
Dua Minggu berlalu Belvi, Vino membawa istrinya kerumah sakit untuk memeriksakan Lukanya setelah mendapatkan beberapa pemeriksaan, Belvi di nyatakan sembuh dari lukanya. Vino tersenyum penuh arti pada istrinya sambil berbisik lirih.
"Tepati janjimu, sayang." Vino tersenyum penuh arti dan Belvi merona seketika, Mereka keluar dari ruangan dokter dan berjalan keluar dari rumah sakit.
Setelah sampai di area parkir rumah sakit mereka masuk ke dalam mobil lalu menjalankannya dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah sakit.
Vino mengemudi sambil melirik istrinya. "Vi, aku rasanya tidak sabar menunggu untuk pesta kecil, bagaimana kalau sekarang saja kita ke hotel?" tanyanya.
"Kenapa tidak menunggu malam saja sih Vin?" tanyanya sambil menoleh ke kaca jendela.
"Aku sudah gak kuat, Vi lihat pesonamu itu, apalagi aku tahu periode baru selesai kemarin itu artinya sekarang ini masa subur mu, Ayo lah, Vi! Aku sudah menunggumu lama," katanya sambil melirik sang istri.
"Aku tidak bawa hadiah mu itu Vin," jawab Belvi
"Ya gak apa-apa, Vi, tinggal aku belikan lagi," katanya tak lama kemudian dia memberhentikan mobilnya di sebuah butik.
"Tunggu di sini dulu ya," katanya sambil tersenyum lalu dia keluar dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam toko tersebut, Belvi memukul keningnya merutuki apa yang sudah dia katakan tadi. Tak lama kemudian terlihat Vino keluar dari toko dengan wajah yang ceria, tentu saja karena dia akan mendapatkan hadiah terindah dari sang istri.
Vino membuka pintu dan duduk di depan kemudi di serahkannya lima paper bag pada sang istri.
"Banyak sekali?" tanya Belvi
"Ya gak apa untuk ganti setiap hari," katanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ya itu maunya kamu Vin," kata Belvi.
Vino terkekeh. "Vi, kita itu memang sebaya, tetapi kita sudah menikah loh, apa salahnya kalau mengubah panggilan, aku panggil kamu, dik dan kamu panggil aku mas mulai sekarang."
Belvi tergelak. "Mas, aku harus panggil kamu mas, kok rasanya aneh ya."
"Kenapa? gak mau?" tanya Vino.
Belvi tertawa kembali,
"Bukannya gak mau, tapi belum terbiasa jadi kalau mengubah panggilan jadi lucu."
"Ya gak apa-apa, dek, lama-lama kan terbiasa," jawab Vino
Masih dengan membawa rasa kesal, Belvi berjalan masuk ke lift bersama Vino.
Pria itu pun melirik istrinya dan tersenyum. "Sayang, aku sudah menunggu lama loh, apa kau keberatan? Apa kita kembali saja, sayang?" tanya Vino dengan tatapan penuh kerinduan.
"Enggak, cuma ini kan masih jam sepuluh pagi, Mas?" tanya Belvi dengan panggilan barunya pada Vino.
"Untuk hal yang semacam itukan tidak harus malam sayang, pagi ataupun siang tidak jadi masalah," kekeh Vino.
Lift berhenti, dan mereka keluar dari lift berjalan bergandengan menuju kamar hotel mereka. Vino menempelkan Key card ke pintu dan terbuka.
__ADS_1
Mereka masuk kedalam kamar, Vino melepas sepatunya dan mengganti sandal hotel, dia menoleh pada sang istri kamu dulu apa aku nih yang ke kamar mandi?"
"Aku dulu saja," jawab Belvi.
"Baik yang ini di tinggal saja di sini dan yang itu di pakai ya, sayang," kata Vino sambil mengerlingkan matanya. Belvi tak menghiraukan segera masuk dalam kamar mandi dan keluar dengan baht robe.
Vino tersenyum dia segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu setelah itu, dia keluar dari kamar mandi dan menempati shafnya.
Mereka melakukan sholat sunah, setelah selesai Vino duduk menghadap Belvi, lalu wanita itu mencium punggung tangan Vino dan pria itu pun membalas dengan kecupan di kening Belvi lalu perlahan melepaskan mukena Belvi, terpampang lah keindahan di pakaian Belvi yang transparan.
Vino menatap istrinya penuh rasa ketertarikan yang amat sangat, boleh aku melakukannya sekarang?" tanya Vino pada Belvi. Perempuan itu mengangguk dan tersenyum malu.
Vino menangkup wajah Belvi dia melai mengucapkan doa lalu mengecup kening turun di kedua mata Belvi kemudian ke bibir indah wanita itu dengan sangat lembut semakin lama semakin menuntut, tangan Vino mulai bergerilya menyentuh tubuh diatas kain transparan yang membalut tubuh istrinya disela ciuman.
Vino menarik ke dua tali kecil di bahu belvi seketika gaun yang di pakai Belvi melorot hingga ke perut, Vino melepaskan tautan bibir dan menatap takjub keIndahan dada sang istri, wajah Belvi merona.
dengan sekali ayunan tubuh Belvi berpindah di ranjang dalam keadaan polos. Vino melucuti pakaiannya dan mulai mengungkung, mencumbu dan menyentuh di bagian tubuh istrinya yang terindah memberikan rangsangan agar sang istri nyaman, setelah yakin tubuh istrinya siap Vino pun melesakan miliknya kedalam lobang terindah yang istri terasa sulit untuk menembusnya saat sang istri merasa kesakitan dia pun membungkam istrinya dengan bibirnya. hingga terasa nyaman.
Perlahan Vino mendorong kemudian menghentak dengan keras sampai ke dasar, membuat sang istri terkejut dan kesakitan. Belvi ingin menjerit tetapi Vino segera membungkamnya dengan cium yang memabukan.
Vino diam beberapa saat memberikan kenyamanan Belvi setelah itu mengerakan tubuhnya sambil mencumbu sang istri dari leher turun ke dada Indah sang istri. Semakin lama gerakannya semakin liar juga cumbuannya membuat Belvi yang tadinya sakit terasa nikmat dan membuatnya melayang, rasa yang di timbulkan begitu nikmat membuat wanita itu mendesau, merintih dan mendesis hingga mereka mencapai puncaknya dan melenguh bersama, cairan hangat membasahi rahim sang istri. Vino jatuh keatas tubuh sang istri, dengan nafas yang masih memburu, di menyanggah tubuhnya kembali lalu mencium kening sang Istri.
"Terimakasih, sayang," ucapnya lalu di menggulir tubuhnya kesamping memeluk erat tubuh polos istrinya. Belvi hanya tersenyum dan mengangguk, sekarang dia sudah menjadi seorang wanita dan istri seutuhnya dari Vino Albinara.
__ADS_1