
Hari berganti hari kehidupan Belvi bersama keluarga itu pun semakin bahagia setelah hadirnya Naila sebagai ibu sambungnya bahkan ketika sang bunda hamil setelah dua bulan pernikahan mereka.
Lima bulan telah berlalu Vino dan Belvi sudah lulus dari SMU dan Vino benar-benar mendaftar dirinya ke bintara dan Belvina pun juga sama, diam-diam dia mengikuti jejak Vino tanpa sepengetahuan pria itu, begitu dengan ayah dan ibu sambungnya tidak mengerti apa yang telah di rencanakan putrinya itu, bunda sambungnya menganggap keinginan sang Belvi adalah gurauan semata itu sebabnya dia tidak kawatir sama sekali, berbeda dengan Albert, dia sangat kawatir dengan putrinya itu, Pria itu ingin Belvi berhenti mengejar sesuatu yang tidak bisa dicapainya, entah Albert tidak tahu apakah sebenarnya Belvi menyukai pria bernama Vino itu terlepas dari kewajibannya untuk mewujudkan keinginan sang kakak untuk menjadi penggantinya untuk mencintai pria itu.
Belvi telah mengurus semua yang di perlukan untuk biasa menjadi bintara bahkan tes demi tes di lewati dengan sangat baik baik hingga akhir.
Begitu pula dengan Vino Hatinya sudah sangat bulat untuk masuk di kepolisian, dia merasa tak ada ikatan terpenting di hatinya selain keluarga, jika seandainya dia pulang sebagai jenasah, dia yakin, tidak akan ada yang terluka dan patah hati seperti dirinya saat ini.
Vino mengikuti berbagai tes untuk bisa menjadi seorang bintara dan dia pun berhasil melewatinya dengan sangat baik.
__ADS_1
Saat ini, dengan langkah tegap Vino keluar dari kantor kepolisian dengan membawa hasil kelulusan dan segera berangkat ke tempat pendidikannya esok lusa. Lelaki muda itu berjalan menuju motornya dan menaikinya lalu menjalankan dengan kecepatan sedang.
Setengah jam kemudian dia sampai ke rumahnya dan memakirkan motornya di garasi lalu masuk ke dalam tampak sang ayah tengah duduk di kursi meja makan sedang menikmati kopi hangatnya yang di buatnya sendiri sambil membaca laporan keuangan di Ipad-nya.
Vino berjalan mendekati sang ayah, lalu mengucapkan salam dan di jawab oleh pria itu sambil menoleh ke arah sang putra.
"Sudah pulang, bagaimana apa sudah kau pertimbangkan permintaan kakakmu agar kau kuliah di Boston, supaya kelak kamu kamu bisa menggantikan Ayah mengurus perusahaan," kata Haidar setelah putranya itu duduk di kursi bersebelahan dengannya.
"Tidak bisakah kau urungkan keinginanmu itu Vin, Ayah benar-benar sangat berharap engkau menggantikan ayah untuk mengurus perusahaan?" tanya Haidar setengah memohon pada putranya.
__ADS_1
"Maaf, Ayah," ucap Vino kembali.
"Baiklah tapi jangan menjadi polisi kriminal, tolonglah Vin, ayah ingin kau pulang dengan keadaan sehat seperti ini, berdiri tegap dan berjalan menghampiri Ayah dengan tersenyum," kata Haidar kepada putranya itu.
"Ayah percayalah aku akan baik-baik saja, jangan mencegahku atau pun menghalangi langkahku cukup doakan saja aku pulang dengan selamat, maaf aku tidak bisa menuruti keinginan Ayah, karena keinginanku ini lebih kuat," kata Vino pada Ayahnya lalu berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya, Haidar menatap sang putra dengan hati sedih karena tidak mampu membelokkan keinginan putranya itu.
.
Sementara itu itu di ruangan yang berbeda dengan Vino dan ditempat yang sama terlihat Belvi keluar dengan mengantongi kelulusan untuk pendidikannya sebagai bintara, dengan langkah pasti ia keluar dari ruangan dan berjalan menuju motornya.
__ADS_1
Setelah menaiki dan memakai helm dia pun melajukan motornya kejalan raya dengan kecepatan sedang menuju ke rumahnya, hari ini juga dia akan menyampaikan niatnya untuk masuk Bintara. Orang tuaku tak akan menghalangiku jika aku sudah di terima, pikirnya.