
Setelah percintaan pertama yang dahsyat, mereka begitu kelelahan, sehabis membersihkan diri dan sholat dhuhur merekapun tertidur saling berpelukan, hingga alarm handphone berbunyi menunjukkan jam tiga sore, Belvi terbangun tetapi malas untuk bangkit dari ranjang.
"Sayang kita pulang setela ini atau besok saja, apa kamu bisa jalan?" tanya Vino pada istrinya itu.
"Setelah ini saja aku lebih nyaman di tempat tinggal ku," kata Belvi.
"Baiklah kamu ambil air wudhu dulu sayang, aku mau keluar ambil sesuatu buat kamu," kata Vino yang langsung saja keluar dari kamar hotel.
Tak lama kemudian Vino kembali dengan paper bag dan di taruh di atas ranjang, "Dek, nanti pakai ini ya, ganti di sini saja nanti," perintahnya tak ingin di banta sambil berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan segera melaksanakan sholat ashar.
Setelah selesai, Belvi melihat apa yang ada di dalam paper bag itu, sebua gamis beserta hijab dan niqabnya, lalu mengambilnya dan memakainya di depan Vino, kemudian memakai hijabnya
Vino mengambil niqab dan memasangkan pada sang istri. "Mulai sekarang aku ingin kamu memakai ini jika berada di luar rumah, jika kau ingin tahu kenapa? Karena pertama, aku ingin hanya aku yang memandang kecantikanmu, kedua agar orang-orang yang terlibat dalam tugas penyamaran saat bertugas menjadi polisi, tidak bisa mengenal mu sebab itu sangat berbahaya buat diri mu, apa kau mau?" tanyanya pada Belvi, dan wanita itu mengangguk.
Tak berselang lama mereka meninggalkan hotel itu menuju apartemennya.
.
__ADS_1
.
.
Setelah hari itu kehidupan mereka di warna dengan kebahagiaan hingga dua minggu berikutnya saat pagi hari Belvi sedang akan membuat makanan, tiba-tiba saja di mual karena bau terasi, dia berlari di toilet dapur, Vino yang pulang dari masjid mendengar suara seseorang yang sedang muntah, dia berjalan menuju ara suara tersebut di melihat sang istri berada di kamar mandi tengah berjongkok mengeluarkan isi perutnya.
"Ada apa, sayang? Apa kau sakit? Jika kau sakit biar aku saja yang bikin sarapan, sayang," kata Vino.
"Aku tidak bisa mencium bau terasi tolong singkirkan!" pinta Belvi
Tak seberapa lama terdengar teriakan Vino. Sayang, sudah ku buang, kemari lah!" perintah.
Belvi mencuci mulutnya, dan membersihkan muntahannya lalu berjalan ke dapur dia melihat sang suami tengah memotong sayuran ayam dan menyiapkan bumbu di cobek kecil. "Duduk lah saja, sayang! Biar aku yang memasak dan kau nanti yang menilai seberapa lezatnya masakan ku," pintanya saat melihat sang istri masih berdiri melihatnya memasak.
Dia pun duduk sambil melihat sang suami membuat makanan untuk sarapan pagi mereka.
Nasi goreng sepesial telah tersaji di meja makan mereka makan bersama. Namun kali ini Belvi tidak berselera makan.
__ADS_1
"Kamu istirahat saja, sayang tidak usah masak pesan makanan online saja, aku berangkat dulu," pamit Vino pada istrinya.
Belvi mengangguk dan menurut lagipula badannya saat sangat lemas dan kepalanya begitu sakit.
Vino di dalam perjalanan dia berfikir tentang istrinya, dia sedang mengira-ngira istri itu mungkin sedang hamil, karena dia setiap malam selalu bercinta, mungkin saja tembaknya jitu. Dia mengemudikan mobil sambil tersenyum berharap apa yang di pikirkan akan terjadi dalam hidup dia sudah merindukan kehadiran anak.
sesampainya di kantor dia menelpon tante Raya menayakan tentang apa yang di alami Belvi, setelah mendapatkan penjelasan yang di inginkan dia pun mengakhiri pembicaraannya di telpon.
.
.
.
Sore harinya sepulang dari kantor dia menyempatkan diri untuk pergi ke apotek, dia berencana untuk menyuruh Belvi untuk mengunakan testpack ke esokan harinya jika mualnya masih berlanjut.
Vino menggendong sang istri masuk kedalam kamar setelah makan malam dan membaringkannya di ranjang. "Tidurlah jangan lakukan apapun aku yang akan mencuci piring, lihatlah wajahmu sangat pucat," katanya sambil mengecup kening sang istri lalu keluar kamar.
__ADS_1