, kalau bukan untuk kamu siapa lagi," jawab Belvi
"Oh pantas kamu makannya lahap sekali, karena memang kamu jarang dan gak perna makan makanan seperti ini," jawab Beril
Belvi mengangguk dan tersenyum sambil terus makan makanannya itu.
__ADS_1
"Nama kamu Ruri?" tanyanya pada gadis itu.
"Iya tuan," jawab Ruri
"Ya sudah lanjutkan makan mu itu, setelah itu segera kembali kerja saya cuma ingin tahu karyawan baruku," kata Beril
lalu pergi meninggalkan Ruri.
Di rumah makannya akan ada istirahat untuk makan malam antara jam delapan sampai sembilan malam secara berganti karena restoran ini adalah nonstop, semakin malam akan semakin ramai, dengan pengunjung yang mempunyai kantong tebal.
Setelah makan Ruri kembali kerja sebagai pelayan pengantar makanan.
"Bagaimana Bos?" tanya Aryo
"Ok! aku akan cari cara untuk menjebaknya di Pulau itu, jika mengandalkan penduduk asli di sana pasti akan curiga kalau kita lakukan ritual dengan durasi waktu yang sangat cepat," kata Beril
"kalau begitu saya kembali keruangan saya Tuan Beril," kata Aryo akan keluar dari ruangan Beril.
"Aryo!" Beril memanggilnya
"Siap laksanakan, Tuan!" kata Aryo.
Tak lama kemudian Aryo keruangan atasan lagi, memberikan daftar nama dan identitas yang diminta Beril lalu dia keluar dan kembali. Beril meletakan laporan itu di mejanya dan keluar dari ruangannya dan melihat Ruri bersiap-siap untuk pulang.
Jam sembilan malam adalah pergantian jam kerja, Belvi sudah bersiap untuk pulang. Namun Beril tiba-tiba saja sudah berjalan di sampingnya sambil bertanya, "Kamu di jemput, Ruri?
"Tidak tuan saya naik taksi," jawab Belvi.
"Bagaimana kalau kamu saya antar? ini sudah malam, loh," kata Beril.
"Maaf, tidak usah Pak, saya sudah terlanjur pesan taksi kasian kalo dibatalkan, saya sudah langganan sama dia, orang sangat baik dan punya anak seusia saya, tetapi sudah meninggal itu sebabnya saya lebih nyaman diantar olehnya," jawab Belvi.
"Tapi mana taksi di luar tidak ada?" tanya Beril tetap berusaha agar gadis itu bisa ikut dengan mobilnya.
__ADS_1
"Dia akan jemput saya di masjid sana, karena saya harus sholat dulu di sana takut kalau sampai rumah keburu ngantuk jadi saya sholat dulu Pak," kata Belvi.
"Benar nih gak mau diantar kesana?" tanya Beril lagi masih tetap berusaha.
"Tidak usah Pak, saya jalan kaki saja lebih sehat," kata Belvi.
"Baiklah, kalau begitu saya menyerah, pesan saya hati - hati !" nasehat Beril.
"Baik, Pak, saya akan hati-hati, terimakasih perhatiannya, Pak," jawab Belvi dengan sangat hormat walaupun hati ingin sekali memporak-porandakan senjatanya itu agar tidak menjerat gadis-gadis untuk menjual dirinya karena mereka merasa tidak berharga setelah apa yang terjadi pada mereka.
Belvi keluar dari restoran dan berjalan dengan tenang menuju ke masjid, setelah sampai di sana dia masuk kedalam gang di mana dia menyewa sebuah kamar pada pemilik masjid dan beliaunya pun berjanji untuk merahasiakan keberadaan Belvi di sana untuk menyimpan tas yang berisi pakaian ganti yang akan di gunakan untuk pulang.
Belvi masuk kedalam kamar tersebut lalu segera membersikan riasannya dan melepaskan kontak lensa berwana hitam, untuk menyamarkan warna mata yang biru itu. Setelah melepas semua samarannya dia memakai pakaian serba hitam dengan masker hitam keluar dari kamar itu dan berjalan menuju motornya langkahnya terhenti saat Beril berbincang-bincang dengan pemilik masjid setelah itu dia pergi.
Belvi bernafas legah, dia berjalan menghampiri pemilik mesjid dan bertanya pada beliaunya.
"Orang tadi mau apa pak?" tanyanya
"Dia bertanya apakah ada taksi berhenti disini dan saya menjawab ada dan sudah pergi dari tadi," jawab pria paruh baya itu.
"Trimakasih pak saya akan pulang," pamit Belvi sambil kembali berjalan menuju motornya. Namun di hentikan oleh pemilik mesjid itu.
"Tunggu Nak, mulai besok tas kamu taruh di rumah utama Bapak sepertinya dia mencurigai mu," kata bapak pemilik masjid.
"Baik, pak trimakasih," ucapnya lagi.
"Sama-sama, Nak," kata lelaki paruh baya itu.
Belvi menaiki motor sportnya, lalu menjalankan dengan pelan sampai keluar halaman masjid kemudian dipacu dengan cepat.
Beril mengendarai mobilnya mencari taksi yang katanya akan mengantar gadis berhijab, tiba-tiba di kejutkan laju motor sport yang sangat kencang dengan pengemudi mengenakan pakaian serba hitam jaket hitam yang membungkus tubuh dan hijabnya itu.
Dia pun berhenti sejenak dan melihat motor itu menghilang dari pandangannya dengan cepat.
__ADS_1
Akhirnya dia memutar kembali mobilnya dan kembali ke restorannya.